jurnalistik.co.id – Piala Dunia tidak pernah sekadar soal siapa yang menjadi juara. Di fase penutup turnamen, selalu ada dua laga besar yang memusatkan perhatian: satu menentukan trofi, sementara satu lagi menguji gengsi lewat perebutan tempat ketiga.
Pada Piala Dunia 2026, sorotan tak hanya diarahkan ke laga final antara Spanyol vs Argentina. Duel Perancis vs Inggris di pertandingan perebutan tempat ketiga juga menjadi bagian yang menarik untuk diikuti, karena mempertemukan dua tim yang gagal melangkah ke final setelah kalah di semifinal.
Meskipun laga ini tidak menentukan siapa yang berhak mengangkat gelar juara, pertemuan untuk meraih posisi terbaik ketiga tetap menyimpan nilai historis. Sejak turnamen pertama digelar, pertandingan perebutan peringkat ketiga hampir selalu dimainkan, dengan pengecualian di edisi 1930 dan 1950.
Bagi banyak negara, finis di posisi ketiga bukan sekadar angka di klasemen. Hasil itu menjadi penanda bahwa tim mereka termasuk di jajaran terbaik dunia, yakni sebagai tim peringkat ketiga. Selain medali, tim yang meraih tempat ketiga juga mendapatkan hadiah uang yang lebih tinggi dibanding tim yang harus puas di posisi keempat.
Kompetisi untuk memperebutkan tempat ketiga juga memiliki insentif dari sisi materi. Tim peringkat ketiga memperoleh hadiah sebesar 29 juta dolar AS, sedangkan tim peringkat keempat menerima 27 juta dolar AS.
Kenapa perebutan peringkat ketiga kerap berlangsung sengit
Secara tradisi, laga perebutan tempat ketiga sering menampilkan ritme permainan yang lebih terbuka. Sepanjang sejarah Piala Dunia, pertandingan di fase ini kerap diwarnai gol-gol dan momen-momen yang mudah diingat.
Berita Terkait
- Prediksi Skor Spanyol vs Argentina di Partai Final Piala Dunia 2026, Tim Mana yang Lebih Unggulan?
- Mbappe Sebut Rekor Golnya Bisa Terancam, Messi Diprediksi Cetak Gol di Final Piala Dunia 2026
- Didier Deschamps Akui Kesalahan Usai Prancis Takluk 4-6 dari Inggris dan Gagal Menang di Perebutan Peringkat Ketiga
Catatan statistik yang disebutkan menunjukkan dari 20 pertandingan yang telah dimainkan, rata-rata tercipta 3,80 gol setiap laga. Angka tersebut bahkan disebut menjadi salah satu yang tertinggi dibanding babak lain di Piala Dunia.
Dengan pola seperti itu, pertandingan untuk menentukan peringkat ketiga tidak berhenti pada rutinitas āsekadar laga penutupā. Tim yang bertanding biasanya tetap mengejar hasil maksimal, baik demi reputasi maupun untuk memastikan posisi terbaik yang mungkin diraih setelah tersingkir dari perebutan titel.
Rekor cepat dan ledakan gol
Di balik karakter pertandingan yang cenderung menghibur, laga perebutan tempat ketiga juga melahirkan berbagai rekor. Salah satu yang menonjol terjadi pada Piala Dunia 2002 ketika Hakan Sukur mencetak gol hanya dalam waktu 11 detik saat Turki menghadapi Korea Selatan.
Gol yang sangat cepat itu hingga kini disebut masih menjadi yang tercepat dalam sejarah Piala Dunia. Keberhasilan mencatatkan waktu sekilat itu memperlihatkan bahwa pertandingan perebutan posisi ketiga dapat menjadi panggung kejutan, bukan hanya penentuan formalitas.
Rekor lain juga datang beberapa tahun sebelumnya. Pada Piala Dunia 1958, Just Fontaine mencetak empat gol dalam laga perebutan tempat ketiga.
Rangkaian rekor tersebut menunjukkan bahwa pertandingan peringkat ketiga dapat menghadirkan dampak besar bagi pencatatan statistik sepanjang sejarah turnamen. Dari gol tercepat yang dicatat oleh Hakan Sukur hingga catatan empat gol oleh Just Fontaine, semua berangkat dari momen ketika dua tim sama-sama berupaya mengakhiri turnamen dengan hasil terbaik yang masih mungkin.
Karena itu, ketika Perancis vs Inggris dipertandingkan untuk perebutan tempat ketiga pada Piala Dunia 2026, perhatian wajar tidak hanya tertuju pada perebutan final. Laga untuk menentukan peringkat ketiga tetap menjadi bagian penting dari narasi Piala Dunia, baik dari sisi tradisi turnamen maupun dari potensi gol dan rekor yang pernah lahir di panggung yang sama.












