jurnalistik.co.id – JAKARTA — Rupiah menutup perdagangan Jumat (29/5/2026) dengan pelemahan 0,48% ke posisi Rp17.874 per dolar AS. Level itu sekaligus menjadi posisi rupiah yang terlemah sepanjang sejarah, menandai akhir Mei dengan tekanan yang masih belum mereda.
Di penghujung bulan, mata uang Indonesia juga membukukan depresiasi 2,91% sepanjang Mei. Dengan hasil tersebut, rupiah sah melemah tiga bulan beruntun. Rangkaian pelemahan ini menunjukkan bahwa tekanan di pasar valas belum benar-benar hilang, meski suasana global pada sesi hari ini tidak sepenuhnya negatif bagi seluruh mata uang Asia.
Sentimen investor global terkait konflik Amerika Serikat dengan Iran memang sedikit mereda. Kesepakatan sementara berupa gencatan senjata selama 60 hari memunculkan narasi optimisme bahwa perang yang sempat mengganggu Selat Hormuz, setidaknya, bisa berakhir. Kabar ini memberi respons positif di sejumlah mata uang kawasan, walau penguatannya tidak merata.
Di Asia, baht Thailand, ringgit Malaysia, rupee India, dolar Taiwan, yuan China baik onshore maupun offshore, serta peso Filipina tercatat berhasil rebound pada sesi perdagangan hari ini. Pergerakan itu memperlihatkan bahwa pasar merespons perkembangan geopolitik dengan selektif, bukan serentak.
Namun, tidak semua mata uang kawasan ikut bergerak ke arah yang sama. Won Korea Selatan, rupiah, dan dolar Singapura justru tercatat melemah paling dalam pada sesi Jumat sore. Pada pukul 15.02 WIB, tekanan pada rupiah masih terlihat jelas di tengah perbandingan dengan mata uang Asia lain yang mampu menahan laju pelemahannya atau bahkan menguat.
Posisi rupiah yang jatuh ke rekor terlemah sepanjang sejarah menjadi penanda penting bagi pasar domestik. Walaupun sentimen global membaik secara terbatas, rupiah belum mampu memanfaatkan kondisi tersebut untuk pulih. Sebaliknya, mata uang ini justru menutup bulan dengan kinerja yang semakin tertekan dibandingkan banyak mata uang Asia lain.
Jika dilihat dari pergerakan sepanjang Mei, pelemahan 2,91% menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan hanya terjadi dalam satu hari perdagangan. Kinerja bulanan yang negatif itu memperpanjang tren penurunan yang sudah berlangsung selama tiga bulan berturut-turut. Artinya, pasar masih menempatkan rupiah dalam fase yang rentan terhadap perubahan sentimen eksternal.
Perbandingan antarmata uang Asia pada sesi yang sama juga memperlihatkan kontras yang tajam. Saat sebagian mata uang memanfaatkan kabar meredanya ketegangan Timur Tengah untuk rebound, rupiah justru masih terjebak di sisi yang berlawanan. Dalam kondisi seperti ini, arah pasar tampak ditentukan oleh bagaimana investor membaca risiko dan memilih aset di kawasan.
Dengan penutupan di Rp17.874 per dolar AS, rupiah memasuki catatan baru yang lebih lemah dari sebelumnya. Level ini bukan hanya menjadi angka akhir perdagangan Jumat, melainkan juga menjadi garis sejarah baru bagi mata uang Indonesia. Sepanjang Mei, tekanan itu berlanjut dan belum terlihat adanya pembalikan yang cukup kuat untuk mengubah arah pergerakan.
Situasi pada akhir bulan ini menegaskan satu hal: meski suasana global sempat membaik setelah muncul sinyal gencatan senjata antara AS dan Iran, rupiah belum mampu ikut menguat. Di antara mata uang Asia, rupiah justru menutup Mei sebagai yang paling tertekan, sekaligus mencatatkan salah satu periode paling berat dalam perjalanan terbarunya.
Dengan kondisi tersebut, pasar rupiah masih berada dalam fase sensitif terhadap kabar eksternal, terutama yang berkaitan dengan geopolitik dan arus sentimen di kawasan Asia. Meski ada ruang bagi sebagian mata uang untuk bangkit, pergerakan rupiah menunjukkan bahwa pemulihan belum cukup kuat untuk menandingi tekanan yang sudah terbentuk sejak awal bulan.
Penutupan perdagangan pada Jumat ini sekaligus menegaskan bahwa pelemahan rupiah bukan sekadar fluktuasi harian, melainkan bagian dari tren yang lebih panjang. Selama tekanan itu belum benar-benar berbalik, rupiah masih berisiko bergerak di bawah bayang-bayang rekor terlemah yang baru saja tercipta, sementara pasar terus menunggu tanda yang lebih meyakinkan untuk melihat perubahan arah.












