jurnalistik.co.id – PEKANBARU, Kompas.com—Orangtua murid di Kota Pekanbaru mengeluhkan penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sekolah dasar negeri tertentu. Penghentian itu terjadi setelah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menghentikan operasional karena dana pendukung kegiatan belum dicairkan.
Di SDN 68 Pekanbaru, Riau, kondisi tersebut membuat siswa untuk sementara tidak lagi menerima layanan MBG. Sekolah mendapat pemberitahuan penghentian operasional dapur MBG sejak Jumat (5/6/2026), dan pihak sekolah belum menerima kejelasan kapan layanan akan kembali berjalan.
SPPG menghentikan operasional dapur
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN 68 Pekanbaru, Nurmailis, mengatakan sekolah telah menerima pemberitahuan terkait penghentian sementara operasional dapur MBG sejak Jumat (5/6/2026). Menurutnya, permasalahan MBG tidak disalurkan ke sekolah karena SPPG tidak beroperasi.
“Permasalahan MBG tak disalurkan ke sekolah kami, karena SPPG tidak beroperasi. Alasannya dana operasional dapur masih dalam proses penyaluran,” kata Nurmailis saat diwawancarai wartawan, Selasa (9/6/2026).
Nurmailis menuturkan, hingga saat ini belum ada kepastian mengenai jadwal pemulihan operasional dapur MBG. Ia menyampaikan bahwa sekolah masih menunggu informasi lanjutan dari pihak terkait agar layanan makanan bergizi dapat kembali diberikan kepada siswa.
“Belum ada kejelasan sampai kapan dapur MBG kembali beroperasi,” sebut Nurmailis.
Orangtua murid merasa terbantu saat MBG berjalan
Penghentian sementara program MBG tersebut turut dikeluhkan sejumlah orangtua siswa. Salah seorang wali murid, Ardian, mengaku tidak mengetahui penyebab terhentinya layanan makanan gratis di sekolah.
Ardian menilai MBG selama ini membantu para orangtua, terutama ketika jadwal pagi tidak selalu memungkinkan untuk menyiapkan bekal atau sarapan. Ia mengatakan, sebagian orang tua kerap tidak sempat menyiapkan kebutuhan anak sebelum berangkat sekolah.
“Ya, enggak tahu kenapa bisa tak jalan dapurnya. Payah juga jadinya, karena kadang kita tak sempat buatkan anak sarapan pagi,” ujar Ardian.
Menurut Ardian, ketiadaan MBG membuat orang tua harus mencari alternatif untuk kebutuhan sarapan anak. Ia menyatakan kondisi tersebut juga menimbulkan kekecewaan karena anak-anak sebelumnya dapat menikmati makanan gratis di sekolah.
“Kecewa lah. Kalau tak ada MBG, beli sarapan di luar jadinya. Soalnya kita kadang tak sempat masak,” kata Ardian.
Ardian menyebut anaknya selama ini merasa senang dan bangga mendapatkan makanan gratis di sekolah. Karena itu, ia berharap dapur MBG dapat segera kembali beroperasi agar para siswa kembali menerima layanan makanan bergizi tanpa harus membeli sarapan di luar.
SPPG lain di Pekanbaru juga diberitakan berhenti
Selain SDN 68, penghentian operasional juga terjadi pada SPPG Tangkerang Tengah 3 di Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru. Pemberitahuan penghentian sementara layanan ditujukan kepada sekolah dan posyandu penerima manfaat MBG.
Berdasarkan surat yang diterima Kompas.com, penghentian operasional tersebut juga berkaitan dengan penghentian sementara layanan MBG di wilayah penerima. Langkah itu membuat sekolah dan pihak terkait perlu menyesuaikan alur pemenuhan kebutuhan makan bergizi untuk penerima manfaat.
Situasi ini kemudian memunculkan keluhan dari lingkungan sekolah, terutama dari orangtua yang sebelumnya terbantu oleh program MBG. Ketika operasional dapur berhenti, kebutuhan sarapan dan makanan bergizi yang biasa diterima anak menjadi lebih sulit dipenuhi secara konsisten.
Hingga berita ini dimuat, pihak sekolah masih menunggu kejelasan mengenai kapan dapur MBG dapat kembali beroperasi. Sementara itu, keluhan orangtua mencerminkan dampak langsung penghentian layanan terhadap rutinitas harian siswa dan kemampuan keluarga menyiapkan konsumsi sebelum berangkat sekolah.












