jurnalistik.co.id – Penelusuran rahasia yang dilakukan pengawas independen keamanan Inggris menyimpulkan MI5 sudah mengetahui seorang âagenâ yang dibelanya di pengadilan merupakan pelaku pelecehan beraliran misoginis dan memiliki ketertarikan pada kekerasan.
Dalam temuan yang kini dapat dilaporkan, watchdog MI5âOffice of the Investigatory Powers Commissioner (IPCO)âmenyebut ada âserious failingsâ dalam cara dinas itu mengelola sosok yang selama ini dijaga anonimitasnya, dikenal publik sebagai Agent X.
Pembukaan informasi ini muncul setelah BBC lebih dulu mengungkap bagaimana MI5, menurut BBC, menutupi dan membela pria neo-Nazi informan yang diketahui sebagai Agent X.
IPCO meluncurkan pemeriksaan setelah BBC melaporkan pada 2022 bahwa MI5 pernah berusaha membendung investigasi terhadap Agent X melalui jalur hukum, yang akhirnya gagal, sementara pria itu tetap memperoleh perlindungan anonimitas.
Menurut catatan BBC, insiden itu berawal dari pelaporan awal BBC tentang bagaimana Agent X menggunakan statusnya untuk mengendalikan secara koersif pasangan wanitanya, termasuk melakukan serangan menggunakan machete ketika pria tersebut masih dalam penyelidikan.
Setelah penyelidikan tersebut, Agent X pindah ke luar negeri untuk melanjutkan kerja intelijen, meski proses hukum terhadapnya masih berlangsung.
Dalam perjalanannya, IPCOâyang mengawasi penggunaan kekuasaan investigasi terselubung termasuk oleh lembaga intelijen Inggrisâmenyusun simpulan bahwa MI5 seharusnya melakukan peninjauan ulang kelayakan Agent X sebagai agen setelah melihat indikasi kuat adanya pola perilaku berbahaya.
âOpenly misogynisticâ dan indikasi ketertarikan pada kekerasan
IPCO menyatakan ada âStrong indicationsâ bahwa Agent X menunjukkan minat pada kekerasan. Indikasi itu bahkan mencakup rekaman video ketika ia mengancam kekasihnya dengan machete.
Namun, temuan IPCO menyebut tidak ada peninjauan semestinya oleh MI5 terhadap kecocokan Agent X sebagai agen, dan pengawas menilai tindakan itu seharusnya dilakukan.
IPCO juga menegaskan bahwa Agent X dipandang âopenly misogynisticâ dalam interaksi dengan para penangan (handlers) MI5. Selain itu, pengawas menyebut MI5 mengetahui bahwa ia terlibat dalam gerakan âpick up artistryâ yang bertujuan mengeksploitasi perempuan untuk seks.
Menurut IPCO, pengetahuan tersebut tetap tidak mendapat perhatian memadai dari para handlers. IPCO menyebut ada âlack of sufficient professional curiosityâ yang dinilai kurang dalam menilai risiko yang melekat pada Agent X.
IPCO menambahkan bahwa MI5 mengetahui Agent X âwas âobsessedâ with violenceâ bukan hanya karena indikasi yang muncul, tetapi juga karena pria itu sendiri memberitahukan hal tersebut kepada mereka.
Pengawas juga menyebut ada indikasi potensi ancaman kepada pihak lain yang âarising from his general interest in extreme violenceâ, sehingga seharusnya memicu respons kehati-hatian yang lebih kuat.
Dalam pernyataannya kepada BBC, IPCO menyatakan pemeriksaan menemukan âserious failings in MI5âs management of Agent Xâ dan karena itu memerintahkan MI5 mengambil langkah untuk menanggulangi kekurangan tersebut.
IPCO menyebut MI5 kemudian âmade significant changes to its policies, practices and proceduresâ, yang telah diuji lewat pemeriksaan lanjutan. IPCO menegaskan pengawasan akan tetap berlanjut melalui program inspeksi yang ketat.
MI5 dinilai menyesatkan IPCO dan memberi keterangan keliru
IPCO menyatakan pemeriksaanâyang dinyatakan berakhir pada 2024âjuga menemukan bahwa MI5 menyesatkan IPCO mengenai penerapan kebijakan rahasia inti âneither confirm nor denyâ terhadap status Agent X sebagai agen saat berkomunikasi dengan BBC.
IPCO menilai kenyataannya, MI5 telah memberi tahu BBC bahwa Agent X adalah agen pada upaya awal di tahun 2020 untuk mencegah BBC melanjutkan investigasi.
