jurnalistik.co.id – Nopianto bin Tejo Santoso dilaporkan selamat setelah diduga terjatuh ke laut ketika kapal penyeberangan rute Bakauheni–Merak melintasi perairan Selat Sunda pada Kamis (4/6/2026) malam. Korban kemudian ditemukan dalam keadaan selamat pada Jumat (5/6/2026) sekitar pukul 06.30 WIB.
Peristiwa ini bermula saat Nopianto berada di bagian buritan kapal. Dalam kondisi malam yang gelap, ia diduga terpeleset ketika menoleh dan melihat ke arah laut.
Menurut informasi yang dihimpun, kejadian tersebut menimpa Nopianto, warga Desa Mulyorejo I, Kecamatan Bunga Mayang, Kabupaten Lampung Utara. Perjalanan korban dimulai dari Bandar Jaya menuju Yogyakarta menggunakan bus, sebelum ia melanjutkan perjalanan dengan menaiki kapal penyeberangan dari Pelabuhan Bakauheni.
Korban berangkat dengan kapal sekitar pukul 20.00 WIB. Saat kapal tengah berlayar melintasi Selat Sunda, ia berada di buritan kapal dan berada dalam situasi yang tidak sepenuhnya terpantau oleh orang-orang di sekitarnya.
Kronologi kejadian
Di tengah gelapnya malam, Nopianto dilaporkan terpeleset dan kemudian jatuh ke perairan laut. Kejatuhan itu tidak diketahui oleh penumpang maupun awak kapal, sehingga tidak langsung memicu pertolongan terhadap korban di lokasi kejadian.
Dalam kondisi berada di tengah laut, Nopianto sempat berteriak meminta pertolongan. Namun, teriakan tersebut tidak terdengar atau tidak disadari oleh pihak mana pun pada saat itu.
Meski berada di tengah laut dalam kondisi gelap, korban berupaya bertahan hidup. Ia mengandalkan kemampuan berenangnya untuk tetap berada di permukaan dan mencari arah menuju daratan terdekat.
Upaya bertahan ini menjadi faktor penting yang membuat Nopianto mampu melewati malam tersebut. Proses pencarian arah dan usaha menjaga diri terus dilakukan hingga akhirnya ia berhasil mencapai pulau terdekat.
Korban mencapai Pulau Penjurit dan bertahan semalaman
Dengan upaya berenang dan kemampuan bertahan di tengah perairan, Nopianto akhirnya berhasil mencapai Pulau Penjurit di wilayah Lampung Selatan. Setelah berhasil tiba di pulau tersebut, ia kemudian bertahan sepanjang malam.
Kondisi ini menunjukkan bahwa korban dapat menjaga kelangsungan hidup di tengah situasi darurat yang tidak mudah. Selain kemampuan fisik, ketahanan mental juga ikut menentukan selama proses bertahan hingga menjelang pagi.
Selama berada di Pulau Penjurit, Nopianto tidak hanya harus tetap aman, tetapi juga menunggu adanya kemungkinan bantuan dari pihak luar. Malam yang panjang itu menjadi waktu penting sebelum akhirnya korban bisa ditemukan.
Ditemukan pada Jumat sekitar pukul 06.30 WIB
Keesokan harinya, Jumat (5/6/2026) sekitar pukul 06.30 WIB, korban ditemukan oleh warga yang sedang memancing di sekitar Pulau Penjurit. Temuan tersebut kemudian segera dilaporkan kepada pihak berwenang.
Setelah dilaporkan, Nopianto dievakuasi dalam kondisi selamat. Ia kemudian mendapatkan penanganan lebih lanjut sesuai kebutuhan setelah peristiwa terjatuh dan bertahan selama semalaman.
Kasat Polair Polres Lampung Selatan, IPTU Panpan Hermayadi, membenarkan adanya laporan tersebut. Ia menyatakan bahwa informasi yang diterima pihak kepolisian terkait peristiwa ini mengarah pada kondisi korban yang selamat.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena rangkaian kejadiannya menunjukkan bagaimana korban dapat bertahan meski terjatuh tanpa diketahui sejak awal. Dari situasi terjatuh di Selat Sunda pada malam hari hingga ditemukan pada pagi hari, Nopianto berhasil melewati proses yang berisiko tinggi.
Dengan demikian, upaya korban untuk terus mengapung, mencari arah, dan mencapai Pulau Penjurit menjadi bagian krusial dari keselamatannya. Pada akhirnya, proses pencarian itu bertemu dengan waktu dan lokasi ditemukannya korban oleh warga pada sekitar pukul 06.30 WIB.
Keselamatan Nopianto lantas menjadi penutup dari rangkaian insiden pada Kamis malam, sekaligus memastikan bahwa laporan dugaan terjatuh ke laut berujung pada kabar korban selamat. Peristiwa Bakauheni–Merak ini memperlihatkan pentingnya respons dan kewaspadaan di tengah aktivitas kapal di perairan Selat Sunda.







