Olahraga

F1 Q&A: Piastri usai perpanjangan kontrak Norris, penalti GP Italia Antonelli, Ferrari & Zandvoort

×

F1 Q&A: Piastri usai perpanjangan kontrak Norris, penalti GP Italia Antonelli, Ferrari & Zandvoort

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: F1 Q&A: Piastri after Norris deal, Antonelli's Italian GP penalty, Ferrari and Zandvoort

jurnalistik.co.id – Oscar Piastri memasuki jeda menjelang Grand Prix Italia dengan pertanyaan yang menumpuk: bagaimana dampak perpanjangan kontrak Lando Norris terhadap posisi dan performa pembalap asal Australia itu, serta apa artinya sejumlah keputusan penting di kubu Mercedes dan Ferrari.

Andrew Benson, koresponden BBC Sport F1, menjawab rangkaian pertanyaan terbaru pembaca tepat sebelum ronde ke-13 musim 2026. Meski Monza menjadi panggung bagi berbagai kepentingan, fokus utama tetap pada duel internal, strategi mesin, dan dinamika tim yang terasa di permukaan.

Norris dan kontrak baru: apa artinya untuk Piastri?

Di awal musim ini, Piastri tidak tampil sebaik kampanye sebelumnya. Setelah 12 putaran, ia berada di posisi ketujuh klasemen dengan tertinggal 55 poin dari rekan setimnya di McLaren, Lando Norris. Norris sendiri baru saja meraih kemenangan di dua grand prix terakhir, sementara Piastri hanya benar-benar tampil berada dalam adu kecepatan kemenangan saat balapan di Hungaria.

Situasi di McLaren memang terlihat lebih timpang jika dilihat dari hasil. Norris tercatat lebih unggul dalam catatan kualifikasi head-to-head dengan skor 12-4. Namun, Benson menekankan bahwa dari perspektif “sekali putaran”, selisih keduanya tidak terlalu besar: Norris hanya lebih cepat rata-rata 0,071 detik per satu lap.

Perbedaan lebih terasa pada sisi performa balapan. Di Hungaria, Piastri sempat memimpin setelah Norris melakukan kesalahan pada lap pertama. Tetapi balapan berbalik ketika Piastri kehilangan posisi karena tertahan saat harus melayani proses pelapisan (laping) terhadap Carlos Sainz yang mengendarai Williams. Benson juga mencatat bahwa andai Piastri bertahan lebih lama di depan, menahan laju Norris tetap mungkin sulit, karena pace Piastri pada ban keras dinilai lemah.

Dengan perkembangan itu, hasil pada akhirnya berubah ketika Piastri pensiun akibat kerusakan girboks. Di titik inilah, pertanyaan tentang “tensi internal” mengemuka, termasuk apakah ada masalah di belakang layar.

Menurut Benson, ada beberapa faktor teknis yang bisa menjelaskan perubahan ritme Piastri dibandingkan musim lalu. Salah satunya adalah karakter tikungan berkecepatan tinggi: Piastri memang selama ini kuat pada area tersebut, tetapi jumlah tikungan yang tergolong “grip-limited” berkurang tahun ini. Benson mengaitkannya dengan cara kerja mesin yang kerap digunakan untuk mengisi baterai, sehingga poin keunggulan potensial Piastri menurun.

Ia menambahkan bahwa mobil pada musim ini memiliki downforce yang lebih rendah dibanding tahun lalu. Dalam kondisi grip rendah, Piastri juga disebut kurang nyaman ketimbang Norris. Terakhir, Norris dinilai konsisten menaikkan levelnya sepanjang paruh kedua musim sebelumnya, hingga akhirnya keluar sebagai juara dunia, dan tren itu berlanjut sepanjang musim ini.

Untuk memperjelas sisi teknis tersebut, Benson mengutip pernyataan Andrea Stella. Dalam pandangannya, ketika mobil berada pada level grip yang rendah seperti yang terlihat di Meksiko atau Austin, Oscar perlu mengadaptasi cara mengemudi dan cara berpikirnya—sebuah proses yang meminta upaya mental. Stella menyebut bahwa adaptasi ini dapat membuat pembalap kehilangan “beberapa persepuluh detik” karena harus memproses situasi, bukan sekadar mengandalkan insting murni.

Stella juga menilai bahwa jarak di antara tiga tim teratas tidak jauh, sehingga ketika performa tidak teroptimalkan, konsekuensinya bisa sangat brutal terhadap posisi. Karena itu, Benson menyimpulkan bahwa apa pun ketertinggalan Piastri lebih tampak sebagai masalah teknis dan tuntutan mobil, bukan soal ruang psikologis.

McLaren dan Piastri sendiri menolak anggapan ada ketegangan hubungan. Walau demikian, Benson mengingat fakta bahwa McLaren pernah mencoba merekrut Max Verstappen pada musim panas ini. Jika opsi itu benar-benar terjadi, hampir pasti yang menjadi korban adalah Piastri. Tetapi peluang tersebut kini mereda setelah Verstappen mendapatkan kontrak baru bersama Red Bull.

Namun kontrak Verstappen dilengkapi klausul performa. Benson menambahkan kemungkinan lain: jika Red Bull mengalami kesulitan pada tahun berikutnya, McLaren bisa membuka lagi pembicaraan serupa. Untuk saat ini, Piastri berada di bawah kontrak setidaknya hingga akhir 2027 dan akan fokus untuk kembali ke performa yang diyakininya mampu dicapai.

