Bisnis & Ekonomi

Penjual Kulit Ketupat di Pal Merah Curhat, Baru 500 Butir Terjual dari 3.000 Tahun Lalu

0
×

Penjual Kulit Ketupat di Pal Merah Curhat, Baru 500 Butir Terjual dari 3.000 Tahun Lalu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Curhat Penjual Kulit Ketupat saat Idul Adha: Tahun Ini Jual 500 Butir, Turun dari 3.000 Butir Tahun Lalu

jurnalistik.co.id – Penjual kulit ketupat di kawasan Pal Merah, Jakarta Barat, mengeluhkan sepinya pembeli pada Idul Adha 2026. Dibandingkan tahun lalu, penjualan mereka dinilai jauh lebih rendah dan belum menunjukkan pergerakan yang menggembirakan meski hari raya sudah memasuki masa puncak permintaan.

Salah satu pedagang, Yadi (54), mengatakan penjualan kulit ketupat miliknya tahun ini jauh tertinggal dari capaian pada Idul Adha tahun sebelumnya. Hingga Rabu (27/5/2026), ia menyebut baru 500 butir yang terjual dari lapaknya.

“Dari kemarin itu baru habis 500 butir,” ujar Yadi saat ditemui di kiosnya, Rabu (27/5/2026). Menurut dia, angka itu masih jauh dari penjualan pada Idul Adha tahun lalu yang bisa mendekati 3.000 butir.

Yadi mengaku kondisi tersebut membuatnya heran. Ia merasa penjualan tahun ini berjalan lebih lambat dan tidak seramai yang ia harapkan. “Tahun kemaren mah mendingan, tahun ini menurun,” kata dia.

Ia menduga ada sejumlah faktor yang membuat pembelian kulit ketupat ikut melemah. Salah satunya adalah cuaca hujan yang terus turun, sehingga orang cenderung enggan keluar rumah. Selain itu, ia juga menyinggung kondisi ekonomi masyarakat yang menurutnya ikut memengaruhi daya beli.

“Saya juga bingung (kenapa sepi). Mungkin karena hujan terus juga, orang jadi malas keluar. Atau karena ekonomi juga lagi susah,” ucapnya.

Meski penjualan lesu, Yadi tetap menyiapkan stok untuk hari terakhir penjualan. Hari itu ia kembali membuat 100 butir kulit ketupat agar masih ada persediaan bagi pembeli yang datang belakangan. Untuk menarik minat konsumen, ia juga menurunkan harga jual dari sebelumnya.

Sebelum hari terakhir penjualan, Yadi menjajakan kulit ketupat sekitar Rp 7.000 per ikat yang berisi 10 butir. Namun, pada momen itu ia mulai menjualnya dari Rp 5.000 per ikat. “Sekarang mah Rp 5.000-an per ikat karena sudah hari terakhir kan,” ujar dia.

Di luar musim Idul Adha dan Idul Fitri, Yadi sehari-hari bekerja membuat dekorasi berbahan janur kelapa untuk acara hajatan dan pernikahan. Penjualan kulit ketupat hanya menjadi usaha tambahan yang ia jalani saat dua hari raya besar tersebut tiba.

Pedagang lain, Among (62), menyebut situasi penjualan kulit ketupat tahun ini cenderung bertahan di kisaran yang tidak jauh berbeda dari awal penjualan, meski stok mulai menipis. Ia berjualan di kios yang sama dengan Agus (50).

“Penjualan dari Senin-Selasa ini 3.000-an butir. Ini tinggal 500 butir paling sisa,” kata Among.

Among mengatakan pembeli biasanya masih berdatangan setelah pembagian daging kurban selesai. Menurut dia, masyarakat umumnya baru membuat ketupat setelah menerima daging kurban, sehingga permintaan sering muncul belakangan.

Harga jual kulit ketupat yang ditawarkan Among berada di kisaran Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per ikat berisi 10 butir. Ia menjelaskan harga bisa berubah sesuai kondisi barang serta hasil tawar-menawar dengan pembeli.

“Kalau sudah sisa-sisa karena lebaran hari ini, yang daunnya sudah agak loyo, bisa Rp 5.000 per ikat,” ujar dia. Dengan kondisi seperti itu, para pedagang di Pal Merah masih berharap sisa stok bisa habis sebelum momentum Idul Adha benar-benar berlalu.

Kondisi itu membuat para pedagang memilih bertahan dengan strategi yang serba hati-hati. Mereka tidak ingin menumpuk stok terlalu banyak, tetapi juga belum mau benar-benar menutup lapak sebelum peluang terakhir lewat. Bagi mereka, sisa waktu menjelang hari terakhir penjualan masih tetap dianggap penting untuk menghabiskan barang yang sudah disiapkan.

Di tengah sepinya pembeli, para pedagang tetap menaruh harapan pada arus konsumen yang datang menjelang penutupan. Mereka menilai permintaan bisa saja bergerak lebih baik saat orang mulai menyiapkan kebutuhan rumah setelah pembagian daging kurban selesai. Karena itu, meski penjualan belum sesuai harapan, lapak-lapak kulit ketupat di Pal Merah masih terus dibuka sambil menunggu pembeli yang datang terlambat.