jurnalistik.co.id – WASHINGTON DC — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku tidak khawatir terhadap dampak politik dari perang berkepanjangan dengan Iran, meski popularitasnya terus menurun. Ia menegaskan Iran keliru jika mengira dirinya akan melunak demi menghindari konflik yang lebih panjang di tengah tekanan politik menjelang pemilu paruh waktu AS.
Trump menyampaikan pernyataan itu dalam rapat kabinet di Gedung Putih pada Rabu (27/5/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menolak anggapan bahwa sikap keras terhadap Iran akan merugikan posisinya secara elektoral. “Mereka pikir bisa menunggu saya menyerah. Mereka berpikir, ‘Dia punya pemilu paruh waktu’. Saya tidak peduli dengan pemilu paruh waktu,” kata Trump.
Trump juga menyinggung kemenangan Ken Paxton dalam pemilihan pendahuluan Partai Republik di Texas. Paxton diketahui mengalahkan Senator petahana John Cornyn dengan dukungan dari Trump. Penyebutan itu menjadi salah satu contoh yang ia gunakan untuk menunjukkan bahwa pengaruh politiknya di internal Partai Republik masih kuat.
Namun, menurut laporan Wall Street Journal, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Trump memang menurun selama perang AS-Iran berlangsung. Sejumlah faktor ikut menekan dukungan terhadap pemerintahannya, termasuk penutupan Selat Hormuz, inflasi yang terus berlanjut, serta kenaikan harga bensin. Kombinasi persoalan itu disebut memberi beban tambahan pada posisi politik Trump di dalam negeri.
Trump sendiri merespons kritik bahwa dirinya telah membawa Amerika Serikat ke dalam konflik tanpa akhir di Timur Tengah. Kritik semacam itu, menurut laporan tersebut, bertentangan dengan janji kampanyenya yang dulu ingin menghindari keterlibatan berkepanjangan di kawasan itu. Meski demikian, Trump menolak menyebut situasi di Iran sebagai perang.
“Saya tidak menyebutnya perang. Saya menyebutnya konflik,” ujar Trump. Pernyataan itu memperlihatkan cara ia membingkai situasi agar tetap sesuai dengan narasi politik yang ingin dijaganya, meski tekanan publik dan kritik terhadap kebijakan luar negerinya terus menguat.
Di sisi lain, Trump mengatakan dirinya masih membuka ruang negosiasi dengan Iran. Meski begitu, ia tidak menutup kemungkinan adanya aksi militer tambahan. Sikap itu menunjukkan bahwa pemerintahannya masih menempatkan diplomasi berdampingan dengan ancaman penggunaan kekuatan, tanpa memberikan sinyal bahwa opsi militer telah dikesampingkan sepenuhnya.
Dalam pernyataannya, Trump juga menyebut ekonomi Iran kini berjalan “dengan sisa tenaga” dan mengalami “inflasi 250 persen”. Ungkapan itu ia gunakan untuk menggambarkan betapa berat tekanan ekonomi yang dihadapi Teheran di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio kemudian menegaskan bahwa pemerintahan Trump tetap lebih menginginkan penyelesaian diplomatik dengan Iran. “Diplomasi selalu menjadi pilihan pertama,” kata Rubio. Kendati demikian, ia menegaskan garis merah Washington tetap sama, yakni Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
“Intinya adalah Iran dan orang-orang yang menjalankan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” ujar Rubio. Pernyataan itu menegaskan bahwa sekalipun ruang dialog masih dibuka, posisi Amerika Serikat terhadap program nuklir Iran tidak berubah.
Di tengah semua itu, sejumlah politikus Partai Republik disebut mulai khawatir bahwa perang Iran dapat menurunkan partisipasi pemilih Partai Republik dan memicu kekalahan besar dalam pemilu November mendatang. Kekhawatiran tersebut mencerminkan adanya tarik-menarik di tubuh partai antara dukungan terhadap sikap keras Trump dan risiko politik yang mungkin muncul jika konflik terus berlarut.
Trump sendiri mengakui ada kekhawatiran terkait konsekuensi politik dari konflik berkepanjangan itu. Namun, dalam pandangannya, tekanan semacam itu tidak cukup untuk membuatnya mengubah sikap terhadap Iran. Bagi Trump, hitung-hitungan elektoral tidak menjadi alasan untuk melunak, sekalipun popularitasnya dilaporkan terus tergerus akibat perang yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.












