jurnalistik.co.id – Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyampaikan kekhawatirannya atas kondisi saluran air di sekitar Jalan Raya Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang ambles. Kekhawatiran itu muncul karena saluran tersebut tidak hanya berada di area jalan, tetapi juga melintas di bawah rel kereta api hingga ke Waduk UI, Depok.
Rano menyoroti posisi saluran yang dinilai membuat penanganan menjadi lebih rumit. Ia menyebut, jika ada sesuatu yang terjadi di bawah rel kereta api, maka perlu ada langkah yang benar-benar dipikirkan sejak awal agar tidak menimbulkan persoalan yang lebih besar di kemudian hari.
“Problemnya ini, salurannya ada di bawah rel kereta api. Pertanyaannya, kalau misal terjadi sesuatu di bawah rel kereta api gimana caranya? Itu tadi saya tanya. Saya gak mau nutup-nutupin dan bukan berarti kita harus takut, tapi artinya kita mengantisipasi,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (2/6/2026).
Menurut Rano, bagian saluran air yang menggunakan besi Armco di Jalan Raya Lenteng Agung itu ambles diduga karena kondisi material yang sudah keropos atau rusak. Ia mengaitkan kerusakan tersebut dengan usia saluran yang disebut sudah sangat lama.
Saluran tua ikut jadi perhatian
Rano menjelaskan, kondisi serupa tidak menutup kemungkinan juga terjadi di sejumlah titik lain di Jakarta. Karena itu, ia menyebut Dinas SDA Jakarta sedang menginventarisasi titik-titik yang berpotensi mengalami masalah serupa agar bisa diantisipasi lebih cepat.
“Ini jenis apa ya, besi tapi memang sudah cukup lama, mungkin lebih dari 30 tahun. Saya waktu ditanya di mana, saya bilang tidak memungkiri di Jakarta akan terjadi lagi (jalan amblas) karena banyak sekali armco-armco di Jakarta juga pada kondisi yang sama (yaitu) lama, tua, pasti keropos kalau besi,” tuturnya.
Ia juga menyinggung kondisi infrastruktur air di Jakarta yang menurutnya perlu terus diperiksa karena usia layanan yang panjang. Rano menyebut pernah mendapat informasi dari PDAM bahwa pipa air di Jakarta tidak diganti dalam waktu yang sangat lama. Hal itu, menurut dia, menjadi alasan lain mengapa pemetaan titik rawan perlu segera dilakukan.
“Bahkan kalau dari PDAM saya pernah dikasih tahu, 100 tahun pipa air kita tidak berganti. Makanya tadi saya baru tanya sudah mulai belum diinventarisir titik-titik mana (berpotensi) terjadi. Karena kalau terjadi lagi kita tahu segera,” katanya.
Rano juga mengungkapkan sumber air yang mengalir dalam saluran tersebut. Ia mengatakan, air itu berasal dari Waduk UI. Dari sana, aliran air terhubung dengan Sungai Ciliwung, lalu menembus kawasan Jalan Raya Lenteng Agung hingga ke area rel kereta yang lokasinya beriringan dengan titik jalan ambles tersebut.
“Misalnya gini mungkin anda gak percaya kalau saya cerita ternyata ini sumbernya adalah air dari Waduk UI,” jelas Rano lagi. Ia menambahkan bahwa jalur air yang melewati titik tersebut membuat penanganan harus dilakukan dengan cermat, karena saluran tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan jaringan air yang lebih luas.
Kerusakan di kawasan Lenteng Agung itu pun menjadi perhatian karena bukan hanya menyangkut kondisi jalan, tetapi juga menyangkut infrastruktur air di bawahnya. Dalam pandangan Rano, situasi seperti ini menuntut langkah antisipatif agar kejadian serupa bisa diketahui lebih cepat, terutama di titik-titik lain yang memiliki karakteristik sama.
Ia menegaskan, kekhawatiran itu bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan untuk memastikan penanganan dilakukan sebelum masalah bertambah besar. Karena itu, inventarisasi saluran dan jaringan air dianggap penting agar pemerintah daerah memiliki peta yang jelas mengenai titik-titik rawan di Jakarta.












