jurnalistik.co.id – Shahid Afridi menilai perubahan besar yang dilakukan Pakistan ketika menjalani tur di Inggris sebagai keputusan paling mengejutkan yang pernah dibuat komite seleksi.
Mantan kapten itu menyoroti langkah Pakistan yang melakukan rotasi menyeluruh pada skuad, termasuk jajaran pelatih, jelang pertandingan berikutnya melawan Inggris.
Pakistan menjatuhkan tujuh pemain dan memanggil lima pemain yang belum berpengalaman di level Tes, sementara Sarfaraz Ahmed serta asisten Umar Gul disingkirkan.
Afridi, yang pernah menjadi bagian dari tim Pakistan yang meraih gelar World Twenty20 2009, menyampaikan penilaiannya lewat media sosial.
Keputusan di jajaran pelatih tersebut kemudian diisi oleh pelatih limited-overs Mike Hesson dan mantan bowler cepat Ashley Noffke.
Langkah itu muncul setelah Pakistan dipukul telak pada dua Tes pembuka, sebelum mereka bersiap menghadapi laga ketiga sekaligus penutup seri di Edgbaston.
Pertandingan di Edgbaston dijadwalkan pada Rabu, 9 September.
Dalam unggahan di media sosial, Afridi menulis, “Not sure what is the logic or reasoning behind this decision!” Ia juga mempertanyakan masuknya sejumlah pemain dari format T20 untuk sebuah pertandingan Tes di Inggris.
“Even the replacements make no sense – T20 players have been included for a Test match in England? What is this thinking and approach? Why has the coach been axed after five Test matches?” lanjut Afridi.
Menurut Afridi, keputusan tersebut adalah, “This is the most shocking decision ever by a selection committee which includes so many experienced selectors.” Kritiknya berfokus pada proses seleksi yang dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan tim.
Dari sisi komposisi pemain, lima dari tujuh nama yang dicoret sejauh ini telah tampil dalam rangkaian seri. Mereka adalah Muhammad Rizwan, Imam-ul-Haq, Salman Ali Agha, Ali Usman, dan Khurram Shahzad.
Berita Terkait
Sementara itu, Aamir Jamal dan Muhammad Awais Jafar dipulangkan tanpa kesempatan bermain.
Total, Pakistan memanggil tujuh pemain baru. Di antaranya, dua peraih pengalaman Tes sebelumnya, Saim Ayub dan Abdullah Fazal, bergabung dengan lima pendatang yang belum pernah menjalani level Tes.
Panggilan komposisi baru juga mencakup Arafat Minhas sebagai spin-bowling all-rounder, Mohammed Imran Jr sebagai fast bowler tangan kiri, serta Said Baig sebagai penjaga gawang.
Selain itu, Mohammad Imran dan Razaullah didatangkan sebagai all-rounder.
Reaksi senada datang dari Ramiz Raja. Ia mengatakan, “I’m trying to convince myself this is all OK, but it is not. It just shows Pakistan cricket has hit a panic button.”
Ramiz Raja menilai pergantian yang berlangsung cepat memberi kesan Pakistan mengambil langkah panik ketika menghadapi tekanan di tur ini.
Di luar dinamika lapangan, Pakistan juga dijadwalkan bertemu Raja Charles di Clarence House pada pekan ini. Pertemuan itu direncanakan sebelum seri melawan Inggris dimulai.
Rencana tersebut tetap berjalan meski rangkaian Tes kedua sempat berpotensi berakhir lebih cepat dan menyentuh kontroversi pada momen tertentu.
Pada makan siang hari pertama, PCB mengancam membatalkan sisa pertandingan dan tur. Pemicu ancaman itu adalah wawancara dengan putra-putra Imran Khan yang ditayangkan oleh Sky.
Imran Khan, mantan kapten Pakistan sekaligus perdana menteri, sedang menjalani hukuman sejak tiga tahun terakhir atas tuduhan korupsi—meski ia membantah tuduhan tersebut.
Pakistan akhirnya tetap menyelesaikan Tes tersebut. Baik kapten Babar Azam maupun Sarfaraz Ahmed, dalam kapasitas sebagai pelatih kepala, menyatakan tidak mengetahui adanya rencana boikot.












