jurnalistik.co.id – JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Solar tetap ditahan, meski nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah dan sempat mencatat rekor terlemah di sekitar Rp17.850 per US$ pada pagi tadi. Kepastian itu disampaikan di tengah perhatian pasar terhadap pergerakan kurs yang terus berfluktuasi dan harga minyak mentah global yang juga bergerak dinamis.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan harga BBM subsidi tidak akan mengalami penyesuaian. Ia menegaskan keputusan itu tetap berlaku meski rupiah mengalami tekanan dan harga minyak dunia bergerak naik-turun. Menurut dia, pemerintah masih memiliki ruang untuk menjaga harga BBM bersubsidi karena ada produksi dalam negeri yang terus didorong, sementara kilang di dalam negeri juga sudah disiapkan untuk menopang pasokan.
“Jadi untuk kenaikan harga BBM yang untuk subsidi, ini kan sudah disampaikan [tidak mengalami penyesuaian]. Ini menurut perhitungan kita kan ada produksi dalam negeri yang kita dorong itu peningkatan, kilang di dalam negeri pun itu juga kita juga sudah siapkan,” kata Yuliot kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (29/5/2026).
Yuliot juga menambahkan bahwa stok operasional Pertalite dan Solar berada dalam kondisi aman. Meski begitu, ia tidak membeberkan secara rinci posisi cadangan kedua jenis BBM bersubsidi tersebut. Yang disampaikan ke publik adalah bahwa tingkat persediaan masih berada di atas batas minimal yang dibutuhkan untuk menjaga kelancaran distribusi.
“Tadi ada beberapa, misalnya untuk Pertalite itu jauh di atas cadangan minimal, dan juga untuk Solar CN48 itu juga di atas cadangan minimal,” kata Yuliot. Pernyataan itu mempertegas bahwa pemerintah masih menahan harga jual di level saat ini, sambil memastikan ketersediaan pasokan tetap terjaga di tengah tekanan eksternal yang datang dari pelemahan rupiah dan pergerakan harga minyak mentah internasional.
Dalam penjelasannya, Yuliot menempatkan produksi dalam negeri sebagai salah satu penopang utama. Pemerintah, kata dia, terus mendorong peningkatan produksi agar kebutuhan BBM subsidi tetap dapat dipenuhi tanpa harus langsung mengubah harga jual kepada masyarakat. Di sisi lain, kesiapan kilang di dalam negeri disebut menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan, sehingga penahanan harga Pertalite dan Solar dapat tetap dilakukan.
Pernyataan ESDM ini menjadi penegasan lanjutan bahwa fluktuasi kurs tidak otomatis diterjemahkan menjadi kenaikan harga untuk BBM bersubsidi. Selama stok aman, cadangan operasional masih di atas batas minimal, dan produksi domestik terus diperkuat, Pertalite dan Solar tetap ditahan harganya. Dengan demikian, kebijakan harga subsidi masih berada pada jalur yang sama seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, tanpa penyesuaian meski rupiah bergerak ke kisaran Rp17.850 per US$.
Dengan sikap tersebut, pemerintah tampak memilih jalur kehati-hatian di tengah tekanan eksternal yang masih bergerak cepat. Penahanan harga BBM bersubsidi memberi sinyal bahwa stabilitas daya beli masyarakat tetap menjadi pertimbangan utama, meskipun kondisi pasar tengah tidak ideal. Di saat yang sama, pernyataan ESDM menunjukkan bahwa kebijakan energi tidak semata-mata mengikuti perubahan kurs harian, melainkan juga mempertimbangkan kesiapan pasokan dan kemampuan sistem dalam negeri untuk menahan gejolak.
Di level kebijakan, penjelasan mengenai produksi domestik dan kesiapan kilang memperlihatkan bahwa pemerintah ingin menegaskan ada bantalan yang masih bisa diandalkan. Selama dua faktor itu tetap berjalan, penyesuaian harga belum dianggap mendesak. Karena itu, publik masih melihat adanya ruang untuk menjaga harga Pertalite dan Solar tetap stabil, setidaknya dalam kondisi yang saat ini dinilai masih terkendali dari sisi stok maupun distribusi.
Meski begitu, penegasan harga yang ditahan tidak otomatis menghapus perhatian terhadap perkembangan rupiah dan minyak dunia ke depan. Kombinasi dua variabel itu akan terus menjadi acuan penting bagi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara kestabilan harga dan ketahanan pasokan. Untuk saat ini, sinyal yang disampaikan ESDM cukup jelas: pemerintah belum melihat alasan untuk mengubah harga BBM bersubsidi, dan kebijakan yang dijalankan masih mengutamakan keberlanjutan suplai serta perlindungan bagi konsumen.












