Daerah

Warga Bekasi Bisa Buat SIM dan SKCK dari Tabungan Sampah, Tanpa Uang Tunai

1
×

Warga Bekasi Bisa Buat SIM dan SKCK dari Tabungan Sampah, Tanpa Uang Tunai

Sebarkan artikel ini
Tak Perlu Uang Tunai, Warga Bekasi Bisa Gunakan Tabungan Sampah untuk Buat SIM dan SKCK News 4 Juni 2026
Ilustrasi: Tak Perlu Uang Tunai, Warga Bekasi Bisa Gunakan Tabungan Sampah untuk Buat SIM dan SKCK

jurnalistik.co.id – Kamis (4/6/2026), Polres Metro Bekasi meluncurkan program Green Service yang menyasar pengelolaan sampah rumah tangga. Dalam program ini, sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat ditabung lalu dikonversi untuk membantu biaya pembuatan maupun perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM) dan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK).

Program tersebut membuat sejumlah warga Kabupaten Bekasi merasa terbantu, baik dari sisi biaya maupun dari dorongan untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Warga juga memanfaatkan mekanisme tabungan sampah sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan administrasi kepolisian tanpa mengandalkan uang tunai di awal proses.

Budiyono (30), warga Perumahan Meadow Green, Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, menyebut program Green Service memberi dampak ekonomi sekaligus membuka ruang edukasi bagi masyarakat. Ia mengatakan, “Programnya sangat bermanfaat, ya. Bisa buat edukasi masyarakat juga,” saat ditemui di Polres Metro Bekasi pada Kamis (4/6/2026).

Menurut Budiyono, jenis sampah yang dibutuhkan dalam kegiatan ini—seperti botol plastik dan kardus—relatif mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Ia menjelaskan, “Kalau sudah terkumpul, baru dipilah. Habis itu nanti dicatat sama koordinator bersama warga setempat,” sehingga proses pengumpulan dan pencatatan berlangsung lebih terarah.

Budiyono juga menuturkan bahwa tabungan sampah yang dikumpulkan dapat membantu mengurangi biaya pembuatan SIM. Jika jumlah tabungan belum mencukupi, masyarakat tetap dapat menambah kekurangannya menggunakan uang pribadi, namun prosesnya dinilai menjadi lebih cepat. Ia menambahkan, “Kalaupun tabungannya belum cukup, bisa nambah pakai uang pribadi. Tapi prosesnya jadi lebih cepat,”.

Pada lingkungannya, pengelolaan sampah telah dilakukan sejak lama untuk mendukung kebutuhan bersama warga. Saat mengikuti program Green Service, Budiyono membawa sekitar tiga kilogram sampah yang terdiri dari botol plastik dan kardus, dengan tujuan mengurangi beban biaya pengurusan dokumen kepolisian.

Dalam praktiknya, kekurangan biaya pengurusan SIM dibayarkan menggunakan dana pribadi. Budiyono menilai waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan sampah juga tidak terlalu lama, dengan menyatakan, “Biasanya enggak sampai seminggu buat ngumpulin tiga kilo sampah atau lebih,”.

Sikap serupa juga datang dari Joko Sunarto (41), warga Perumahan Puri Cikarang Hijau. Ia melihat program ini mengubah sampah yang selama ini dibuang menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi, khususnya untuk mendukung kebutuhan administrasi.

Joko menilai manfaatnya terasa karena penggunaan sampah dapat berkontribusi langsung pada kelanjutan status kepemilikan SIM. Ia menyebut, “Dengan adanya program ini, SIM saya bisa aktif kembali cuma lewat ngumpulin botol plastik,”.

Melalui kesaksian Budiyono dan Joko, program Green Service yang dijalankan Polres Metro Bekasi pada 4 Juni 2026 menunjukkan mekanisme tabungan sampah sebagai penghubung antara pengelolaan lingkungan dan pemenuhan kebutuhan dokumen kepolisian. Dengan langkah pengumpulan, pemilahan, pencatatan oleh koordinator bersama warga, program ini memberi alternatif pembiayaan yang lebih bertumpu pada nilai dari sampah yang ditabung.

Meski demikian, baik Budiyono maupun Joko tetap menegaskan bahwa bila tabungan belum mencukupi, kekurangannya dapat ditutup dengan uang pribadi. Pada titik itu, program tidak menghapus seluruh kebutuhan biaya, tetapi berperan mengurangi beban pengeluaran awal dan membantu mempercepat proses.

Di lapangan, alur programnya juga dipahami sebagai kebiasaan yang bisa dijalankan dari rumah. Sampah yang selama ini dibuang kemudian dikumpulkan lebih dulu, lalu saat sudah terkumpul warga melakukan pemilahan sesuai jenisnya sebelum diserahkan dan dicatat oleh koordinator bersama warga setempat. Dengan cara itu, proses pengumpulan tidak berhenti di tahap “menabung”, tetapi berlanjut sampai ada pencatatan yang membuat kegiatan berjalan lebih terarah dan terukur.

Selain membantu biaya yang berkaitan dengan SIM, mekanisme tabungan sampah dalam Green Service juga diposisikan sebagai penunjang kebutuhan administrasi kepolisian lainnya, termasuk untuk SKCK. Warga lantas melihatnya sebagai opsi yang membuat pengeluaran di awal tidak terlalu terasa, karena nilai sampah dapat ikut dikonversi untuk mendukung kelanjutan dokumen. Apabila hasil tabungan belum mencukupi, warga tetap bisa menutup selisih dengan dana pribadi, namun dengan harapan proses tetap lebih cepat dibanding harus menyiapkan semuanya sejak awal.