Daerah

63 Tahun Merawat Jejak Sejarah Blambangan: Pengabdian Thomas Racharto bagi Generasi Penerus

0
×

63 Tahun Merawat Jejak Sejarah Blambangan: Pengabdian Thomas Racharto bagi Generasi Penerus

Sebarkan artikel ini
63 Tahun Menjaga Jejak Sejarah Blambangan: Pengabdian Thomas Racharto untuk Generasi Penerus Regional 15 Juni 2026
Ilustrasi: 63 Tahun Menjaga Jejak Sejarah Blambangan: Pengabdian Thomas Racharto untuk Generasi Penerus

jurnalistik.co.id – Di tengah derasnya modernisasi, Thomas Racharto memilih jalan yang tidak mudah: merawat jejak masa lalu agar tetap hidup dan dapat dipahami generasi penerus. Pengabdian itu sudah berjalan selama 63 tahun, dan hingga kini masih dikerjakannya dengan tekun.

Pria berusia 82 tahun ini tetap aktif mengurus warisan sejarah Blambangan yang ia yakini sebagai akar cikal berdirinya Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Ia tidak benar-benar berhenti dari misi yang ia mulai sejak lama, termasuk melalui Omahseum yang menjadi pusat perawatannya.

Thomas Racharto lahir di Jember pada 7 Maret 1944. Di usia 82 tahun, ia masih memusatkan perhatian pada peninggalan Blambangan melalui Omahseum, tempat ia menyimpan dan merawat artefak sekaligus mengenalkan sejarah lokal kepada generasi muda.

Omahseum berada di Jl Widuri Kelurahan No.21, Desa Banjarsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Tempat tersebut awalnya merupakan kediaman pribadi, lalu ia sulap menjadi ruang untuk menjaga ingatan kolektif sekaligus sarana pengenalan sejarah lokal Banyuwangi atau Blambangan Kuno.

Ia memulai misinya pada tahun 1963 saat berusia 23 tahun. Saat itu, Thomas datang ke Banyuwangi untuk menjalankan mandat sebagai kuasa usaha tiga ikatan sosial Katolik bagi masyarakat pertanian, masyarakat nelayan, dan masyarakat buruh dari keuskupan Malang.

Ketertarikan Thomas berkembang dari kegiatan koleksi yang berangkat dari rasa ingin tahu. Ia mengatakan, “Saya memulai dengan mengoleksi barang seni yang bersifat artistik dan kuno seperti lukisan kuno, buku kuno, barang kuno, merasa menyenangkan bagi saya,” kata Thomas.

Minat tersebut kemudian berlanjut ketika ia terus menemukan banyak artefak dari wilayah Banyuwangi yang dulu disebut Blambangan. Sejak tahun 1971, ia mengumpulkan artefak-artefak itu satu persatu hingga kini.

Dalam proses mengumpulkan dan mempelajari, Thomas tidak hanya bekerja pada satu jenis benda. Ia menelaah temuan-temuan bersejarah seperti artefak, buku, perunggu, hingga kayu yang disebutnya kaya pengetahuan.

Baginya, artefak yang ditemukan tidak sekadar memuat informasi kesejarahan tentang Blambangan yang kemudian menjadi Banyuwangi. Artefak tersebut juga membawa sejarah yang sangat panjang, tidak hanya merujuk pada peninggalan VOC atau pemerintahan Hindia Belanda.

Thomas juga menekankan bahwa jejak yang ia temukan dapat ditarik hingga sebelum Masehi atau zaman prasejarah. Dari sinilah ia melihat rangkaian pengetahuan yang lebih luas tentang perjalanan masa lalu.

Dalam cara pandangnya, mengolah temuan-temuan itu menjadi cerita sejarah menuntut kesabaran. Ia menuturkan, “Panjang sekali membentuk rangkaian cerita berdasarkan fakta yang disebut sejarah,” tuturnya.

Pengalaman panjang tersebut kemudian ia abadikan lewat karya buku yang ia tulis berjudul “Balambangan Kuno (Abad XIII-XIV)”. Buku ini terdiri dari 385 halaman dan menceritakan 156 artefak dari kehidupan Blambangan pada tahun 1292 hingga 1400.

Thomas tidak hanya merangkai sejarah dalam untaian kata, tetapi juga menghadirkan visual artefak agar pembaca dapat mengikuti jejak yang lebih nyata. Melalui buku bersampul artefak kuno temuan Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar yang ditemukan pada tahun 1973, ia menampilkan tiap artefak dengan cara yang mudah diikuti.

Buku tersebut dicetak di atas kertas putih berkualitas. Setiap gambar artefak tersaji jelas, seolah mengajak pembaca menelusuri masa lalu lebih dekat dan terasa.

Thomas juga tidak berhenti pada satu karya. Berselang tiga tahun sejak buku pertama terbit pada tahun 2023, buku kedua Thomas akan menyusul.

Untuk kelanjutannya, ia akan mengurai sejarah lanjutan dari buku pertama, yaitu sejarah Blambangan pada tahun 1401 hingga 1773. Dengan langkah itu, ia terus berupaya agar jejak sejarah yang selama puluhan tahun dirawatnya tidak berhenti pada koleksi, melainkan berlanjut menjadi pengetahuan yang dapat diwariskan.