Otomotif

500 Knalpot Brong Sitaan Disulap Jadi Patung Komodo Raksasa Setinggi 3 Meter di Labuan Bajo

×

500 Knalpot Brong Sitaan Disulap Jadi Patung Komodo Raksasa Setinggi 3 Meter di Labuan Bajo

Sebarkan artikel ini
Knalpot Brong Dibentuk Jadi Komodo Raksasa di Labuan Bajo Travel 19 Juni 2026
Ilustrasi: Knalpot Brong Dibentuk Jadi Komodo Raksasa di Labuan Bajo

jurnalistik.co.id – Di Labuan Bajo, ratusan knalpot brong sitaan disulap menjadi karya seni berbentuk patung Komodo yang berdiri menjulang di pusat kota. Sebanyak 500 unit knalpot brong hasil sitaan Satuan Lalu Lintas Polres Manggarai Barat dibentuk menjadi monumen setinggi 3 meter dengan panjang 6 meter.

Pembuatan patung tersebut merupakan kolaborasi Kapolres Manggarai Barat dengan dua seniman lokal Labuan Bajo, Haji Zaeb dan Benyamin. Proses perwujudannya dilakukan menggunakan metode las agar potongan knalpot dapat disatukan menjadi bentuk yang utuh.

Patung Komodo knalpot brong ini ditempatkan di depan Markas Komando Polres Manggarai Barat, Jalan Soekarno-Hatta, Labuan Bajo. Penempatan di area tersebut membuat karya terlihat jelas oleh warga dan pengunjung yang melintas.

Zaeb (48) menyebut, menyatukan ratusan knalpot hingga menyerupai Komodo menjadi tantangan tersendiri. Ia menegaskan bahwa prosesnya bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan upaya menciptakan sesuatu yang punya nilai lebih.

“Ini bukan sekadar mengelas besi tua, kami sedang membuat sejarah baru di kota kami sendiri,” kata Zaeb. Menurutnya, upaya mengubah barang sitaan menjadi karya memiliki makna tersendiri bagi kota tempat mereka berkarya.

Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, mengatakan lokasi patung dinilai strategis karena berada di dekat pusat wisata kuliner malam yang ramai dikunjungi wisatawan. Ia menilai keberadaan patung tidak hanya berfungsi sebagai pajangan, tetapi juga membawa pesan yang ingin disampaikan kepada publik.

Christian menyampaikan bahwa “patung raksasa ini bukan sekadar pajangan estetis. Ini adalah monumen pengingat sekaligus simbol penegakan hukum yang humanis di tengah geliat Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas,”. Ia menambahkan langkah tersebut diambil sebagai respons atas keresahan masyarakat dan wisatawan terhadap polusi suara yang mengganggu kenyamanan kawasan wisata.

Menurut Christian, patung Komodo dari knalpot brong menjadi sarana Polres Manggarai Barat untuk mengirimkan pesan edukasi yang kuat namun tetap humanis. Karya itu, lanjutnya, diharapkan dapat merangkul perhatian pengunjung tanpa menghilangkan tujuan penegakan hukum.

Sejak dipasang, sejumlah turis domestik dan manca negara terlihat berdatangan untuk melihat patung tersebut. Kebanyakan pengunjung datang karena berada di jalur melintas menuju atau dari kawasan kuliner Kampung Ujung.

Seorang wisatawan asal Australia, Sarah (29), mengaku takjub dengan konsep ramah lingkungan dan pesan moral di balik karya seni itu. Saat melihat patung, ia didampingi anggota Satuan Pam Obvit Polres Manggarai Barat.

Sarah mengatakan, “Di negara saya, barang sitaan biasanya dihancurkan begitu saja. Tapi di sini, polisi mengubahnya menjadi ikon budaya yang luar biasa menarik dan mendidik,”. Pernyataan itu menggambarkan bagaimana patung knalpot brong tidak hanya menarik perhatian visual, tetapi juga memunculkan cara pandang baru tentang barang sitaan dan pesan yang dibawa.

Melalui patung Komodo raksasa ini, Polres Manggarai Barat berusaha menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat dan pengunjung. Di saat Labuan Bajo terus berkembang sebagai destinasi wisata, monumen dari knalpot brong diharapkan ikut menjadi pengingat sekaligus ajakan untuk menjaga kenyamanan bersama.

Warga dan pengunjung yang melihat karya ini dapat langsung memahami pesan yang ingin disampaikan melalui bentuk Komodo. Meski berasal dari knalpot brong sitaan, material yang disatukan menjadi monumen membuat perhatian beralih dari barang bekas menuju gagasan perubahan, sekaligus menegaskan bahwa proses penegakan hukum tetap mengedepankan pendekatan yang dekat.

Dengan ditempatkan di depan Mako Polres Manggarai Barat dan berada pada jalur yang sering dilalui menuju maupun dari Kampung Ujung, patung tersebut mudah ditemukan saat aktivitas malam di sekitar kawasan kuliner. Kehadiran turis, termasuk Sarah, menunjukkan bahwa pengunjung tidak hanya berhenti untuk melihat, tetapi juga menangkap makna edukatif di balik transformasi barang sitaan menjadi ikon budaya.