Bisnis & Ekonomi

Rupiah Ditutup Melemah, Sentuh Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah

0
×

Rupiah Ditutup Melemah, Sentuh Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Ditutup Merah, Catat Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Senin (25/5/2026) setelah ditutup melemah 0,19% dan menyentuh posisi terendah sepanjang sejarah di Rp17.743 per dolar AS. Di tengah pergerakan mata uang kawasan yang justru cenderung menguat, rupiah menjadi pengecualian dan kembali menunjukkan pelemahan yang lebih dalam dibandingkan mata uang Asia lain.

Sentimen eksternal sebenarnya cukup mendukung. Mata uang-mata uang Asia bergerak di zona hijau seiring menguatnya harapan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, dorongan itu belum cukup kuat untuk mengangkat rupiah, yang justru terus tertekan sampai penutupan perdagangan hari ini.

Di antara mata uang kawasan, baht Thailand mencatat penguatan paling besar dengan kenaikan 0,58%. Setelah itu, rupee India dan ringgit Malaysia juga bergerak menguat. Hampir seluruh mata uang Asia menutup sesi perdagangan dengan warna hijau, sementara rupiah berdiri sendirian di sisi yang berlawanan.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan pada rupiah tidak sepenuhnya datang dari faktor global. Meski kawasan Asia memperoleh sokongan dari optimisme pasar terhadap prospek damai di Timur Tengah, mata uang Tanah Air tetap tidak mampu mengikuti arus penguatan serupa. Dalam perdagangan hari ini, rupiah justru kembali mencatat level yang belum pernah disentuh sebelumnya.

Salah satu penopang penguatan mata uang kawasan datang dari pergerakan harga minyak yang kembali jinak dan bertahan di bawah US$100 per barel. Kondisi tersebut ikut memberi napas bagi aset-aset berisiko di Asia. Di sisi lain, indeks AS terhadap enam mata uang utama bergerak di kisaran 99, yang menunjukkan dolar AS masih berada di level yang relatif tinggi.

Tekanan domestik masih dominan

Rupiah menjadi satu-satunya mata uang kawasan yang melemah pada perdagangan ini karena berbagai sentimen domestik. Tekanan itu membuat mata uang Indonesia tidak mampu memanfaatkan momentum positif dari kawasan, meskipun kondisi eksternal relatif lebih kondusif dibandingkan sebelumnya.

Bank Indonesia (BI) disebut telah mengambil langkah yang cukup agresif dengan menaikkan suku bunga di atas proyeksi pelaku pasar. Kebijakan itu menunjukkan tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap rambatan volatilitas global, terutama melalui transmisi nilai tukar, kenaikan harga minyak, dan ketidakstabilan arus modal.

Dengan kata lain, langkah BI memperlihatkan bahwa otoritas moneter melihat risiko pada rupiah masih serius. Kenaikan suku bunga yang melampaui ekspektasi pasar menjadi sinyal bahwa bank sentral tidak ingin memberi ruang lebih besar bagi gejolak eksternal untuk menekan pasar keuangan domestik.

Intervensi di pasar surat utang

Di tengah tekanan yang ada, pemerintah juga kembali melakukan stabilisasi melalui intervensi di pasar surat utang. Dampaknya mulai terlihat pada perdagangan hari ini, ketika hampir seluruh imbal hasil di berbagai tenor bergerak menurun.

Penurunan paling menonjol terjadi pada tenor acuan 10 tahun, yang turun 5,2 basis poin menjadi 6,68%. Pergerakan ini mengindikasikan adanya respons pasar terhadap upaya stabilisasi yang dilakukan, meski rupiah sendiri tetap belum mampu keluar dari tekanan dan masih menutup perdagangan di rekor terlemah sepanjang sejarah.

Perbedaan arah antara rupiah dan mata uang Asia lainnya pada hari ini menegaskan bahwa penguatan kawasan belum otomatis mengangkat rupiah. Selama sentimen domestik masih membayangi dan pasar menaruh perhatian pada volatilitas global, rupiah berpotensi tetap bergerak dalam tekanan meski pasar regional menunjukkan optimisme.

Penutupan perdagangan Senin ini sekaligus memperlihatkan betapa rentannya rupiah ketika dorongan positif dari luar tidak cukup besar untuk menyeimbangkan tekanan dalam negeri. Saat mata uang-mata uang Asia lain kompak menguat, rupiah justru kembali mencatat pelemahan dan menorehkan level terendah dalam sejarah perdagangannya.