Internasional

Timothy Astandu: Orang Indonesia Pertama yang Menjelajah 197 Negara di Dunia

3
×

Timothy Astandu: Orang Indonesia Pertama yang Menjelajah 197 Negara di Dunia

Sebarkan artikel ini
Kisah Timothy Astandu, Orang Indonesia Pertama yang Mengunjungi 197 Negara di Dunia News 8 Juni 2026
Ilustrasi: Kisah Timothy Astandu, Orang Indonesia Pertama yang Mengunjungi 197 Negara di Dunia

jurnalistik.co.id – Perjalanan ke luar negeri bagi sebagian orang identik dengan liburan, kuliner, atau sekadar mengejar daftar destinasi. Namun, bagi Timothy Astandu, bepergian lintas batas sudah menjadi cara untuk memahami manusia melalui pengalaman langsung.

Selama bertahun-tahun, ia berpindah dari satu negara ke negara lain dengan satu tujuan yang tidak mudah: mempelajari cara manusia berpikir, berinteraksi, mengambil keputusan, dan memaknai kebahagiaan. Dari upaya itu, ia mengunjungi 197 negara dan wilayah di dunia menggunakan paspor Indonesia.

Dalam liputan tersebut disebutkan bahwa Astandu menjadi orang pertama yang menuntaskan perjalanan ke 197 negara dengan paspor Indonesia. Ia juga digambarkan sebagai peneliti pertama yang berhasil melakukan perjalanan tersebut, termasuk saat menjalankan penelitian terkait suku Mundari di Sudan Selatan.

Perjalanan Astandu mencakup 197 destinasi dengan rincian yang jelas. Dari jumlah itu, sebanyak 193 merupakan negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dua negara berstatus pengamat PBB, yaitu Vatikan dan Palestina, serta dua wilayah dengan pengakuan terbatas, yakni Taiwan dan Kosovo.

Belajar manusia lewat hadir di tempat

Menurut narasi perjalanan yang ia jalani, tujuannya bukan sekadar berpindah tempat. Setiap negara yang didatangi diperlakukan sebagai ruang belajar untuk memahami berbagai aspek kehidupan sosial, mulai dari pola pikir hingga cara orang memaknai kebahagiaan dalam keseharian mereka.

Astandu menempatkan interaksi dengan penduduk lokal sebagai bagian penting dari proses belajarnya. Ia menyebut percakapan dengan warga setempat sering kali lebih bernilai dibanding membaca laporan atau melihat data dari balik layar komputer.

Ia juga menggambarkan bagaimana kunjungan lapangan membantunya menangkap wawasan yang sulit diperoleh tanpa hadir langsung. “Setiap pasar yang saya kunjungi menjadi arena observasi lapangan. Dan kebiasaan konsumsi masyarakat, mulai dari negara yang sedang dilanda konflik hingga negara terkaya di dunia, menghasilkan wawasan yang tidak dapat diperoleh tanpa hadir secara langsung,” ujar Astandu saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Minggu (7/6/2026).

Pendekatan observasinya menekankan pertemuan langsung dengan konteks sosial yang beragam. Dengan cara itu, ia menilai bahwa kebiasaan sehari-hari—termasuk yang terbentuk dalam kondisi berbeda-beda—dapat dibaca lebih utuh ketika seseorang berada di tengah kehidupan masyarakat tersebut.

Pengalaman yang mengubah cara pandang

Selama menempuh perjalanan ke berbagai wilayah, Astandu berulang kali menemukan kenyataan yang jauh berbeda dari asumsi yang selama ini berkembang. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya terjadi ketika ia mengunjungi Irak.

Alih-alih hanya menemukan wajah yang diasosiasikan dengan konflik, Astandu melihat sisi lain yang tidak banyak diketahui orang. Ia mengatakan, “Orang Irak benar-benar ramah. Memperlakukan semua orang layaknya tamu mereka sendiri. Bahkan, di beberapa kesempatan mereka mengajak saya untuk makan di rumahnya,”

Kesaksian itu kemudian menjadi contoh bahwa informasi yang tersebar di ruang publik tidak selalu cukup untuk menggambarkan kehidupan nyata. Dalam pengamatan Astandu, perbedaan persepsi tersebut juga muncul karena orang sering hanya mengetahui suatu tempat dari pemberitaan, bukan dari pengalaman langsung bersama orang-orang di dalamnya.

Pengalaman serupa juga ia temukan di sejumlah negara yang selama ini identik dengan konflik bersenjata. Astandu menyoroti Somalia dan Yaman sebagai contoh wilayah yang kerap muncul dalam pemberitaan terkait perang, tetapi tetap memperlihatkan kehidupan sosial yang berjalan sebagaimana mestinya.

Di kedua negara itu, ia melihat masih adanya ruang-ruang aktivitas sehari-hari yang umum dijumpai dalam kehidupan sosial. “Di sana masih terdapat pusat perbelanjaan, taman hiburan, hingga masyarakat yang menghabiskan waktu bersantai bersama keluarga.”

Makna perjalanan melampaui daftar destinasi

Jika dilihat sekilas, angka 197 dapat terasa seperti pencapaian berbasis daftar tujuan. Namun, dalam cerita Astandu, angka tersebut berdiri di atas proses panjang untuk memahami manusia dari berbagai latar, kondisi, dan kebiasaan.

Perjalanan Astandu menunjukkan bahwa belajar tentang manusia tidak harus dimulai dari asumsi, melainkan dari pertemuan langsung. Dengan mendekati kehidupan masyarakat melalui observasi lapangan dan percakapan, ia berupaya membaca cara orang membangun interaksi serta membentuk keputusan sehari-hari di tengah konteks masing-masing negara.

Dalam pandangannya, kebiasaan konsumsi, cara masyarakat bersosialisasi, hingga cara orang memaknai kebahagiaan memiliki pola yang bisa dipahami lebih dalam ketika seseorang hadir langsung. Itulah sebabnya perjalanan ke 197 negara tidak ia anggap hanya sebagai perpindahan geografis, melainkan sebagai rangkaian pembelajaran yang membentuk cara pandangnya terhadap manusia.