Peristiwa

Tips Makan Daging Kurban agar Kolesterol Tetap Aman

1
×

Tips Makan Daging Kurban agar Kolesterol Tetap Aman

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tips Makan Daging Kurban agar Kolesterol Tetap Aman - Gaya Hidup

jurnalistik.co.id – Momen Iduladha selalu identik dengan aneka olahan daging sapi dan kambing dari hewan kurban. Di banyak rumah, sajian seperti sate, gulai, hingga tongseng menjadi menu yang sulit dihindari. Namun, bagi penderita kolesterol tinggi, hidangan-hidangan itu kerap memunculkan kekhawatiran tersendiri saat jam makan tiba.

Dokter spesialis gizi Johanes Chandrawinata mengatakan daging murni sapi dan kambing sebenarnya relatif aman dikonsumsi oleh penderita kolesterol. Menurut dia, kandungan lemak pada daging tersebut hanya sekitar 1%, sehingga tidak otomatis menjadi masalah selama dikonsumsi dengan cara yang tepat dan dalam jumlah yang wajar.

“Yang perlu dihindari justru bagian berlemak seperti iga, buntut, jeroan, kaki, leher, kulit, dan kepala. Selain itu, konsumsi santan pada gulai juga sebaiknya dibatasi agar kadar kolesterol tidak meningkat,” ujarnya kepada Bloomberg Technoz.

Penjelasan itu penting karena dalam praktiknya, bukan hanya daging yang perlu diperhatikan, tetapi juga bagian-bagian tertentu yang sering justru jadi favorit saat perayaan. Potongan berlemak memang kerap dianggap paling gurih, tetapi justru di situlah risiko bagi mereka yang harus menjaga asupan kolesterol. Karena itu, pilihan potongan daging menjadi salah satu kunci utama saat menyantap hidangan kurban.

Gulai dan tongseng juga perlu mendapat perhatian lebih karena penggunaan santan dapat menambah asupan lemak yang masuk ke tubuh. Jika dikonsumsi tanpa batas, sajian semacam ini bisa membuat pola makan hari raya menjadi jauh lebih berat bagi tubuh. Johanes menekankan bahwa pembatasan santan menjadi langkah sederhana yang bisa membantu menjaga kadar kolesterol tetap aman.

Selain kolesterol, konsumsi daging dalam porsi berlebihan juga disebut bisa memicu peningkatan kadar asam urat dalam tubuh. Artinya, risiko yang muncul bukan hanya berkaitan dengan lemak, tetapi juga dengan keseimbangan metabolisme tubuh secara keseluruhan. Karena itu, masyarakat disarankan tidak menjadikan momen hari raya sebagai alasan untuk makan tanpa kendali.

Dalam suasana Iduladha, porsi makan sering kali sulit dikontrol karena makanan tersedia sepanjang hari dan tersaji dalam berbagai bentuk olahan. Meski begitu, Johanes mengingatkan agar masyarakat tetap memperhatikan jumlah yang dimakan. Menjaga porsi bukan berarti menolak hidangan kurban, melainkan memastikan tubuh tetap nyaman setelah menikmati perayaan.

“Jadi makanlah secukupnya, jangan berlebihan,” katanya.

Pesan itu menjadi pengingat bahwa menikmati daging kurban tidak harus identik dengan pola makan berisiko. Daging sapi dan kambing tetap bisa disantap selama bagian berlemak dibatasi, santan tidak berlebihan, dan porsi makanan tetap dijaga. Dengan cara itu, momen Iduladha tetap bisa dinikmati tanpa membuat kesehatan terabaikan.

Di tengah kebiasaan berbagi dan menyantap bersama, kesadaran untuk memilih bagian daging yang lebih aman menjadi penting. Masyarakat yang memiliki riwayat kolesterol tinggi tetap dapat ikut menikmati olahan kurban, asalkan lebih cermat dalam menentukan menu dan tidak berfokus pada bagian yang terlalu berlemak. Langkah sederhana ini bisa membantu membuat perayaan tetap terasa hangat tanpa mengorbankan kondisi tubuh.

Dengan demikian, kunci utama bukanlah menghindari daging kurban sepenuhnya, melainkan mengatur cara mengonsumsinya. Daging murni sapi dan kambing masih tergolong aman, tetapi bagian berlemak, jeroan, serta santan pada gulai perlu dibatasi. Di hari raya, secukupnya tetap lebih baik daripada berlebihan.

Prinsipnya, hidangan kurban tetap bisa dinikmati tanpa harus mengubah seluruh pola makan menjadi berlebihan. Memilih potongan yang lebih ramping, membatasi kuah bersantan, dan berhenti sebelum kenyang berlebih adalah cara sederhana agar makan bersama tetap terasa nyaman. Dengan begitu, perayaan tetap berjalan hangat, sementara tubuh tidak dipaksa bekerja terlalu berat setelah menyantap makanan yang kaya olahan.

Langkah kecil seperti itu juga membantu menjaga keseimbangan saat meja makan dipenuhi berbagai menu. Bagi penderita kolesterol tinggi, kehati-hatian semacam ini lebih penting daripada sekadar menolak semua hidangan. Selama porsi dijaga dan bagian berlemak tidak mendominasi, momen berbagi di hari raya masih bisa dinikmati dengan lebih tenang.