Bisnis & Ekonomi

Rupiah Menyentuh Rekor Terlemah, Saham Bank Kompak Melemah

0
×

Rupiah Menyentuh Rekor Terlemah, Saham Bank Kompak Melemah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, Saham Bank Merah - Market

jurnalistik.co.id – Harga saham sejumlah bank besar kompak terkoreksi pada perdagangan siang ini, seiring pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menyentuh level terendah sepanjang sejarah. Menariknya, tekanan pada saham perbankan itu justru terjadi di saat Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG masih mampu bergerak menguat lebih dari 1%.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah spot berada di posisi Rp17.874 per dolar AS pada siang hari ini, Jumat (29/5/2026). Pelemahan tersebut menandai titik baru dalam catatan pergerakan rupiah, yang kembali menjadi sorotan pasar karena bergerak semakin dalam.

Di pasar saham, tekanan paling besar terlihat pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang melemah 3,76% ke Rp5.750. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 1,56% ke Rp3.780, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terkoreksi 0,32% ke Rp3.060.

Di kelompok bank lainnya, PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) menjadi yang paling dalam penurunannya dengan amblas 6,47% ke Rp260. PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) turun 2,41% ke Rp122, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) melemah 2,07% ke Rp1.890, dan PT KB Bank Tbk (BBKP) terkoreksi 1,78% ke Rp55.

Sementara itu, PT Bank Ganesha Tbk (BGTG) turun 0,84% ke Rp117 dan PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) melemah 0,71% ke Rp139. Rangkaian pelemahan ini memperlihatkan bahwa tekanan terhadap emiten perbankan berlangsung cukup merata di tengah kondisi nilai tukar yang belum stabil.

Rupiah yang melemah menjadi perhatian pasar

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai pelemahan rupiah saat ini sudah bergerak lebih dalam dibanding yang dapat dijustifikasi oleh fundamental jangka panjang Indonesia. Menurut dia, pasar tidak hanya melihat angka-angka ekonomi yang muncul hari ini.

“Pasar keuangan tidak hanya membaca data hari ini. Pasar membaca arah kebijakan, kredibilitas respons, dan kemampuan negara menjaga stabilitas di tengah perubahan global yang sangat cepat,” kata Fakhrul dalam keterangannya.

Pernyataan itu menggambarkan bahwa pelaku pasar sedang memberi perhatian besar pada persepsi terhadap kebijakan dan respons otoritas, selain pada data ekonomi yang terlihat secara langsung. Dalam situasi seperti ini, pelemahan rupiah dapat memicu reaksi yang lebih luas di pasar aset keuangan, termasuk saham perbankan.

Di saat yang sama, pergerakan IHSG yang masih menguat lebih dari 1% menunjukkan bahwa tekanan pada rupiah dan saham bank tidak otomatis menekan seluruh pasar. Artinya, sentimen yang bekerja di bursa berlangsung bercampur, dengan sebagian sektor masih mendapat dukungan sementara sektor lain justru tertekan.

Kontras antara penguatan indeks dan pelemahan saham bank ini juga menegaskan bahwa pasar sedang membedakan respons terhadap masing-masing emiten dan sektor. Pada hari ketika rupiah mencatat level terlemah sepanjang sejarah, saham-saham bank besar justru menjadi salah satu area yang paling cepat merasakan dampaknya.

Di tengah kondisi seperti ini, perhatian pasar kemungkinan akan terus tertuju pada arah pergerakan rupiah dan bagaimana respons pelaku pasar menilai ketahanan emiten perbankan. Tekanan pada saham-saham bank besar menunjukkan bahwa investor cenderung mengambil sikap hati-hati ketika nilai tukar bergerak ke titik yang dianggap rentan, meskipun indeks acuan secara keseluruhan masih bertahan di zona hijau.

Dengan demikian, pelemahan yang terjadi pada saham perbankan bukan hanya soal perubahan harga harian, melainkan juga cerminan dari kekhawatiran pasar terhadap stabilitas yang lebih luas. Selama rupiah belum menunjukkan pemulihan yang meyakinkan, sentimen terhadap sektor keuangan berpotensi tetap sensitif, terutama karena bank-bank besar kerap menjadi salah satu barometer utama kepercayaan investor terhadap pasar domestik.