Nasional

Selamat Jalan Ryamizard, Jenderal Tegas yang Sederhana dan Humanis

2
×

Selamat Jalan Ryamizard, Jenderal Tegas yang Sederhana dan Humanis

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Selamat Jalan Ryamizard: Jenderal Garang, Sederhana, namun Humanis

jurnalistik.co.id – Iringan langkah prajurit yang rapi dan teratur, dentuman musik dari tim marching band, serta tembakan salvo ke langit menjadi penanda dimulainya upacara pemakaman eks Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu di Taman Makam Pahlawan (TMP), Kalibata, Jakarta, pada Senin (1/6/2026).

Upacara pemakaman dilakukan secara militer dan dipimpin oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin. Ryamizard meninggal dunia di usia 76 tahun, dan sosoknya dikenang banyak tokoh serta kalangan sebagai pribadi yang garang, namun memiliki sifat humanis.

Ryamizard sendiri pernah menjabat sebagai Menhan pada era Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada periode pertama. Dalam persemayaman dan prosesi pelepasan itu, sejumlah tokoh hadir untuk memberi penghormatan terakhir kepada sosok yang disebut tegas, berani, visioner, sekaligus sederhana.

“Sikap tegas tapi humanis”

Eks Menhan Agus Gumelar mengenang Ryamizard sebagai perwira yang tegas dan berwibawa. Menurut dia, kesan luar yang garang tidak menghilangkan sisi kemanusiaan yang melekat pada Ryamizard selama bertugas.

“Sosok perwira yang tegas, seorang perwira tinggi yang punya sikap tegas ya, kan. Sikap tegas tapi humanis. Walaupun kelihatan mukanya garang tapi humanis,” kata Agus Gumelar saat ditemui usai melayat di Kantor Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, Jakarta Pusat, Senin pagi.

Agus juga mengungkapkan bahwa selama hidup, Ryamizard merupakan sosok pemimpin yang tegas, terukur, dan berwibawa di lingkungan TNI AD, sampai ia kemudian menjadi Menhan. Ia memperkirakan pertemuan terakhirnya dengan Ryamizard terjadi beberapa bulan lalu, ketika Ryamizard sudah dalam keadaan sakit.

“Wah sudah lama juga ya, berapa bulan yang lalu dalam keadaan sakit,” tutur dia.

Diingat sebagai pemimpin yang punya visi

Dua mantan Panglima TNI, yaitu Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo dan Marsekal (purn) Hadi Tjahjanto, juga mengenang sosok Ryamizard. Keduanya menegaskan bahwa almarhum bukan hanya dikenal tegas, tetapi juga memiliki cara pandang jauh ke depan dan perhatian besar kepada prajurit.

Gatot mengatakan, Ryamizard adalah sosok pemimpin yang berani mengambil keputusan besar dan memiliki visi yang jauh melampaui cara pandang kebanyakan orang. Salah satu hal yang paling diingat Gatot adalah peran Ryamizard saat penanganan darurat pasca tsunami Aceh.

Saat itu, kata Gatot, Ryamizard menginstruksikan TNI Angkatan Darat untuk membuka kembali jalur darat yang terputus akibat terjangan tsunami. Meski pada awalnya dianggap sulit, perintah tersebut berhasil dilaksanakan sesuai target yang ditetapkan.

Keberhasilan itu, menurut Gatot, menjadi bukti bahwa visi Ryamizard mampu diterjemahkan menjadi tindakan nyata di lapangan. Baginya, itulah salah satu sisi penting dari kepemimpinan Ryamizard yang patut dikenang.

Hadi Tjahjanto memiliki kesan serupa. Ia mengenang Ryamizard sebagai sosok pemimpin yang selalu memberikan arahan, nasihat, dan motivasi kepada para prajurit yang lebih muda.

Hadi juga mengungkapkan bahwa hubungannya dengan Ryamizard terjalin erat, baik secara profesional maupun personal. Kedekatan itu terutama terasa ketika Hadi menjabat sebagai Inspektur Jenderal Kementerian Pertahanan (Irjen Kemhan) saat Ryamizard memimpin kementerian tersebut sebagai Menteri Pertahanan.

Di tengah suasana duka, penghormatan terakhir untuk Ryamizard memperlihatkan bagaimana ia dikenang bukan hanya sebagai jenderal yang keras dan tegas, tetapi juga sebagai pemimpin yang humanis, sederhana, dan memberi pengaruh besar bagi banyak orang di sekelilingnya.

Rangkaian penghormatan itu juga memperlihatkan betapa kuatnya kesan yang ditinggalkan Ryamizard di mata para kolega dan sesama prajurit. Dari suasana upacara yang tertib hingga kesaksian para tokoh yang hadir, terlihat jelas bahwa ketegasan yang melekat pada dirinya berjalan bersama penghargaan terhadap sisi kemanusiaan yang ia tunjukkan selama bertugas.

Karena itu, kepergian Ryamizard bukan hanya menjadi momen perpisahan, tetapi juga pengingat atas gaya kepemimpinan yang disusun dari disiplin, keberanian, dan perhatian pada orang-orang di sekelilingnya. Nama dan pengaruhnya pun tampak masih akan terus disebut sebagai bagian penting dari sejarah pengabdian di lingkungan militer dan pertahanan.