Mercedes memilih penalti di Monza untuk Kimi Antonelli

Pertanyaan berikutnya datang dari kubu Mercedes dan rencana penalti grid untuk Kimi Antonelli di Italia. Mercedes bersikap terang bahwa Antonelli akan memasang mesin baru pada Grand Prix Italia di Monza, yang berimplikasi pada penalti grid signifikan dan kemungkinan besar membuatnya memulai dari posisi paling belakang.

Benson menjelaskan keputusan itu bukan diambil karena aspek “emosi” sebagai balapan kandang, melainkan karena realitas awal musim. Penolakan jumlah komponen mesin yang diizinkan membuat penalti—akibat melebihi batas engine parts—hampir tak terhindarkan. Mercedes menghitung bahwa Monza adalah pilihan terbaik untuk mengambil penalti tersebut.

Analisisnya dua lapis. Pertama, Monza memiliki lintasan lurus panjang sehingga peningkatan performa mesin baru dan selisih akibatnya lebih mudah diterjemahkan menjadi waktu putaran. Kedua, Mercedes menilai bagaimana mesin dalam “pool” bisa dimanfaatkan secara paling efektif sepanjang sisa musim.

Benar bahwa Antonelli masih nyaman di puncak klasemen kejuaraan dengan keunggulan 59 poin. Karena itu, ia bisa tetap tenang. Benson mengutip ucapan Toto Wolff yang menegaskan bahwa keputusan diambil berdasarkan perhitungan, bukan pertimbangan kebangsaan.

Wolff juga menyampaikan, ia tidak ingin mengejar yang “terbaik” hanya demi kepentingan publikasi atau narasi PR. Meski begitu, Antonelli tetap optimistis. Ia menyebut Monza memang balapan kandangnya, tetapi menurutnya ini tetap balapan yang tepat untuk dilakukan karena masih memberi peluang meraih hasil bagus dan mengumpulkan poin.

Dalam konteks yang sama, Benson mengingatkan bahwa George Russell kemungkinan besar juga akan menghadapi penalti pada waktu yang akan datang. Paling mungkin terjadi di Grand Prix Azerbaijan, dengan pertimbangan yang serupa seperti yang dialami Antonelli di Monza.

Ferrari dan “keputusan klinis” di tengah kedekatan menuju puncak

Pertanyaan tentang Ferrari berangkat dari dugaan apakah faktor emosional bisa mengganggu pengelolaan tim. Benson menjawab dengan mengaitkan konteks sengketa singkat Charles Leclerc dan tim pada Grand Prix Belanda. Saat itu, Lewis Hamilton mencoba mengejar posisi di tengah balapan dengan ban yang lebih segar, dan Ferrari memang mengambil keputusan untuk mengoptimalkan strategi balapan.

Benson menegaskan bahwa Ferrari tidak bertindak dengan asumsi “memihak secara emosional”. Tim menerapkan kebijakan kesetaraan antara dua pembalapnya, dan hanya akan mendahulukan salah satu jika kepentingan tim memang jelas—terutama jika kemenangan menjadi taruhan.

Dalam klasemen kejuaraan, Hamilton berada 59 poin di belakang Antonelli. Leclerc tertinggal 28 poin dari Antonelli (saat mengacu pada jarak ke sang pembalap tujuh kali juara), hanya terpaut empat poin lebih jauh dari Lando Norris. Catatan kemenangan keduanya juga sama-sama satu kali, dan pertarungan kualifikasi Hamilton-Leclerc dianggap sangat ketat.

Benson menambahkan angka pembanding yang sering dipakai untuk menilai rivalitas: pada balapan yang memungkinkan perbandingan yang adil, Hamilton unggul 9-7 atas Leclerc. Namun di sisi kecepatan rata-rata, Leclerc disebut sedikit lebih cepat, dengan selisih 0,053 detik.

Benson kemudian menolak premis bahwa Ferrari akan membiarkan kedekatan historis dengan Leclerc mengubah keputusan manajemen secara sadar. Ia mengingat peran Frederic Vasseur yang justru menjadi kunci proses hingga Hamilton bergabung ke Ferrari untuk tahun 2025, sekaligus menekankan bahwa hubungan Vasseur dengan kedua pembalap telah terjalin lama. Dengan demikian, Benson menilai tidak logis menarik kesimpulan bahwa emosi otomatis akan mengalahkan pendekatan manajerial.

Zandvoort: peluang kembali masuk kalender dinilai kecil

Di akhir sesi, ada pertanyaan mengenai sirkuit Zandvoort yang kembali ditarik dari kalender untuk kedua kalinya. Benson menjawab bahwa di Formula 1, orang belajar untuk tidak pernah mengatakan “tidak akan pernah”, tetapi peluang Zandvoort kembali dalam waktu dekat tampak jauh.

Ia mengulas bahwa keberadaan grand prix di Zandvoort sangat terkait dengan popularitas Max Verstappen. Penyelenggara dinilai berhasil menggelar balapan di lintasan yang punya banyak tantangan logistik—baik dari lokasi maupun fasilitas—dan tetap membuatnya berjalan secara finansial selama periode yang cukup panjang.

Dengan mempertimbangkan semua aspek tersebut, kesimpulan Benson adalah bahwa meski sejarah Zandvoort menunjukkan kemampuan penyelenggaraan yang baik, keputusan untuk kembali ke kalender tidak terlihat realistis untuk periode terdekat.