Berita Terkait
Pengawas menambahkan bahwa MI5 juga âgave false evidence to three courtsâ terkait poin tersebut, sehingga memicu investigasi lanjutan dari IPCO yang dijadwalkan melapor kepada perdana menteri âimminentlyâ.
Dalam pemeriksaan, IPCO menyebut tidak menemukan bukti dalam âcase recordsâ yang mengindikasikan MI5 menyadari adanya motif terselubung dari Agent X untuk menjadi agen.
Dokumen laporan inspeksi kini telah dibuka kepada BBC melalui proses perkara hukum yang sedang berjalan, karena pengadilan segera perlu mempertimbangkan tindakan yang harus diambil menyangkut âfalse evidenceâ itu.
Dokumen internal MI5: âdisaster for everyoneâ
Selain itu, laporan BBC juga mengutip isi satu dokumen MI5 yang bersifat internal, berupa wawancara dengan kepala tim yang menangani Agent X.
Di dokumen tersebut, petugas MI5 menyebut, âThis whole case has been a disaster for everyone, and on reflection, we shouldn’t have touched him [X] as a CHISâ.
Ungkapan itu menekankan bahwa pada refleksi internal, penggunaan Agent X sebagai âcovert human intelligence source (CHIS)â dipandang sebagai kesalahan serius.
Untuk pertama kalinya, pemerintah juga secara terbuka menerima bahwa Bethâmantan pasangan Agent Xâmengalami penyalahgunaan, setelah bertahun-tahun berupaya menantang klaimnya di pengadilan.
Ketika sengketa hukum awal pada 2022 berlangsung, pemerintah saat itu mencoba meragukan dalil BBC dengan menyatakan kasus BBC bersandar pada âfoundations that are anything but solidâ dan mengklaim ada âreal doubt about the reliability, credibility and motivation of Bethâ.
Dalam pernyataan baru kepada BBC, juru bicara pemerintah mengatakan, âThe abuse suffered by the woman in this case, known as Beth, was abhorrent and we extend our sincere sympathies to her.â
Pernyataan itu juga menegaskan bahwa âThe use of agents is fundamental to MI5’s ability to keep the UK safeâ, dengan argumen bahwa pekerjaan tersebut diatur oleh legislasi dan pengawasan ketat IPCO, serta MI5 memiliki prosedur untuk mengelola risiko yang timbul saat bekerja dengan CHIS, terutama ketika ada potensi bahaya terhadap individu.
IPCO menyatakan prosedur itu telah diperbarui seiring pembelajaran dari kasus yang sama.
Lebih awal tahun ini, MI5 membayar kompensasi kepada Beth untuk menyelesaikan klaim hak asasi manusia yang ia ajukan, tanpa pengakuan tanggung jawab hukum.
Dalam wawancara pertamanya setelah pembayaran kompensasi tersebut, Beth mengatakan ia merasa âgaslitâ oleh MI5. Beth menuturkan, âThey can’t be trusted because they’ve already lied in court and painted me out to look a certain way and made me feel like I didn’t have a voice or a valid story, but they have now done a 360-degree turn and paid compensation.â
Ia menambahkan bahwa ia ingin ada pengakuan penuh. Beth menyatakan, âI’d like to see a full apology from MI5 for the ways in which they portrayed me.â
Saat MI5 membayar kompensasi, direktur jenderal MI5, Sir Ken McCallum, meminta maaf atas tekanan yang mungkin timbul akibat âmistakes in the litigationâ, namun ia tidak langsung meminta maaf terkait bagaimana Beth digambarkan dalam proses hukum.
Beth juga menggambarkan perjuangan melawan perkara itu sebagai pengalaman yang melelahkan, menyebut pertarungan hukum âhad been absolutely debilitating at times with the level of trauma and flashbacks it’s causedâ.
Dengan demikian, temuan IPCO menyoroti dua dimensi sekaligus: penilaian kelayakan dan manajemen internal terhadap seorang agen yang dinilai memperlihatkan tanda kekerasan serta misogini, dan kesesuaian informasi yang diberikan MI5 dalam pengawasan serta persidangan.
IPCO kini menempatkan MI5 di bawah pengawasan lanjutan untuk memastikan perubahan kebijakan yang disebut âsignificantâ benar-benar diterapkan, diuji, dan mengurangi risiko serupa di masa depan.












