jurnalistik.co.id – JAKARTA
Ketua Umum Jokman Nusantara Bersatu Andi Azwan menilai segala sesuatu yang berkaitan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi kerap memicu reaksi yang sangat panas di ruang publik. Menurut dia, setiap pernyataan atau isu yang bersinggungan dengan nama Jokowi seolah langsung berkembang menjadi sorotan besar dan menyedot perhatian banyak pihak.
Andi menyampaikan pandangan itu saat membahas pernyataan Jokowi yang disebut siap berkeliling Indonesia lagi. Ia melihat, topik apa pun yang menyangkut Jokowi hampir selalu menjadi pembicaraan besar dan menimbulkan respons yang beragam. Dalam program Interupsi iNews, Kamis (28/5/2026), Andi menegaskan bahwa situasi tersebut membuat banyak orang seperti tidak nyaman ketika isu Jokowi muncul ke permukaan.
“Kita melihat segala sesuatu yang berhubungan dengan Pak Jokowi itu membuat suatu berita yang besar dan membuat banyak orang seperti cacing kepanasan,” kata Andi dalam program Interupsi iNews, Kamis (28/5/2026).
Andi juga menyinggung bahwa reaksi panas itu bukan hanya datang dari kalangan partai politik. Dalam pandangannya, sejumlah elite politik juga ikut terseret dalam dinamika yang muncul setiap kali nama Jokowi kembali menjadi pusat perhatian. Meski demikian, ia tidak menjelaskan secara rinci siapa saja elite politik yang dimaksud.
“Bukan kita bicara tentang seorang partai politik, tapi juga elit-elit politik banyak gitu,” ujarnya.
Pernyataan Andi tersebut muncul di tengah perbincangan yang terus mengiringi posisi dan pengaruh politik Jokowi setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Nama Jokowi, menurut Andi, tetap menjadi magnet yang kuat dalam percakapan politik nasional. Karena itu, setiap isu yang terhubung dengannya dinilai cepat berkembang dan mendapat respons yang luas.
Di sisi lain, pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago justru melihat eksistensi Jokowi semakin kuat meski sudah tidak lagi menduduki kursi Presiden Republik Indonesia. Pangi menilai anggapan bahwa Jokowi akan kehilangan pengaruh politik setelah lengser ternyata tidak terbukti dalam perkembangan yang ia amati saat ini.
Menurut Pangi, kekuatan politik Jokowi masih terlihat jelas hingga sekarang. Ia menilai, fakta yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa pengaruh Jokowi justru tidak meredup setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Pandangan itu ia sampaikan dalam dialog Interupsi di iNews, Kamis (28/5/2026).
“Fakta yang terjadi hari ini ketika Pak Jokowi sudah tidak lagi menjadi Presiden saya sadar kok makin kuat,” kata Pangi dalam dialog Interupsi di iNews, Kamis (28/5/2026).
Dengan dua pandangan yang muncul dalam satu forum tersebut, pembicaraan soal Jokowi kembali memperlihatkan bagaimana nama mantan presiden itu masih menjadi titik perhatian utama dalam politik nasional. Di satu sisi, Andi Azwan menilai isu yang terkait Jokowi kerap membuat banyak pihak kepanasan. Di sisi lain, Pangi Syarwi Chaniago justru membaca bahwa pengaruh Jokowi tetap menguat meski tidak lagi berada di jabatan tertinggi negara.
Perbedaan pandangan itu memperlihatkan bahwa posisi Jokowi dalam percakapan politik masih jauh dari kata biasa. Bagi sebagian pihak, setiap isu yang bersinggungan dengan dirinya selalu berpotensi memunculkan reaksi keras. Sementara bagi pihak lain, justru dari luar jabatan presiden pun Jokowi masih dinilai memiliki daya tarik dan kekuatan politik yang belum surut.
Dalam konteks itu, perdebatan mengenai Jokowi tampak bukan sekadar soal satu pernyataan, melainkan juga soal bagaimana publik dan para pengamat membaca ulang pengaruhnya di panggung politik. Setiap komentar yang muncul pun cenderung langsung ditafsirkan sebagai sinyal yang lebih besar dari sekadar opini biasa.
Karena itu, nama Jokowi tampak tetap berada di pusat arus percakapan politik, baik ketika dipandang sebagai sumber kegaduhan maupun ketika dinilai masih memiliki daya pengaruh yang kuat. Dua sudut pandang tersebut pada akhirnya sama-sama menunjukkan bahwa figur ini masih sulit dilepaskan dari dinamika politik nasional.












