Otomotif

Ramadhipa di Paddock Eropa: Strategi Bahasa, Santai Hadapi Intimidasi

×

Ramadhipa di Paddock Eropa: Strategi Bahasa, Santai Hadapi Intimidasi

Sebarkan artikel ini
Kisah Ramadhipa di Paddock Eropa: Siasat Bahasa dan Mental Cuek Otomotif 16 Juni 2026
Ilustrasi: Kisah Ramadhipa di Paddock Eropa: Siasat Bahasa dan Mental Cuek

jurnalistik.co.id – Muhammad Kiandra Ramadhipa menjalani karier balap internasional di Eropa dengan tuntutan adaptasi yang besar. Baginya, tantangan tidak berhenti pada karakter sirkuit yang harus ditaklukkan, melainkan juga kemampuan bertahan dan berkomunikasi di lingkungan paddock.

Pebalap Astra Honda Racing School (AHRS) itu saat ini bertarung di Moto3 Junior World Championship dan Red Bull Rookies Cup. Selama merantau di Spanyol, Ramadhipa membagikan cara pandangnya melihat dinamika bahasa di paddock dan strategi mental ketika berhadapan dengan intimidasi yang datang dari pebalap lain.

Menurut Ramadhipa, komunikasi menjadi kunci utama untuk menyelaraskan set-up motor yang kompetitif. Di dalam garasi, interaksi antara pebalap dan kru mekanik menuntut cara berbicara yang tepat agar kerja tim berjalan selaras.

Bahasa sebagai alat kerja di garasi

Dalam wawancara daring pada Senin (15/6/2026), Ramadhipa menegaskan bahwa bahasa Inggris memegang peran paling penting. Namun ia juga mengingat bahwa banyak pelaku balap di lingkungan tersebut berasal dari Spanyol, sehingga tidak semua orang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang sama lancarnya.

“Ya paling penting itu tentunya bahasa Inggris. Tapi karena kebanyakan orang racing di sini itu Spanyol, jadi ya beberapa dari mereka kurang lancar berbahasa Inggris juga,” kata Ramadhipa dalam sesi wawancara daring, Senin (15/6/2026).

Karena kondisi itu, proses komunikasi teknis terkadang bisa menemui kendala jika hanya mengandalkan satu bahasa saja. Ramadhipa kemudian melihat kebutuhan untuk setidaknya memahami bahasa lokal tempat ia bernaung sebagai nilai tambah yang krusial.

Pe-brepalap berusia 16 tahun asal Sleman, Yogyakarta ini menilai belajar bahasa Spanyol memang memberi manfaat. Walau begitu, ia tetap menempatkan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam aktivitas balap sehari-hari.

“Jadi mungkin belajar bahasa Spanyol cukup membantu, tapi bahasa Inggris itu paling penting karena seperti bahasa utamanya,” lanjut pebalap asal Sleman, Yogyakarta tersebut.

Dari cara pandang itu, adaptasi di Eropa tidak hanya soal mengenali jalur sirkuit, tetapi juga memastikan komunikasi di area kerja berlangsung efektif. Dengan begitu, penyelarasan set-up dan koordinasi di garasi dapat berjalan lebih lancar.

Mental cuek saat intimidasi muncul

Selain faktor bahasa, Ramadhipa juga membahas bagaimana ia merespons situasi psikologis ketika berada di paddock akhir pekan balapan. Ia menempatkan obrolan atau intimidasi verbal dari rival sebagai bagian dari dinamika yang mungkin terjadi dalam kompetisi yang dihuni peserta lintas negara.

Menurutnya, pebalap di kejuaraan Eropa seperti Red Bull Rookies Cup berasal dari berbagai negara dengan latar belakang bahasa yang beragam. Karena itu, ia memilih sikap yang tidak terlalu mengambil pusing atas percakapan yang terjadi di sekitarnya.

“Ya sebenarnya kalau ngobrol dengan pembalap lain sebenarnya gak terlalu penting sih, karena mereka juga pasti bisa bahasa Inggris,” tuturnya.

Ramadhipa mengungkapkan bahwa ia kerap bersikap acuh tak acuh terhadap komunikasi verbal pebalap lain, terutama ketika percakapan itu hanya berupa bisikan atau cara untuk mengintimidasi mental. Dalam situasi seperti itu, ia tidak menganggapnya sebagai gangguan besar bagi fokusnya.

“Tapi kalau ya saya juga kadang kalau di Red Bull Rookies Cup kan berbeda-beda bahasanya. Saya juga gak terlalu peduli apa yang mereka omongin, saya juga bisa ngomongin mereka pake bahasa Indonesia,” canda pebalap bernomor motor #32 ini menutup pembicaraan.

Dengan pendekatan yang ia gambarkan tersebut, Ramadhipa mencoba menjaga suasana mental agar tetap stabil ketika berada di tengah keragaman bahasa. Ia juga menegaskan bahwa kemampuan berkomunikasi—dalam konteks apa pun—bisa jadi senjata untuk tetap nyaman menghadapi situasi yang tidak selalu seragam.

Secara keseluruhan, kisah Ramadhipa di paddock Eropa memperlihatkan adaptasi yang berjalan dua arah: bahasa untuk mendukung koordinasi teknis, dan mentalitas cuek untuk meredam tekanan yang datang dari luar. Di tengah intensnya kompetisi, ia memandang komunikasi bukan sekadar obrolan, melainkan bagian dari cara bertahan dan bersaing.