jurnalistik.co.id – Penipuan terkait pasokan Alat Pelindung Diri (APD) Covid-19 terbukti berujung pada pengeluaran uang untuk gaya hidup mewah, mulai dari mobil hingga jam tangan. Keputusan itu dijatuhkan pada 21 Agustus mendatang setelah para pelaku dinyatakan bersalah di Leicester Crown Court.
Jogesh Bhandari (59) dan Craig Morris (43) dinyatakan bersalah pada Rabu di Leicester Crown Court. Mereka dijatuhi putusan setelah persidangan atas dua dakwaan konspirasi melakukan penipuan dengan pemberian keterangan palsu, serta tindakan menyembunyikan dan memindahkan properti hasil kejahatan.
Dalam perkara terpisah, Meenakashi Bhandari (48) juga dinyatakan bersalah atas tindak menyembunyikan dan memindahkan properti hasil kejahatan. Ketiganya terhubung melalui persekongkolan dalam skema yang menarget bisnis dan pihak terkait selama pandemi.
National Crime Agency (NCA) menyatakan kelompok ini mengaku mampu memasok jutaan kotak sarung tangan nitril. Namun, uang yang diperoleh dari klaim tersebut tidak diarahkan pada pengadaan yang dijanjikan, melainkan dialihkan untuk berbagai kebutuhan lain.
NCA menyebut catatan perbankan menunjukkan Jogesh Bhandari dan istrinya, Meenakashi Bhandari, yang berdomisili di Mitchell Drive, Loughborough, Leicestershire, menggunakan dana untuk membeli Rolex, perhiasan, paket liburan, dan sejumlah kendaraan. Menurut NCA, Jogesh membelanjakan £126.000 untuk sebuah Porsche baru, sementara uang lain digunakan untuk renovasi dapur.
Pengadilan juga menyoroti peran Jogesh dalam membangun operasional usaha. NCA mengatakan Jogesh memiliki dan mengendalikan sebuah perusahaan yang didirikan pada 2020 untuk membeli dan menjual sarung tangan nitril, sedangkan Morris ikut terlibat dalam sejumlah transaksi penipuan pada 2020 dan 2021.
Untuk meyakinkan calon mitra, NCA menyebut Jogesh memasok dokumen yang dipalsukan. Di antara yang disebutkan adalah laporan bank yang menunjukkan angka hingga $125 juta, serta surat pernyataan (letters of attestation) untuk mendorong bisnis agar tetap bekerja sama dengannya.
Pesan WhatsApp yang memperlihatkan dinamika skema
NCA juga memaparkan adanya 47.000 pesan WhatsApp antara Jogesh dan Morris. Dalam salah satu pesan, Morris menulis: “All over the news is all about ppe shortage. Let’s clean up!! Milk it… fill ya boots.”
Jogesh kemudian membalas dengan nada persetujuan. Ia menulis: “(Thumbs up) it’s about a good teamwork and EVERYONE making money.”
Dalam pesan lainnya, Jogesh mengirim gambar sebuah Rolls-Royce kepada Morris dan menyertakan pernyataan: “But if I want one of these then we need to keep going.” NCA menyatakan Morris sempat mengharapkan pembayaran rutin sebesar £5.000 dari Jogesh sebelum hubungan keduanya memburuk di akhir 2021.
Berita Terkait
Selain pengungkapan pesan, NCA menyebut para terdakwa ditangkap pada Februari 2023. Sejak saat itu proses hukum berjalan hingga akhirnya menghasilkan putusan bersalah pada Rabu, dengan jadwal hukuman pada 21 Agustus.
Peran escrow dan aliran dana dalam skema
NCA menyatakan Jogesh bekerja sama dengan Frank Labruzzo, seorang asisten jaksa agung dari Louisiana State Department of Justice di Amerika Serikat. Menurut NCA, Labruzzo menyediakan layanan escrow yang diduga palsu, yakni rekening bank yang menahan dana sampai kondisi yang telah disepakati terpenuhi.
NCA menyebut bahwa penipuan dimulai pada November 2020 ketika Jogesh menyetujui kesepakatan untuk menyediakan 12 juta kotak sarung tangan. Dalam kesepakatan itu, perusahaan yang dikelola Jogesh membayarkan uang ke rekening escrow.
Namun, menurut NCA, alih-alih menunggu dana tetap berada di escrow hingga kesepakatan selesai, dana justru segera dibayarkan kepada Labruzzo dan Jogesh. Sekitar sebulan kemudian, Jogesh menerima tambahan $2,7 juta ke rekening yang sama, sementara hampir $500.000 ditarik untuk melunasi utang milik Jogesh dan istrinya.
Pada awal 2021, NCA mengatakan Jogesh memperoleh lebih dari $3,18 juta atas pesanan sarung tangan nitril yang diklaim akan dikirim ke rumah sakit di AS, tetapi tidak pernah tersalurkan. Dalam kesepakatan terakhir, NCA menyebut Jogesh menerima $1,35 juta langsung ke rekening bisnisnya, sebelum kemudian mengirim £200.000 kepada Morris dan membeli Porsche baru.
Penilaian NCA: terjadi saat permintaan APD memuncak
Paul Boniface, operations manager di NCA, menyampaikan bahwa perbuatan tersebut terjadi pada masa permintaan APD melonjak tajam. Ia menyatakan: “All of this activity occurred at the height of the pandemic where the demand for PPE went through the roof.”
Boniface menambahkan bahwa para pelaku memanfaatkan kerentanan yang muncul di tengah kebutuhan tersebut untuk memperoleh keuntungan finansial. Ia mengatakan: “Bhandari and his co-conspirators capitalised on these vulnerabilities by exploiting people and businesses for their own financial gain, paying for lavish lifestyles of luxury cars and significant home improvements.”
Lebih lanjut, Boniface menegaskan dampak penipuan semacam ini dapat merugikan pihak yang seharusnya menerima bantuan. Ia menyampaikan: “Fraud like this diverts essential equipment away from genuine organisations and the effects are far reaching, beyond immediate losses for the legitimate businesses involved.”
NCA juga menyebut Labruzzo, bersama satu orang lain, telah dinyatakan bersalah di Amerika Serikat. Dengan putusan yang telah dijatuhkan, para terdakwa kini menunggu proses hukuman pada 21 Agustus.












