jurnalistik.co.id – Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), subholding Power & New Renewable Energy Pertamina, mulai menerapkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) pada kapal angkut minyak. Langkah ini dipasang pada Kapal Oil Barge Patra 2303 dan diklaim menekan konsumsi bahan bakar sekaligus biaya operasional.
Implementasi PLTS tersebut dilakukan pada Kapal Oil Barge Patra 2303 milik PT Pertamina Trans Kontinental (PTK). Pada proyek ini, Pertamina NRE memasangkan panel surya serta Battery Energy Storage System (BESS) untuk mendukung kebutuhan energi di atas kapal.
Menurut Pertamina NRE, pemasangan PLTS dan BESS pada kapal tersebut menjadi instalasi PLTS pertama di kapal Oil Barge di lingkungan Pertamina. Teknologi ini juga untuk pertama kalinya diterapkan pada kapal yang mengangkut muatan minyak.
Proyek tak sederhana, butuh kolaborasi sistem
Direktur Utama Pertamina NRE John Anis menyampaikan bahwa proyek ini melibatkan banyak aspek. “Implementasi proyek ini bukanlah sesuatu yang sederhana,” kata John Anis melalui keterangan pers, Sabtu (13/6/2026).
Ia menegaskan penerapan energi surya pada kapal memerlukan kolaborasi dari sisi kelistrikan, operasional kapal, hingga keselamatan dan keandalan sistem. Hal ini menjadi bagian penting agar integrasi teknologi baru tetap sesuai kebutuhan dan standar operasi maritim.
John menilai hasil penerapan PLTS dapat terlihat dari perubahan konsumsi bahan bakar. “Hasilnya dapat kita lihat hari ini, yaitu pengurangan penggunaan bahan bakar diesel secara signifikan dan kontribusi nyata terhadap pengurangan emisi karbon. Ini menunjukkan bahwa teknologi energi bersih dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus efisiensi operasional,” ujar John.
Dokumentasi proyek menunjukkan PLTS berkapasitas 11,5 kWp yang terintegrasi dengan BESS dipasang pada Kapal Oil Barge Patra 2303. Integrasi tersebut disebut dirancang untuk mendukung operasional kapal pada kebutuhan energi tertentu.
Angka penghematan diesel dan biaya operasional
Sebagai pelaksana proyek, Pertamina NRE memasang PLTS berkapasitas 11,5 kWp. Sistem tersebut diintegrasikan dengan BESS berkapasitas 32 kWh untuk mendukung kebutuhan energi di atas kapal.
Perhitungan perusahaan menyebutkan implementasi PLTS mampu mengurangi konsumsi bahan bakar diesel sekitar 28 kiloliter per tahun. Pengurangan penggunaan bahan bakar itu juga disetarakan dengan penghematan biaya operasional sekitar Rp 365 juta per tahun.
Selain aspek efisiensi energi, pemanfaatan energi surya pada kapal disebut berkontribusi pada penurunan emisi. Pertamina NRE mencatat kontribusi pengurangan emisi sebesar 79,2 ton CO2 ekuivalen per tahun.
Capaian tersebut menjadi penanda bahwa penerapan energi terbarukan di sektor maritim yang selama ini identik dengan penggunaan bahan bakar fosil dapat dilakukan. Dengan begitu, proyek ini diposisikan sebagai contoh penerapan solusi rendah karbon pada armada maritim.
Sinergi dan rencana perluasan hingga 2029
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono menyebut proyek ini sebagai bentuk sinergi antar-subholding. Ia menilai implementasi teknologi energi terbarukan di sektor maritim mendukung agenda transisi energi nasional.
Menurut Agung, pemanfaatan energi terbarukan di sektor maritim menunjukkan bahwa program dedieselisasi dapat dilakukan tidak hanya di darat, tetapi juga di laut. “Pemerintah mendorong pembangunan PLTS hingga 100 GW dan salah satu fokus utamanya adalah dedieselisasi,” kata Agung.
Agung juga menilai proyek pada kapal minyak tersebut memberi pembuktian terhadap implementasi dedieselisasi di lingkungan maritim. “Melalui proyek ini, Pertamina membuktikan bahwa dedieselisasi di sektor maritim dapat dilakukan. Jika di laut saja bisa dilakukan, maka peluang implementasinya di berbagai sektor lainnya tentu akan semakin besar,” tutur dia.
Dengan adanya hasil di Kapal Oil Barge Patra 2303, Pertamina NRE memandang proyek tersebut sebagai langkah awal pengembangan dekarbonisasi armada maritim Pertamina. Perusahaan menyatakan keberhasilan implementasi di kapal ini membuka ruang perluasan penerapan pada armada lainnya.
Hingga 2029, program serupa direncanakan diperluas secara bertahap ke enam kapal Oil Barge lainnya. Melalui pengembangan tersebut, Pertamina NRE melanjutkan upaya pengembangan solusi rendah karbon di sektor maritim sekaligus mendukung target transisi energi nasional.
Secara keseluruhan, proyek PLTS pada kapal angkut minyak ini menempatkan integrasi panel surya dan BESS sebagai bagian dari strategi efisiensi operasional sekaligus kontribusi terhadap penurunan emisi. Pertamina NRE menekankan bahwa pendekatan tersebut dapat menjadi rujukan saat ekspansi implementasi dilakukan pada beberapa kapal Oil Barge lainnya dalam periode mendatang.












