Otomotif

Senggolan Bus Mira dan Sugeng Rahayu di Nganjuk, Pakar Soroti Kesadaran Keselamatan Sopir

×

Senggolan Bus Mira dan Sugeng Rahayu di Nganjuk, Pakar Soroti Kesadaran Keselamatan Sopir

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bus Mira dan Sugeng Rahayu Senggolan di Nganjuk, Ini Kata Pakar

jurnalistik.co.id – Rekaman CCTV yang memperlihatkan aksi ugal-ugalan dua bus antarkota antarprovinsi kembali menjadi perbincangan di media sosial. Video tersebut disebut terjadi di ruas Jalan Kawasan Kota Nganjuk, Jawa Timur.

Dalam tayangan itu, Bus Mira dan Bus Sugeng Rahayu tampak melaju dengan kecepatan tinggi dan diduga saling β€œkejar” di jalan. Dari rekaman yang beredar, Bus Mira yang semula berada pada jalur berlawanan melakukan manuver mendadak ke arah kiri.

Manuver tersebut membuat bodi Bus Mira menyenggol Bus Sugeng Rahayu yang juga tengah melaju di jalurnya. Insiden ini kemudian memunculkan perhatian karena pola pengemudian terlihat berisiko bagi pengguna jalan lain.

Kompas.com menyebut telah mencoba menghubungi pihak manajemen kedua PO terkait insiden tersebut, namun hingga tulisan ini diturunkan belum ada balasan resmi. Meski demikian, respon dari pakar keselamatan jalan turut menjadi sorotan untuk membaca ulang akar masalahnya.

Kesadaran keselamatan dan pola pikir

Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menilai kejadian ini bukan sekadar soal keterampilan berkendara. Menurut Jusri, kedua PO bus tersebut memang sudah sangat dikenal di kalangan pemerhati keselamatan jalan karena perilaku para pengemudinya yang kerap meremehkan risiko di jalan raya.

“Saya enggak mengatakan tidak tertib, tapi mereka meremehkan (bahaya). Itu bisa diduga, mungkin kesadaran tentang keselamatan mereka rendah. Karena ini bukan masalah keterampilan, tapi masalah pola pikir atau mindset,” ujar Jusri saat dihubungi Kompas.com.

Jusri menambahkan bahwa pihak kepolisian sendiri sering menyatakan bahwa hampir seluruh kecelakaan lalu lintas selalu diawali oleh adanya pelanggaran. Dengan kata lain, ia melihat rentetan insiden di jalan raya dapat dipicu oleh cara pandang pengemudi yang meremehkan keselamatan.

“Dampak yang terlihat biasanya berangkat dari kebiasaan meremehkan risiko yang akhirnya berujung pada tindakan membahayakan,” demikian arah penilaian Jusri terhadap kasus yang viral tersebut.

Dampak fatal dan hilangnya rasa tanggung jawab

Selain urusan aturan, Jusri menegaskan rendahnya safety awareness berkaitan dengan hilangnya rasa tanggung jawab di ruang publik. Ia mengingatkan bahwa sopir bus memikul tanggung jawab besar, mulai dari penumpang hingga sesama pengguna jalan, termasuk keluarga yang menunggu di rumah.

“Mereka enggak sadar kalau enggak kembali karena kecelakaan, enggak usah mati deh, masuk penjara gitu. Apa yang terjadi di rumah? Apa yang terjadi bagi perusahaan? Kan rugi besar. Mata rantai kehidupan dari seluruh aspek, baik finansial maupun masa depan keluarga, itu hancur karena si bapak tidak kembali ke rumah,” kata Jusri.

Jusri juga menekankan perbedaan antara pengemudi yang memiliki kesadaran keselamatan tinggi dengan mereka yang hanya patuh karena takut aparat. Baginya, pengemudi dengan safety awareness tinggi akan menjadikan tertib berlalu lintas sebagai kebutuhan hidup atau gaya hidup.

“Walaupun harga dirinya direndahkan di jalan, dia tetap mempertanggungjawabkan nyawa, masa depan keluarga, dan finansial perusahaan,” ucapnya.

Sanksi perusahaan dan pilihan penumpang

Melihat fenomena yang berulang, Jusri memberikan rekomendasi keras agar manajemen PO bus menyaring tenaga kerja dengan lebih serius. Ia menilai pengalaman mengemudi selama puluhan tahun tidak berarti jika tidak dibarengi aspek psikologis dan kesadaran keselamatan yang memadai.

“Percuma Anda terampil 40 tahun bawa mobil, tetapi kesadaran keselamatannya rendah. Otomatis jangan direkrut bagi perusahaannya. Sama saja memberikan dinamit atau bom yang dibawa sehari-hari, yang suatu saat bisa menghancurkan perusahaan,” tegas Jusri.

Selain dari sisi perusahaan, Jusri juga menempatkan peran masyarakat sebagai konsumen dalam memutus rantai perilaku buruk. Penumpang, menurutnya, perlu lebih bijak dan selektif saat memilih moda transportasi berdasarkan rekam jejak keselamatan.

“Bagi penumpang, masyarakat yang pintar harus bijak memilih bus. Lihat rating keselamatannya, ketertiban mereka, bukan asal sampai. Dengan cara begini akan memberi pelajaran bagi pengusaha bus maupun para driver ketika mereka surut penumpang karena masyarakat sudah sadar keselamatan,” pungkas Jusri.