Teknologi

Google Ubah HP Lawas Bekas Jadi “Server” Murah

×

Google Ubah HP Lawas Bekas Jadi “Server” Murah

Sebarkan artikel ini
Google Sulap HP Lawas Bekas Jadi "Server" Murah Tekno 25 Juni 2026
Ilustrasi: Google Sulap HP Lawas Bekas Jadi "Server" Murah

jurnalistik.co.id – Para peneliti dari University of California San Diego (UCSD) bekerja sama dengan Google untuk mendaur ulang smartphone lawas yang sudah tidak dipakai lagi. Alih-alih berakhir sebagai limbah elektronik, perangkat yang diubah itu dapat difungsikan sebagai data center berbiaya rendah.

Google Research menyebutkan bahwa smartphone yang sudah tidak digunakan masih menyimpan “jejak karbon” dari proses pembuatannya. Karena itu, memperpanjang usia pakai perangkat dinilai lebih ramah lingkungan dibanding langsung membuangnya dan menggantinya dengan perangkat baru.

Dalam proyek daur ulang smartphone ini, tim menemukan bahwa ponsel berusia sekitar tiga tahun masih mampu mencatatkan performa single-core yang lebih tinggi dibanding sejumlah prosesor server kelas data center pada pengujian tertentu. Temuan tersebut didasarkan pada pengujian SPEC benchmark.

Pengujian dilakukan dengan membandingkan Pixel lawas dengan prosesor server yang digunakan dalam konfigurasi data center. Salah satunya adalah Asus RS720A-E11 yang dapat dipadukan dengan GPU Nvidia H200 atau Nvidia RTX Pro 6000, serta dua prosesor AMD EPYC.

Meski performa keseluruhan server tetap jauh lebih unggul, hasil pengujian menunjukkan bahwa ponsel lawas masih cukup mumpuni untuk menangani berbagai tugas komputasi jika dirancang dengan pendekatan yang tepat. Dengan kata lain, kemampuan yang dicari bukan hanya meniru server sepenuhnya, tetapi memanfaatkan potensi komponen smartphone secara terarah.

Untuk mengubah smartphone menjadi data center, tim terlebih dahulu membongkar perangkat. Komponen yang tidak diperlukan kemudian dilepas, termasuk layar, baterai, kamera, speaker, hingga rangka ponsel.

Komponen yang dipertahankan difokuskan pada motherboard yang berisi system-on-chip (SoC) atau chipset yang menenagai smartphone. Setelah itu, sistem operasi Android pada perangkat diganti dengan Linux yang lazim digunakan di lingkungan server dan data center.

Penggunaan Linux membuat perangkat dapat menjalankan software orkestrasi seperti Kubernetes. Melalui orkestrasi tersebut, klaster berbasis banyak perangkat dapat dikelola agar menjalankan tugas komputasi secara lebih terstruktur.

Dari hasil pengujian, tim melaporkan bahwa sekitar 25–50 smartphone bekas mampu memberikan daya komputasi yang setara dengan satu prosesor server dual-socket. Angka ini menjadi rujukan ukuran kemampuan ketika beberapa perangkat lama digabung sebagai satu klaster.

UCSD juga menyampaikan bahwa klaster berisi 20 smartphone bekas cukup untuk menjalankan satu aplikasi pembelajaran yang dibutuhkan di kelas. Pengujian mereka mencakup pembelajaran untuk lebih dari 75 siswa.

Dalam skenario tersebut, aplikasi tidak perlu dijalankan pada layanan cloud yang membutuhkan biaya tambahan dan sumber daya data center yang lebih besar. Pendekatan berbasis perangkat yang sudah ada dinilai dapat menekan kebutuhan komputasi dari sisi infrastruktur.

Selain pengujian skala klaster, tim peneliti berencana membangun data center lokal yang terdiri dari sekitar 2.000 smartphone bekas. Sistem tersebut diklaim mampu melayani kebutuhan hingga ratusan kelas sekaligus.

Menurut peneliti, pendekatan ini dapat lebih hemat dibanding membangun server baru. Mereka juga menilai cara tersebut semakin relevan di tengah kenaikan harga komponen seperti chip memori dan penyimpanan.

Meskipun menjanjikan, para peneliti mengakui pendekatan ini kemungkinan tidak akan digunakan oleh perusahaan teknologi besar yang mengoperasikan pusat data AI skala besar. Alasannya, operator hyperscale seperti Google, Microsoft, atau Nvidia umumnya membutuhkan perangkat keras khusus dengan tingkat keandalan tinggi.

Operator hyperscale juga cenderung menginginkan jumlah komponen yang lebih sedikit untuk mempermudah pengelolaan. Dari perspektif itu, sistem berbasis smartphone bekas tidak dirancang untuk menggantikan kebutuhan pusat data skala besar.

Di sisi lain, sistem berbasis smartphone bekas dinilai cocok untuk kampus, lembaga pendidikan, laboratorium penelitian, maupun organisasi kecil yang memiliki keterbatasan anggaran. Fokusnya adalah menyediakan akses komputasi untuk kebutuhan pembelajaran atau riset dengan biaya yang lebih terkendali.

Tim UCSD menargetkan sistem penuh dapat mulai dioperasikan pada tahun ini. Selama pengembangan, mereka juga terus menguji ketahanan komponen smartphone dalam penggunaan jangka panjang sebagai perangkat server.

Dengan pengujian yang melibatkan SPEC benchmark serta pengukuran kapasitas klaster, proyek ini mencoba membuktikan bahwa perangkat lama yang sudah tidak dipakai masih bisa diberdayakan. Pada akhirnya, gagasan utamanya adalah memindahkan potensi komputasi smartphone ke lingkungan server melalui perakitan ulang, perubahan sistem operasi, dan orkestrasi berbasis Kubernetes.