jurnalistik.co.id – Di sudut sebuah kontrakan kecil di Kota Solo, Jawa Tengah, suara televisi layar datar menjadi pengiring bagi Sri Rahayu. Perempuan berusia 76 tahun itu akrab disapa Mbah Sri, namun tubuhnya sudah tidak lagi bisa berdiri dengan sendirinya.
Kini Mbah Sri hanya dapat duduk bersandar di atas kasur busa. Geraknya pun berlangsung perlahan, sehingga hari-hari di rumah terasa berjalan mengikuti ritme yang ia kuasai sendiri.
Di hadapan matanya, televisi sederhana bukan sekadar hiburan. Bagi Mbah Sri, layar itu hadir sebagai teman yang menemani waktu, terutama ketika kesunyian lebih terasa di dalam ruang sempit kontrakan.
Hampir lima tahun terakhir, Mbah Sri memilih hidup mandiri dan tinggal seorang diri. Kontrakan yang ia huni terlihat dipenuhi beragam barang kebutuhan sehari-hari.
Di sana ada kursi roda, lemari, kipas angin, serta perkakas rumah tangga yang tersusun di berbagai sudut. Sebuah sepeda pun terpasang di langit-langit rumah, menambah kesan bahwa ruang kecil itu dipakai seefisien mungkin.
Pada dinding berwarna biru muda, terpasang sebuah bingkai foto. Foto tersebut menampilkan wajah anak kecil, yang disebut sebagai cucu Mbah Sri, penghibur yang sesekali datang dan memberi sedikit jeda dari kesendirian.
Di bagian atas, rumah kontrakan itu tidak memiliki plafon. Atapnya terbuat dari kayu yang dilapisi baliho bekas, kemudian dipaku agar debu maupun jaring laba-laba tidak jatuh langsung ke kasur tempat Mbah Sri beristirahat.
Selain soal atap, urusan kebersihan pun harus disiasati. Di dalam kontrakan itu tidak ada kamar mandi, sehingga sehari-hari Mbah Sri menggunakan kamar mandi umum untuk membersihkan diri hingga buang hajat.
Pada jendela depan kontrakan, ada stiker berwarna merah. Stiker tersebut bertuliskan “Keluarga Miskin”, sebagai penanda ia menerima bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), dan Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan (JK).
Stiker Gakin itu membuat kontrakan Mbah Sri terlihat berbeda dengan rumah tetangga di kanan dan kiri yang tampak lebih mapan. Meski begitu, Mbah Sri tetap menjalani hari dengan cara yang ia pilih sendiri.
Keteguhan hidup meski tinggal sendirian
Jika dilihat dari keluarganya, Mbah Sri sebenarnya tidak benar-benar hidup tanpa sanak. Ia memiliki enam anak dan juga cucu, namun keterbatasan ekonomi dan ruang tinggal membuatnya memilih tidak tinggal bersama.
Mbah Sri mengaku enggan menjadi beban bagi keluarganya. Ia menuturkan latar belakang perpindahannya berawal ketika rumahnya dulu berada di Gudang Kuning sebelum akhirnya digusur.
“Habis gimana ya, kan dulu rumah saya di Gudang Kuning, terus saya digusur. Digusur, terus saya kontrak di sini. Soalnya mau ikut anaknya yang perempuan di situ rumahnya sempit banget, buat laundry.”
Bagi Mbah Sri, hidup sendiri memberi ruang untuk menjalani hari tanpa harus bergantung pada keadaan di rumah orang lain. Ia juga menceritakan bahwa kondisinya membuatnya tetap harus bergerak, meski tenaga tidak lagi seperti saat usia muda.
“Jadi mau istirahat ndak bisa. Kalau sendiri kita kan bebas. Kalau sehat itu, itu ingin usaha gitu,”
Suara dan cara bertutur Mbah Sri memperlihatkan bahwa ia menyembunyikan getir di balik tawa kecilnya. Ia tetap memegang harapan agar dirinya tidak berhenti terlalu lama dalam keterbatasan.
Sejak suaminya berpulang pada tahun 2007, Mbah Sri menjadi tulang punggung bagi kedelapan anaknya. Dari delapan anak tersebut, dua di antaranya telah meninggal dunia.
Mbah Sri mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD). Dengan bekal yang ada, ia bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Ia pernah berjualan ketan, nasi goreng, dan pepes keliling. Aktivitas itu membuat hari-harinya terisi, sekaligus menjadi cara untuk tetap bertahan di tengah tantangan ekonomi.
Ritme hari dari dini hari hingga subuh
Dalam keseharian, Mbah Sri memulai petualangan sejak pukul 01.00 WIB dini hari. Ia lebih dulu menyiapkan kebutuhan untuk memasak sebelum berangkat mencari rezeki.
Setelah persiapan dilakukan, Mbah Sri bergerak saat subuh menyingsing. Waktu dini hari dan fajar menjadi penanda bahwa ia menjalani kerja sebelum keramaian datang dan tanpa banyak menunda.
Saat ditemui Kompas.com pada Minggu (14/6/2026), Mbah Sri menunjukkan bahwa kesendirian tidak menghapus kebiasaan mencari jalan keluar. Meski tubuhnya kini tidak lagi mampu berdiri, ia tetap bertahan lewat rutinitas yang pernah ia bangun dan lewat ruang kecil yang ia tata dengan cara sendiri.
Televisi di sudut kontrakan, stiker bantuan sosial di jendela, atap baliho bekas yang dipaku rapi, hingga kamar mandi umum yang harus dijangkau setiap hari menjadi bagian dari kehidupan yang ia jalani. Di balik detail-detail itu ada satu benang merah: keteguhan Mbah Sri menghadapi masa tua di sudut Kota Solo, ketika pilihan hidup yang tersedia terasa makin sempit.












