Daerah

Bukan Sekadar Berkokok, Ayam “Tertawa” Kejar Gelar Juara di Salatiga

1
×

Bukan Sekadar Berkokok, Ayam “Tertawa” Kejar Gelar Juara di Salatiga

Sebarkan artikel ini
Saat Ayam Tak Sekadar Berkokok, Mereka "Tertawa" untuk Jadi Juara di Salatiga Regional 7 Juni 2026
Ilustrasi: Saat Ayam Tak Sekadar Berkokok, Mereka "Tertawa" untuk Jadi Juara di Salatiga

jurnalistik.co.id – Suasana di GOR PPLP Kota Salatiga pada Minggu (7/6/2026) dipenuhi siulan, jentikan jari, dan teriakan penyemangat. Namun perhatian ratusan orang di arena itu bukan tertuju pada pertandingan olahraga, melainkan pada deretan ayam yang bertengger di kandang-kandang kecil.

Di hari tersebut, ratusan ayam ketawa dari berbagai daerah di Pulau Jawa, Madura, hingga Sulawesi mengikuti Ayam Ketawa Contest Pusaka Cup I. Setiap penampilan dibangun dengan upaya pemilik untuk membuat ayam mengeluarkan suara khas yang menjadi penilaian utama.

Satu per satu ayam kemudian naik ke arena. Para pemilik berdiri di dekat kandang, berusaha memancing jagoannya agar tampil maksimal di hadapan dewan juri.

Di tepi arena, gerak tangan dan suara menjadi bagian dari strategi. Ada yang menjentikkan jari, bersiul, hingga menari kecil agar ayam mau mengeluarkan “tertawa” sesuai karakter yang dinilai dalam kontes.

Ketika ayam merespons, sorak gembira langsung pecah. Sebaliknya, tidak semua upaya berbuah hasil, dan beberapa peserta tampak menggeleng kecewa saat ayam memilih diam atau menunjukkan performa di bawah harapan.

Di momen-momen seperti itu, jarak antara usaha pemilik dan respons ayam terasa jelas. Penilaian yang berlangsung membuat setiap detik menjadi berarti, terutama saat suara khas mulai terdengar.

Persaingan juga terlihat dari cara masing-masing pemilik memancing tampilannya. Pada akhirnya, yang menonjol bukan hanya keberanian pemilik di arena, melainkan kemampuan ayam menghadirkan kualitas suaranya di hadapan juri.

Dari hobi menjadi bagian dari penghasilan

Contes ayam ketawa seperti ini, menurut Suwartono (64), tidak semata tentang mengejar gelar juara. Ia memandang ajang tersebut juga hadir sebagai hiburan dan membawa manfaat lain yang dirasakan selama beternak.

“Selain itu hiburan dan menjadikan awet muda, ayam ketawa juga bisa menjadi sumber penghasilan. Ayam saja ketawa, masak kita sedih,” ujarnya sambil tersenyum.

Pria yang akrab disapa Nono itu berasal dari Pudakpayung Farm Semarang. Ia mengaku memelihara sekitar 50 ekor ayam ketawa dan menjadikan perawatan rutin sebagai bagian dari keseharian.

Bagi Nono, keberhasilan seekor ayam di arena lomba tidak hanya ditentukan faktor keturunan. Adaptasi ayam terhadap lingkungan dinilai ikut menentukan kualitas penampilan saat kontes berlangsung.

Ia mengatakan, proses “membentuk” performa ayam terjadi lewat kebiasaan yang menyatu dengan kondisi tempat dan situasi. Kerja pemilik di arena pun kemudian menjadi lebih terukur, karena ayam merespons dengan cara yang berbeda-beda.

“Ayam ketawa itu juga membutuhkan adaptasi agar tampil bagus. Keramaian dan adaptasi cuaca juga berpengaruh, karena itu pemilik harus hafal karakter ayamnya,” kata dia.

Perawatan harian menentukan kualitas suara

Di balik suara unik yang dipamerkan di arena, perawatan ayam ketawa ternyata tidak sederhana. Ayam-ayam itu perlu rutin dijemur setiap hari agar kondisi tetap terjaga.

Selain penjemuran, ada pula tahap perawatan kebersihan untuk mencegah gangguan. Pemilik menyebut ayam dimandikan dengan sampo agar terbebas dari kutu.

Perhatian juga diarahkan pada asupan harian. Ayam diberi pakan bernutrisi, karena kualitas tubuh memengaruhi kenyamanan saat ayam berada dalam kondisi siap tampil.

“Kalau ayam harum dan sehat itu dilihatnya juga enak. Untuk makanan harus yang bernutrisi dan banyak serat, seperti beras merah dicampur vitamin sehingga kotorannya tidak bau,” ujarnya.

Dalam penjelasannya, Nono menekankan bahwa pilihan pakan tidak hanya soal “kenyang”, tetapi juga soal kebutuhan nutrisi dan serat. Campuran seperti beras merah dengan vitamin disebutnya menjadi salah satu cara menjaga kondisi ayam.

Ia juga mengaitkan efek dari perawatan tersebut dengan kenyamanan yang terlihat, baik dari kesehatan maupun respons ayam saat dipancing. Dengan begitu, suara khas yang menjadi fokus penilaian bisa muncul secara lebih konsisten.

Nilai ekonominya ikut mengikuti prestasi

Nono menilai perawatan yang dilakukan sebanding dengan nilai ekonominya. Perkembangan ayam tidak hanya berhenti pada penampilan sesaat di arena, tetapi berlanjut pada potensi hasil dari beternak.

Ia menyebut anak ayam hasil penetasan bisa dibeli sekitar Rp 50.000. Dari sana, nilai ayam ketawa bisa meningkat ketika seekor ayam sudah menunjukkan prestasi di kontes.

Menurutnya, harga ayam ketawa yang berprestasi dapat mencapai jutaan rupiah. Kenaikan itu terjadi seiring pengakuan terhadap kualitas suara yang ditampilkan saat lomba.

Ia merinci, “Kalau yang sudah juara kontes mulai dari Rp 1 juta sampai Rp 10 juta, tergantung kelasnya.” Rentang harga tersebut menjadi gambaran bahwa performa di arena berpengaruh langsung pada nilai jual.

Pada kesempatan lain, Nono juga menceritakan adanya pesanan. Ia menyebut, “Kemarin dapat pesanan 200 telur dan indukan dari Kalimantan Timur, tapi belum saya kirim karena mau ikut kontes dulu.”

Di antara keramaian kontes di Salatiga, cerita itu memperlihatkan hubungan antara agenda perlombaan dan aktivitas ekonomi para pemelihara. Keputusan untuk tetap mengikuti kontes menegaskan bahwa arena tetap menjadi prioritas dalam upaya mencapai hasil terbaik.

Kontes Ayam Ketawa Contest Pusaka Cup I di GOR PPLP Kota Salatiga pada Minggu (7/6/2026) akhirnya mempertemukan hobi, perawatan, dan peluang ekonomi dalam satu ruang yang sama. Dari siulan dan jentikan jari hingga respons suara ayam di hadapan juri, setiap detail terasa menentukan.