jurnalistik.co.id – Suasana di Royal Birkdale menjelang final Open 2026 terasa semakin dekat, bahkan dari hal-hal kecil yang menempel di bus shuttle untuk penonton.
Di beberapa unit transport itu, Tommy Fleetwood terlihat memegang Claret Jug—sebuah gambar yang diketahui berbasis AI, tetapi gagasannya sangat nyata di benak pemain 35 tahun tersebut.
Fleetwood sudah lama membayangkan momen memungut trofi kebanggaan itu, sejak ia masih kecil di Southport.
Ia bahkan pernah menyelinap melewati pagar ke area lapangan yang ikonik itu sebagai bagian dari keinginannya menyaksikan—dan kemudian suatu hari merasakan sendiri—apa arti kemenangan di Royal Birkdale.
Namun, kenyataan per hari Sabtu membuat harapan itu sedikit bergeser. Sejumlah bogey di bagian akhir ronde ketiga membuat perjalanan Fleetwood terhenti sementara pada skor 69.
Hasil itu membuat Fleetwood tertinggal lima pukulan dari pemimpin klasemen, Sam Burns, menjelang putaran final.
Burns tampil meyakinkan di ronde ketiga dengan membukukan lima-under 65, sekaligus memperbesar posisinya di puncak.
Pada saat para pemain bersiap menuju hari Minggu, Burns unggul dua pukulan atas Ryan Fox dari Selandia Baru serta Kim Si-woo dari Korea Selatan.
Di sisi lain, perhatian juga tertuju pada Bryson DeChambeau yang tetap berada di dalam pertarungan karena menorehkan one-under 69 pada ronde tersebut.
Meski demikian, DeChambeau berada empat pukulan di belakang Burns, setelah pada Jumat lalu dua pukulannya “dipotong” secara dramatis—sebuah momen yang kembali mengingatkan bahwa Open bisa berubah dalam hitungan aksi.
Dengan dinamika seperti itu, DeChambeau menjadi satu-satunya pemain di dalam kelompok 10 besar yang memiliki pengalaman meraih kemenangan turnamen mayor, dan hal itu menambah bobot setiap putaran yang tersisa.
Berita Terkait
Garis besar lomba yang rapat membuat “open Open” menuju penutup hari Minggu tetap terbuka lebar, meski Fleetwood belum lepas dari target utamanya.
Bagi Fleetwood, ukuran pencapaian itu bukan sekadar soal trofi. Sebagai tuan rumah favorit, ia mengincar menjadi pemain Inggris pertama yang meraih Open Championship di tanah Inggris sejak Tony Jacklin pada tahun 1969.
Ia menyadari bahwa kesempatan seperti ini tidak datang berkali-kali, tetapi ia juga tak pernah benar-benar berhenti memikirkan cara mewujudkannya.
“Saya sudah melakukannya hampir setiap hari sejak saya berusia tujuh tahun, dan itu belum berhenti,” kata Fleetwood.
“Begitulah hidup, bukan? Anda berkhayal dan memimpikan hal-hal terbesar yang mungkin. Lalu Anda mencoba membuatnya menjadi kenyataan.”
Meski tantangan pada Sabtu membuat jarak di klasemen bertambah, kata-kata Fleetwood menegaskan bahwa ambisinya tidak padam hanya karena satu hari tidak berjalan sesuai rencana.
Dalam situasi klasemen yang rapat—dengan Burns memimpin, Fox dan Kim menguntit di belakang, DeChambeau tetap mengincar momentum, dan Fleetwood masih berada dalam radius persaingan—final Open di hari Minggu berpotensi menghadirkan perubahan besar.
Dengan demikian, meski mimpi Fleetwood sempat “terancam” oleh bogey-bogey larut di Birkdale, peluangnya untuk mengubah cerita tetap ada, sementara turnamen memasuki fase paling menentukan.
Di tengah sorotan penonton dan drama yang terus bergulir, perhatian pada Fleetwood juga ikut menguat karena ia datang dengan narasi yang panjang: dari bayangan sejak kecil, sampai keyakinan bahwa kemenangan memang bisa dibangun lewat hari demi hari.
Ronde Sabtu menjadi pengingat bahwa satu momen kecil dapat menggeser ritme bahkan bagi pemain yang paling akrab dengan lapangan. Ketika perolehan bogey menahan lajunya di akhir permainan, jarak yang semula terbuka kini berubah menjadi pekerjaan besar untuk dikejar menjelang hari Minggu.
Namun, justru karena peta persaingannya masih rapat—Burns di puncak, Fox dan Kim yang menempel, DeChambeau yang masih mengejar momentum, serta Fleetwood yang belum keluar dari jangkauan—final Minggu berpeluang menghadirkan perubahan arah. Bagi Fleetwood, targetnya tetap satu: mengunci sejarah sebagai pemain Inggris pertama yang membawa trofi di tanah Inggris, seperti jejak yang pernah ditinggalkan Tony Jacklin pada 1969.












