jurnalistik.co.id – Polisi mengungkap motif di balik pembunuhan seekor tapir di kawasan Register 45, Kabupaten Mesuji, Lampung. Peristiwa itu viral di media sosial setelah video penyembelihan beredar.
Kapolres Mesuji AKBP Muhammad Firdaus menyampaikan bahwa penyidik telah melakukan pemeriksaan sementara terhadap empat dari enam pelaku yang diduga terlibat. Dari hasil pemeriksaan tersebut, para pelaku mengaku memburu tapir (Tapirus indicus) semata-mata untuk dikonsumsi.
Firdaus menegaskan, menurut keterangan para tersangka, aksi tersebut tidak dilakukan untuk tujuan komersial. Mereka juga menyatakan tidak berniat memperjualbelikan hewan tersebut maupun menjadikannya konten media sosial.
Dalam penjelasan peran masing-masing, Firdaus menyebut adanya pembagian tugas saat peristiwa berlangsung. Ia menjelaskan bahwa proses pembunuhan melibatkan beberapa tahap, mulai dari pengejaran hingga penyembelihan.
“Perannya berbeda-beda. KS berperan menombak, WS mengejar tapir, TS menyembelih, sedangkan MPS merupakan pemilik golok yang digunakan dalam penyembelihan,” kata Firdaus, Jumat (3/7/2026).
Firdaus menyebutkan penyidik sampai tahap awal belum menemukan indikasi bahwa pembunuhan dilakukan untuk kepentingan jual-beli. Dengan kata lain, tidak ada bukti awal yang menunjukkan tapir diburu untuk dijadikan komoditas.
“Motifnya memang hanya diburu untuk dikonsumsi saja. Dari keterangan para pelaku, tidak ada motif lain,” ujar Firdaus.
Pengakuan tentang tujuan pembunuhan
Selain menilai motif, polisi juga menelusuri bagaimana rangkaian kejadian berlangsung hingga tapir akhirnya dibunuh. Keterangan yang dihimpun, menurut Firdaus, mengarah pada kebutuhan daging sebagai bahan makanan.
Di sisi lain, polisi tetap memperlakukan video viral sebagai bagian dari bukti yang akan dicermati. Namun, fokus penyelidikan berada pada apakah ada unsur lain di balik tindakan tersebut selain konsumsi.
Firdaus menyatakan pengakuan para pelaku menjadi landasan awal untuk memahami motif. Meski demikian, pihaknya menekankan bahwa pemeriksaan masih berjalan dan penyidik terus memperdalam informasi yang diterima dari lapangan.
Penyidik juga masih menelusuri kemungkinan keterkaitan pihak lain di luar enam pelaku yang diduga terlibat. Dalam tahap ini, proses penyelidikan diarahkan untuk memastikan kronologi peristiwa secara utuh.
Berita Terkait
Video yang beredar, menurut polisi
Firdaus meluruskan anggapan bahwa video penyembelihan sengaja dibuat oleh para pelaku supaya viral. Ia mengatakan, berdasarkan penyelidikan sementara, rekaman tersebut dibuat oleh warga yang berada di lokasi saat kejadian berlangsung.
Menurut Firdaus, warga kemudian menyebarkan video melalui media sosial hingga akhirnya ramai diperbincangkan. Karena itu, polisi menilai video viral bukan hasil rencana para pelaku.
“Video itu bukan sengaja direkam oleh para pelaku untuk dijadikan konten. Saat kejadian ada warga di lokasi yang merekam, kemudian videonya beredar luas,” kata Firdaus.
Seiring penyelidikan berlangsung, polisi juga akan memeriksa pihak-pihak yang berada di lokasi. Firdaus menyebut penyidik tengah mendalami rangkaian peristiwa, termasuk menelusuri keterangan saksi yang berada saat tapir dibunuh.
Langkah itu dilakukan untuk memastikan isi informasi yang beredar sejalan dengan fakta di tempat. Polisi akan mencocokkan berbagai keterangan agar tidak terjadi salah tafsir terhadap peran masing-masing pihak.
Pengakuan tidak mengetahui tapir dilindungi
Dalam proses pemeriksaan, para tersangka turut menyampaikan klaim lain terkait status satwa. Mereka mengaku tidak mengetahui bahwa tapir merupakan satwa yang dilindungi oleh undang-undang.
Firdaus menyatakan pernyataan tersebut tidak menghentikan proses hukum. Dengan kata lain, pengakuan ketidaktahuan tetap diproses dalam kerangka aturan yang berlaku.
“Para tersangka mengaku tidak mengetahui bahwa tapir merupakan satwa yang dilindungi. Namun, proses hukum tetap berjalan sesuai ketentuan yang berlaku,” tegasnya.
Polisi, kata Firdaus, akan meneruskan pendalaman perkara untuk memastikan seluruh unsur yang terkait dalam kasus tersebut. Pemeriksaan juga berorientasi pada pembuktian peran para pelaku sebagaimana telah dipetakan di awal, yakni KS, WS, TS, dan MPS.
Dengan motif yang diklaim sebatas konsumsi daging, polisi tetap akan menilai secara menyeluruh proses penyidikan. Hingga tahap lanjutan, pihak kepolisian memfokuskan pada verifikasi kronologi serta pemeriksaan saksi untuk melengkapi rangkaian peristiwa dari awal hingga akhir.











