Daerah

Warga Satu RT di Ambon Cegah Sampah Rumah Tangga Tercemari Teluk

×

Warga Satu RT di Ambon Cegah Sampah Rumah Tangga Tercemari Teluk

Sebarkan artikel ini
Cara Warga 1 RT di Ambon Cegah Sampah Rumah Tangga Cemari Teluk Regional 24 Juni 2026
Ilustrasi: Cara Warga 1 RT di Ambon Cegah Sampah Rumah Tangga Cemari Teluk

jurnalistik.co.id – Warga RT 003 RW 002 di Negeri Hative Besar, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon menerapkan sistem audit sampah rumah tangga melalui pemilahan, penimbangan, serta pencatatan dari tiap rumah sebelum sampah diolah menjadi berbagai produk daur ulang.

Inisiatif itu digerakkan oleh Beta Bank Sampah (BBS) dan diarahkan agar kawasan tersebut menjadi percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Ambon. Program ini tidak berhenti pada pemilahan, tetapi juga menempatkan data produksi sampah sebagai dasar kerja komunitas.

Dalam pelaksanaannya, warga menerima dua jenis tempat sampah secara gratis untuk memisahkan sampah organik dan anorganik. Tahap berikutnya adalah proses audit yang dilakukan secara berkala, yaitu melakukan sampling, pencatatan, dan penimbangan sampah sebelum dibawa ke pusat pengolahan milik komunitas.

Founder Beta Bank Sampah, George Manuhua, menjelaskan bahwa pemberian dua tempat sampah menjadi langkah awal untuk memahami besaran sampah yang muncul dari sumbernya. “Awalnya kami berikan dua jenis tempat sampah secara gratis kepada setiap rumah di RT 003. Nantinya sampah-sampah itu kami sampling, dicatat, ditimbang. Itu bertujuan untuk mengetahui jumlah timbulan atau produksi sampah dari sumbernya (setiap rumah tangga), baik organik maupun anorganik,” ujarnya pada Selasa (23/6/2026).

Negeri Hative Besar berada di kawasan pesisir Teluk Ambon. Di wilayah tersebut, sejumlah aliran sungai menghubungkan daerah pegunungan ke pesisir, sehingga sampah rumah tangga berpotensi terbawa hingga ke perairan apabila tidak dikelola dengan baik.

George yang akrab disapa Jo menuturkan bahwa program audit dilakukan dengan pendekatan percontohan yang langsung melibatkan satu RT sebagai pionir. “Sebagai langkah awal yang nyata beta pake satu RT untuk jadi pionir percontohan. Warga dibekali pengetahuan dan cara mengaudit sampah mandiri. Caranya kami bagi setiap rumah tempat sampah gratis. Masing-masing dua jenis tempat sampah,” katanya.

Selain membagikan sarana pemilahan, tim Beta Bank Sampah juga memberikan edukasi mengenai jenis-jenis sampah serta cara pengelolaannya. Pola pembinaan ini membuat warga tidak hanya memilah, tetapi juga memahami bagaimana hasil pemilahan tersebut kemudian diukur dan dicatat.

Dalam rangka audit, relawan Beta Bank Sampah mendatangi rumah warga setiap dua hingga tiga hari sekali. Pada kunjungan tersebut, relawan memeriksa isi tempat sampah, menimbang, lalu mencatat hasilnya. Setelah proses audit selesai, sampah yang sudah dipilah kemudian dibawa ke pusat pengolahan komunitas.

Pengumpulan umumnya dilakukan pada sore hingga malam hari, saat sebagian besar sampah rumah tangga telah terkumpul. Cara ini membantu memastikan proses penimbangan dan pencatatan mengikuti ritme produksi sampah di rumah warga.

Dari hasil audit sementara yang dicatat tim, produksi sampah organik berada di kisaran 23 hingga 25 kilogram per hari. Sementara itu, sampah anorganik mencapai 15 hingga 19 kilogram per hari. Angka-angka tersebut menjadi rujukan untuk memetakan volume dan jenis sampah yang paling dominan di lingkungan percontohan.

Jo menegaskan bahwa pengetahuan mengenai jumlah sampah yang dihasilkan dari rumah tangga merupakan tujuan yang penting. “Sampah rumah tangga ini penting untuk kita bisa tahu jumlah sampah yang dihasilkan. Tujuannya sederhana, kami ingin agar sampah organik tidak berakhir di TPA,” ujarnya.

Untuk mendukung target pengelolaan sampah organik di lingkungan RT 003 RW 002, Beta Bank Sampah berencana menempatkan tujuh tong komposter di sejumlah titik. Langkah tersebut dimaksudkan agar sampah organik dapat langsung diolah di sekitar warga, sehingga proses pengurangan sampah tidak hanya bergantung pada pengambilan dan pemindahan.

Dengan audit yang melibatkan warga sebagai penghasil data sekaligus pelaku pemilahan, program di Negeri Hative Besar menempatkan pengelolaan sampah sebagai kerja kolektif yang terukur. Pendekatan berbasis rumah tangga ini diharapkan membuat pengurangan risiko sampah terbawa ke perairan Teluk Ambon berlangsung lebih konsisten dari waktu ke waktu.