Daerah

Bau Diduga Solar, Warga Pilangsari Demak Pulangkan MinyaKita Bantuan Pemerintah

×

Bau Diduga Solar, Warga Pilangsari Demak Pulangkan MinyaKita Bantuan Pemerintah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Diduga Berbau Solar, Warga Demak Kembalikan Ribuan Minyakita Bantuan Pemerintah

jurnalistik.co.id – Warga Desa Pilangsari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, mengembalikan bantuan MinyaKita dari pemerintah ke Balai Desa Pilangsari. Pengembalian dilakukan karena minyak goreng tersebut diduga berbau solar.

Menurut Kepala Desa Pilangsari, Minarti, laporan dari warga disampaikan kepada pemerintah desa setelah bantuan didistribusikan. Ia menyebut warga menyampaikan bahwa minyak memiliki aroma yang dinilai menyerupai solar.

“Beliau-beliau menyampaikan kepada pemerintah desa terkait bantuan minyak goreng katanya bau solar,” kata Kepala Desa Pilangsari, Minarti saat dikonfirmasi Rabu (1/7/2026).

Minarti menjelaskan ia tidak mengetahui minyak tersebut berbau solar. Alasannya, saat bantuan dibagikan, kondisi kemasan masih tersegel utuh.

“Pemerintah Desa tidak mungkin membuka satu persatu atau item , saya tidak tahu, yang penting Pemerintah Desa menerima bantuan dari Bulog, yang penting saya terima terus disalurkan kepada masyarakat Pilangsari yang mendapatkan bantuan beras atau minyak goreng,” ungkapnya.

Pengembalian itu melibatkan sedikitnya 1.120 kemasan minyak goreng ukuran 2 liter. Seluruh kemasan tersebut dikumpulkan dan diserahkan kembali ke balai desa sebagai respons atas laporan warga.

Minarti menegaskan alur penyaluran bantuan telah dilakukan sesuai mekanisme pemerintah desa. Ia menggarisbawahi bahwa desa menyalurkan bantuan kepada penerima yang telah memperoleh jatah, termasuk bantuan beras dan minyak goreng, berdasarkan distribusi yang datang dari Bulog.

“yang penting Pemerintah Desa menerima bantuan dari Bulog,” demikian penegasan Minarti terkait prinsip penyaluran yang ia pegang selama proses pembagian kepada warga.

Hingga saat ini, pemerintah desa menyatakan tidak ada pemeriksaan satu per satu terhadap isi kemasan karena bantuan diterima dan disalurkan dalam bentuk yang masih tersegel. Dengan demikian, penilaian awal mengenai bau solar muncul dari laporan penerima setelah minyak digunakan atau diperiksa oleh warga.

Pihak Sekretaris Desa Pilangsari, Tasikun, menerangkan bahwa pemerintah desa menerima paket MinyaKita pada 11 Juni 2026. Setelah itu, distribusi ke warga dilakukan pada rentang 17 hingga 20 Juni 2026.

“Sesuai yang kita terima yaitu 560 kali 2 bulan, kantong minyak goreng dan kami terima tanggal 11 Juni dan kami realisasikan lewat RT masing-masing itu sekitar tanggal 17 sampai dengan tanggal 20,” jelasnya.

Tasikun menambahkan peristiwa ini menjadi laporan pertama yang sampai ke perangkat desa mengenai dugaan bau solar pada minyak goreng bantuan. Menurutnya, selama penyaluran berlangsung, mekanisme yang dilakukan adalah menyalurkan minyak dalam kemasan.

“Baru kali ini menerima laporan dari warga terkait dengan berbau solar atau yang lainnya kita tidak tahu, karena kita menyalurkan dalam bentuk kemasan,” imbuhnya.

Ia juga tidak menutup kemungkinan adanya pemicu yang baru diketahui setelah warga menerima dan menggunakan minyak. Namun, ia menekankan bahwa desa selama proses distribusi tidak membuka kemasan untuk memeriksa isi sebelum diserahkan kepada penerima.

Di sisi lain, Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Demak, Dwi Suciati, menyampaikan bantuan yang diterima warga merupakan kiriman dari Badan Pangan Nasional. Ia menyebut penerima bantuan merupakan pihak yang telah ditetapkan.

“Ini bantuan Badan Pangan Nasional, warga penerima itu sudah ditentukan, tidak semua warga menerima itu,” kata Suciati, Senin (29/6/2026).

Menanggapi laporan bahwa minyak goreng diduga berbau solar, Dwi Suciati mengatakan pihaknya akan melakukan kajian lanjutan untuk memastikan kondisi minyak tersebut. Ia menekankan proses pembuktian perlu melalui pemeriksaan sesuai prosedur, termasuk dilakukan pengecekan langsung dari laporan warga.

“Kami harus melihat dulu, ini dari laporan dan sebagainya harus dicium baru kita menyimpulkan apakah ini benar atau tidak ini harus dibuktikan,” ungkapnya.

Suciati juga menyerahkan tindak lanjut kepada Bulog. Ia menjelaskan bahwa selama ini tidak ada keluhan yang mengarah pada masalah serupa pada minyak goreng, tetapi bila nanti ditemukan ketidaksesuaian, pihak penyalur dapat melakukan penyesuaian.

“Selama ini minyak tidak ada masalah, tapi kalau beras yang kualitasnya tidak diharapkan masyarakat Bulog siap untuk mengganti. Nanti minyak kita dengarkan langsung dari Bulog,” katanya.

Dalam konteks ini, pemerintah daerah menempatkan Bulog sebagai pihak yang akan memberikan respons teknis terhadap pemeriksaan dan tindak lanjut atas dugaan bau solar tersebut. Sementara itu, desa mengaku telah mengumpulkan kemasan yang dikembalikan warga sebagai bagian dari pelaporan awal.

Pengembalian 1.120 kemasan MinyaKita ukuran 2 liter di Pilangsari menjadi perhatian karena melibatkan bantuan dari program pemerintah yang penerimanya telah ditentukan. Proses kajian berikutnya akan menentukan apakah minyak memang memenuhi standar yang diharapkan atau perlu dilakukan penggantian.

Meski warga telah mengembalikan bantuan, perangkat desa dan instansi terkait masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan. Hal ini dilakukan agar kesimpulan mengenai dugaan bau solar dapat dibuktikan secara jelas, tanpa spekulasi yang berlebihan.

Dengan demikian, kasus di Pilangsari berangkat dari laporan warga, lalu diteruskan melalui perangkat desa kepada pihak penanggung jawab distribusi. Langkah selanjutnya akan berfokus pada verifikasi kondisi minyak dan kejelasan prosedur tindak lanjut dari Bulog.