jurnalistik.co.id – Festival Mustika Rasa di Lebak menghadirkan kembali kuliner tradisional Banten yang kini mulai sulit ditemui, dengan sederet penganan seperti jojorong hingga sate bandeng.
Festival Mustika Rasa digelar di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Selasa (16/6/2026). Acara ini menjadi bagian dari rangkaian Bulan Bung Karno 2026.
Dalam penyelenggaraannya, festival menampilkan 17 tenant UMKM yang menyajikan beragam kuliner tradisional. Pengunjung dapat mencicipi makanan khas Banten yang selama ini tidak selalu mudah ditemukan.
Sejumlah penganan yang hadir antara lain jojorong, katimus, itil mengi, gemblong, hingga sate bandeng. Festival ini juga menghadirkan pilihan jajanan tradisional lain yang diborong pengunjung pada hari pertama.
Pada hari pertama penyelenggaraan, Selasa (16/6/2026), festival langsung diserbu pengunjung yang berburu makanan tradisional yang kini semakin jarang dijumpai. Suasana itu terlihat dari banyaknya orang yang mendatangi stan-stan UMKM.
Awaliyah, warga Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, mengatakan acara tersebut membawa rasa nostalgia. Ia mengaku “Sekarang kalau sengaja cari sudah susah ya. Acara ini seperti nostalgia, banyak penganan yang pernah saya makan waktu kecil sekarang ada lagi,”.
Awaliyah juga memborong sejumlah jajanan tradisional dari berbagai stan. Ia menyebut jojorong, papais, katimus, gemblong, dan opak sebagai beberapa penganan yang ia pilih.
Festival ini tidak hanya menarik warga lokal, tetapi juga perhatian pengunjung dari luar daerah. Salah satunya datang dari Tangerang, Listy, yang mengaku baru pertama kali mencicipi beberapa makanan tradisional khas Banten.
Listy menyampaikan pengalamannya dengan antusias. “Jojorong baru pertama kali coba, ada juga sate bandeng. Unik-unik ternyata,” ujarnya.
Festival Mustika Rasa berlangsung selama lima hari, mulai 16 hingga 20 Juni 2026. Rentang waktu penyelenggaraan itu memberi kesempatan bagi lebih banyak orang untuk mengenal kembali kuliner tradisional Banten.
Dari sisi tujuan, festival juga dimaksudkan sebagai ruang promosi bagi pelaku UMKM. Pada saat yang sama, acara ini menjadi sarana memperkenalkan kembali ragam kuliner tradisional kepada masyarakat.
Festival terinspirasi buku Mustika Rasa
Ketua Panitia Bulan Bung Karno 2026, Ubaidilah Muchtar, menjelaskan festival terinspirasi dari buku Mustika Rasa. Buku tersebut merupakan kumpulan resep masakan Nusantara yang diprakarsai Presiden pertama RI, Soekarno, pada era 1960-an.
Menurut Ubaidilah, pada masa itu Bung Karno meminta Menteri Pertanian Achmad Saleh untuk menghimpun resep-resep masakan dari berbagai daerah di Indonesia. Resep-resep itu kemudian diterbitkan dalam buku Mustika Rasa.
Ubaidilah menyatakan, kegiatan ini ingin menghidupkan kembali gagasan Bung Karno agar hadir lebih dekat kepada publik. Ia mengatakan, “Di kegiatan ini kami ingin mencoba membuka kembali pemikiran Bung Karno untuk publik. Jadi pemikiran Bung Karno tidak hanya didiskusikan di lingkungan tertentu, tetapi juga didorong hadir di masyarakat. Salah satunya melalui pemikiran Bung Karno tentang kuliner dan pangan,”.
Ia menambahkan, gagasan tersebut tidak berhenti sebagai wacana, melainkan diarahkan agar dapat dirasakan langsung lewat kegiatan yang melibatkan masyarakat. Dengan begitu, pemikiran Bung Karno tentang kuliner dan pangan bisa lebih mudah dipahami.
Ubaidilah juga menyebut bahwa sejumlah kuliner khas Banten yang tercantum dalam buku tersebut kini mulai jarang dikenal generasi muda. Karena itu, Festival Mustika Rasa diposisikan sebagai salah satu upaya untuk menghidupkan kembali ragam kuliner tradisional yang perlahan terlupakan.
Dalam konteks acara di Museum Multatuli, ragam penganan yang hadir berfungsi sebagai penghubung antara resep-resep masa lalu dengan minat masyarakat saat ini. Festival mempertemukan pelaku UMKM, pengunjung, dan warisan kuliner Banten dalam satu rangkaian kegiatan.
Dengan menghadirkan 17 tenant UMKM dan pilihan menu yang mencakup jojorong, katimus, itil mengi, gemblong, opak, hingga sate bandeng, festival menegaskan upayanya menjaga keberlanjutan tradisi kuliner. Selama lima hari penyelenggaraan, pengunjung memiliki peluang untuk mencicipi sekaligus mengenal kembali makanan yang kini semakin jarang dijumpai.











