Daerah

Warga Gorontalo Resah Cagar Budaya Dibongkar: Wisatawan Tak Datang untuk Melihat Mall

×

Warga Gorontalo Resah Cagar Budaya Dibongkar: Wisatawan Tak Datang untuk Melihat Mall

Sebarkan artikel ini
Warga Gorontalo Resah Cagar Budaya Dibongkar: Wisatawan Tidak Datang untuk Melihat Mall Regional 24 Juni 2026
Ilustrasi: Warga Gorontalo Resah Cagar Budaya Dibongkar: Wisatawan Tidak Datang untuk Melihat Mall

jurnalistik.co.id – Warga Gorontalo resah setelah cagar budaya di Kelurahan Ipilo, Jalan Nani Wartabone dibongkar beberapa hari lalu. Mereka khawatir pembongkaran itu membuat tinggalan sejarah yang selama ini menjadi memori kota ikut hilang.

Bangunan tersebut disebut sebagai saksi bisu peristiwa Deklarasi Kemerdekaan Indonesia 23 Januari 1942. Saat lokasi pembongkaran didatangi, bangunan tua itu tampak sedang dibongkar.

Andi Asri, salah satu warga, menyampaikan kegelisahan karena bila tidak dilestarikan, bukan hanya fisik bangunannya yang rusak atau lenyap. Menurutnya, pembongkaran ini juga turut menghilangkan identitas kota.

“Bangunan tua ini sebagai memori kota Gorontalo , sekarang sudah dibongkar. Padahal bangunan ini menjadi buku sejarah yang bisa disentuh. Rumah tua roboh, cerita pendiri kota, perjuangan, arsitektur lokal ikut lenyap. Anak cucu nanti tidak punya bukti fisik masa lalu,” kata Andi Asri, salah seorang warga Gorontalo, Rabu (24/6/2026).

Ia juga menyoroti aspek pengetahuan yang melekat pada bangunan tersebut. “Tukang zaman dulu jago bikin rumah tahan gempa tanpa paku, ventilasi silang alami. Kalau bangunannya dibongkar, ilmunya tidak bisa diwariskan. Generasi sekarang harus belajar dari YouTube , bukan dari bangunan asli,” ujarnya.

Bagi warga, kehilangan bangunan bersejarah tidak berhenti pada aspek budaya dan pendidikan. Gorontalo dinilai juga berpotensi kehilangan manfaat ekonomi dari wisata yang mulai tumbuh, khususnya wisata kota tua bagi wisatawan Nusantara maupun mancanegara.

Andi menilai minat wisatawan juga berkaitan langsung dengan daya tarik bangunan sejarah. “Wisatawan mancanegara tidak datang ke Gorontalo untuk melihat mall . Mereka datang buat menyaksikan keunikan misalnya Benteng Otanaha, bangunan bersejarah . Jika bangunan rusak maka daya tarik wisata hilang, akibatnya hotel , UMKM, ojek wisata terancam sepi,” ujarnya.

Sejumlah warga lain turut berharap kunjungan pejabat ke Gorontalo tidak hanya bersifat seremonial. Mereka menantikan Presiden Prabowo beserta pejabat tinggi yang dijadwalkan menghadiri Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo meluangkan waktu melihat proses pembongkaran bangunan bersejarah tersebut.

Erik menyampaikan harapannya agar presiden menyaksikan langsung kondisi yang terjadi. “Dalam kunjungan ke Gorontalo, kami berharap Presiden dapat menyaksikan langsung bagaimana tinggalan sejarah kemerdekaan Indonesia dihancurkan,” ujar Erik.

Selain suara warga, pembongkaran cagar budaya juga mendapat sorotan dari Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI). Organisasi ini menilai pembongkaran tersebut sebagai bentuk penghapusan memori kolektif.

Joni Apriyanto, Ketua MSI Gorontalo, menyebut praktik itu berpotensi memutus kesinambungan sejarah lokal Gorontalo dengan narasi sejarah nasional. Ia menyoroti konteks perkembangan sistem komunikasi serta dinamika sosial politik menjelang kemerdekaan.

“Kami mengecam praktik pembangunan yang mengabaikan aspek historis dan kultural, serta mendesak agar setiap kebijakan pembangunan di wilayah Gorontalo berbasis pada prinsip heritage-sensitive development,” katanya, Selasa (23/6/2026).

Bagi Joni, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan fondasi identitas kolektif, memori sosial, dan kesadaran kebangsaan. Penilaian tersebut menguatkan kekhawatiran warga bahwa pembongkaran bangunan bersejarah bisa berdampak luas, baik pada pemahaman identitas maupun potensi pariwisata kota.

Kekhawatiran warga juga muncul karena bangunan yang dibongkar bukan hanya berdiri sebagai objek fisik, melainkan ruang yang menyimpan keterkaitan cerita asal-usul dan perkembangan kota. Ketika proses pembongkaran terjadi, masyarakat merasa sulit menyampaikan keberatan sebelum jejak sejarah itu benar-benar hilang.

Dari sisi MSI, penilaian yang disampaikan menekankan bahwa pembangunan yang mengabaikan nilai sejarah dan kultural dapat menghapus kesinambungan memori yang selama ini menghubungkan perjalanan lokal Gorontalo dengan narasi nasional. MSI mendorong agar setiap keputusan pembangunan di wilayah Gorontalo mempertimbangkan prinsip heritage-sensitive development dan dampaknya pada pemahaman publik.

Warga memandang dampaknya tidak berhenti pada sektor budaya dan pengetahuan, tetapi juga menyentuh keberlangsungan aktivitas ekonomi yang tumbuh dari minat kunjungan. Ketika bangunan bersejarah yang menjadi daya tarik wisata rusak atau lenyap, ketertarikan wisatawan dinilai berpotensi menurun, sehingga berbagai usaha penunjang kunjungan turut merasakan efeknya.