jurnalistik.co.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah akan memberikan insentif bagi penulis dengan menurunkan royalti dari 6% menjadi 1,5%. Kebijakan itu, menurut dia, dimaksudkan untuk mendorong lebih banyak orang yang punya kemampuan dan keahlian agar mau menulis buku.
Purbaya menyampaikan hal itu saat ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (26/5/2026). Ia menegaskan bahwa alasan utama di balik insentif tersebut adalah karena jumlah penulis di Indonesia dinilai masih sedikit, terutama penulis-penulis ilmiah.
“Karena katanya penulis di sini jumlahnya sedikit apalagi penulis-penulis ilmiah gitu. Jadi ini mendorong supaya orang-orang yang punya kemampuan, keahlian mau nulis buku sehingga orang kita makin banyak yang lebih pintar,” kata Purbaya.
Dengan kebijakan itu, pemerintah berharap semakin banyak orang yang terdorong menuangkan pengetahuan dan pengalamannya ke dalam bentuk buku. Bagi Purbaya, keberadaan lebih banyak penulis bukan semata soal jumlah karya yang terbit, melainkan juga soal memperluas akses masyarakat terhadap bacaan yang dapat menambah wawasan.
Purbaya juga menyebut kebijakan tersebut tidak akan langsung terasa dampaknya terhadap perekonomian dalam jangka pendek. Meski begitu, ia menilai manfaatnya bisa muncul dalam jangka panjang karena karya yang terbit dapat dibaca dan memberi pengaruh setelah melewati waktu tertentu.
“Mungkin setelah bukunya keluar setahun-dua tahun yang baca jadi pintar,” tambah Purbaya.
Menurut dia, insentif untuk penulis itu merupakan bagian dari upaya pemerintah yang lebih luas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan kata lain, kebijakan ini tidak hanya dipandang sebagai pemberian keringanan biaya, tetapi juga sebagai dorongan agar tradisi menulis di Indonesia tumbuh lebih kuat.
Pernyataan Purbaya itu menegaskan bahwa pemerintah melihat penulisan buku sebagai salah satu jalan untuk memperluas pengetahuan masyarakat. Karena itu, pengurangan royalti dari 6% menjadi 1,5% diharapkan bisa menjadi pemicu agar lebih banyak penulis, termasuk mereka yang bergerak di bidang ilmiah, berani menghasilkan karya.
Di sisi lain, Purbaya menempatkan insentif ini sebagai investasi jangka panjang dalam kualitas sumber daya manusia. Walaupun efek ekonominya belum akan tampak dalam waktu dekat, ia meyakini manfaat dari buku yang ditulis para penulis akan dirasakan pada waktu berikutnya, ketika karya tersebut dibaca dan dipahami lebih banyak orang.
Dalam pandangan Purbaya, pemangkasan royalti itu diharapkan bisa membuat proses menulis buku terasa lebih ringan bagi mereka yang selama ini masih ragu untuk mulai berkarya. Ia ingin kebijakan tersebut menjadi sinyal bahwa pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki seseorang layak dituangkan ke dalam bentuk tulisan, terutama jika selama ini minat menulis belum tumbuh kuat di tengah masyarakat.
Ia juga menekankan bahwa dorongan semacam ini penting agar buku tidak hanya lahir dari kalangan tertentu, tetapi dari lebih banyak orang dengan latar keahlian yang beragam. Semakin banyak penulis yang mau berbagi gagasan, menurut logika kebijakan itu, semakin besar pula peluang masyarakat mendapatkan bacaan yang bisa memperluas cara pandang dan memperkaya pemahaman.
Karena manfaatnya baru akan terlihat setelah buku selesai dibaca dan memberi pengaruh dari waktu ke waktu, insentif tersebut diposisikan sebagai langkah yang hasilnya tidak instan. Namun justru pada titik itulah pemerintah melihat nilai utamanya, yakni membangun kebiasaan menulis yang lebih kuat dan menempatkan pengetahuan sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia.
Ia menilai kebijakan ini sejalan dengan tujuan agar lebih banyak orang terdorong menulis, khususnya mereka yang punya keahlian tetapi belum terbiasa menuangkannya dalam bentuk buku. Dari sudut pandang itu, insentif royalti diposisikan sebagai cara untuk membuka ruang yang lebih luas bagi lahirnya karya baru.
Purbaya pun menggambarkan kebijakan tersebut sebagai dorongan agar pengetahuan yang dimiliki masyarakat tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi. Ketika semakin banyak orang menulis dan menerbitkan buku, ia berharap dampaknya dapat menjangkau pembaca lebih luas dan ikut memperkuat kualitas wawasan publik dalam jangka panjang.









