Daerah

Kemarau Panjang Mengeringkan Sawah Lampung, Modal Pulang Petani Belum Tentu Untung

×

Kemarau Panjang Mengeringkan Sawah Lampung, Modal Pulang Petani Belum Tentu Untung

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: "Untung Rasanya Berat, Modal Pulang Belum Tentu", Harapan yang Mengering di Sawah Lampung

jurnalistik.co.id – Panas yang berlangsung tanpa jeda membuat sawah di Desa Sungai Langka, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung, perlahan kehilangan warna hijaunya. Di bawah terik matahari, retakan mulai muncul di sela rumpun padi yang baru tumbuh.

Bagi Pusnun (56), perubahan itu bukan sekadar tanda pergantian musim. Ia melihatnya sebagai pertaruhan langsung terhadap kebutuhan hidup, karena nafkahnya masih bertumpu pada lahan yang ia garap seluas sekitar 7.000 meter persegi.

Pusnun menuturkan, hujan di wilayahnya mulai jarang turun sejak satu setengah hingga dua bulan terakhir. Meski kemarau belum lama, dampaknya sudah terasa pada pertumbuhan tanaman yang melambat dan sebagian mulai mengering.

Ia menjelaskan bahwa padi tidak berkembang seperti yang diharapkan ketika pasokan air terbatas. “Kalau pas cuaca kayak gini, kita tidak tahu. Modal pulang saja belum tentu, boro-boro untung, kadang malah buntung,” kata Pusnun saat ditemui di sawahnya pada Kamis (30/7/2026).

Air makin terbatas, pertumbuhan melambat

Di sawahnya, Pusnun mengamati kondisi tanah yang semakin sulit mempertahankan kelembapan. Tanaman yang semestinya tumbuh subur justru terlihat tertahan, terutama pada bagian yang paling bergantung pada ketersediaan air.

Menurutnya, masalah utama muncul ketika air tidak bisa dimasukkan secara memadai. “Kalau tidak dimasukin air, kering. Padahal, kami sudah keluar biaya untuk pupuk, bibit, tenaga tanam, sampai olah lahan. Itu bukan sedikit,” ujarnya.

Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan jeda musim yang terasa lebih panjang dibanding kebiasaan yang biasa ia hadapi. Ketika hujan tidak turun sesuai waktu, proses perawatan dan penopang pertumbuhan tanaman menjadi semakin menantang.

Dalam praktiknya, biaya yang dikeluarkan petani tidak berhenti pada penanaman saja. Pusnun menempatkan berbagai komponen—mulai dari pupuk, bibit, tenaga tanam, hingga olah lahan—sebagai rangkaian kerja yang sudah berjalan sejak awal musim.

Hasil normal kini hanya jadi bayangan

Pada kondisi yang tergolong normal, sawah milik Pusnun dapat menghasilkan 4 hingga 5 ton gabah per musim tanam. Namun, besaran tersebut sudah melalui pemotongan biaya produksi yang harus dibayarkan selama proses budidaya.

Ia menyebut bahwa ongkos-ongkos tersebut termasuk sewa alat panen dan tenaga kerja. Dengan begitu, yang tersisa untuk petani sangat ditentukan oleh kelancaran pertumbuhan hingga tahapan panen.

Ketika tanaman mulai menunjukkan tanda mengering, petani tidak hanya memikirkan kemungkinan hasil, tetapi juga besarnya biaya yang sudah terlanjur dikeluarkan. Kondisi ini membuat perhitungan keuntungan berubah menjadi perhitungan bertahan: apakah modal bisa kembali, ataukah justru tidak sebanding dengan tenaga dan pengeluaran.

Pusnun mengaku belum berani menyebut keadaan yang terjadi sebagai gagal panen. Menurutnya, keputusan mengenai hasil akhir masih menunggu perkembangan ke depan, meskipun tanda-tanda kerentanan mulai terlihat jelas.

“Kalau ngomong gagal, kita belum tahu nantinya. Tapi, harapannya tipis,” ucap Pusnun. Pernyataan itu menunjukkan sikap hati-hati petani ketika menghadapi ketidakpastian musim.

Di tengah hamparan sawah yang berubah, ia memilih menunggu dengan harapan air dapat membantu tanaman bertahan. Akan tetapi, jeda hujan yang memanjang sudah cukup untuk mengubah cara petani memandang musim tanam.

Dengan waktu tanam yang sudah dijalani dan berbagai biaya yang telah keluar, harapan keuntungan menjadi semakin sempit. Bagi Pusnun, yang paling ingin dipastikan bukan lagi soal untung besar, melainkan peluang modal pulang—meski hal tersebut pun belum tentu.

Ketika kemarau terus memberi tekanan pada ketersediaan air, petani di Pesawaran menghadapi risiko yang sama: hasil yang tidak bisa diprediksi, sementara biaya tetap berjalan. Di sawah yang mulai mengering, setiap hari menjadi penanda apakah tanaman akan berbalik pulih atau justru semakin sulit tumbuh.