jurnalistik.co.id – Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau car free day (CFD) di Jalan HR Rasuna Said, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, mulai diproyeksikan menjadi lebih dari sekadar ruang olahraga warga setiap akhir pekan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menilai kawasan ini berpotensi berkembang menjadi destinasi sport tourism baru yang melengkapi kawasan Sudirman–Thamrin.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melihat Rasuna Said memiliki sejumlah keunggulan yang mendukung pengembangan wisata olahraga perkotaan. Keunggulan itu mencakup akses transportasi publik yang terintegrasi serta karakter kawasan yang berada di jantung pusat bisnis ibu kota.
Menurut Pramono, “Kalau dilihat view-nya, dilihat udaranya, dilihat aksesnya, pasti ini akan menjadi landmark baru dan sport tourism untuk car free day yang ada di Jakarta.” Ia menambahkan, ruang publik seperti CFD kini tak hanya menjadi tempat berolahraga, tetapi juga sarana rekreasi dan interaksi sosial yang semakin diminati masyarakat.
Pramono juga menyebut fenomena wisata olahraga berbasis ruang publik sudah mulai terlihat di Jakarta. Ia mengatakan sejumlah wisatawan dari Malaysia, Singapura, hingga Thailand menyempatkan diri mengunjungi CFD saat berlibur ke ibu kota.
Ia menjelaskan pola kunjungan itu antara lain terkait perjalanan menggunakan Kereta Cepat Whoosh menuju Bandung. “Kami memonitor sekarang ini banyak masyarakat, apakah itu dari Malaysia, kemudian dari Singapura, dari Thailand, yang datang ke Jakarta selain untuk menikmati Whoosh ke Bandung, salah satu tujuan utamanya adalah car free day,” kata Pramono.
Pramono turut mengaku bertemu langsung dengan wisatawan asal Malaysia ketika meninjau CFD Rasuna Said. “Seperti tadi, di tempat ini pun sudah ada masyarakat dari Malaysia yang memanfaatkan ini,” ujarnya.
Salah satu alasan yang membuat Pramono optimistis adalah kemudahan akses menuju kawasan Rasuna Said. CFD di kawasan itu terhubung dengan jaringan TransJakarta serta LRT Jabodebek yang melayani penumpang dari Jakarta, Bekasi, hingga Cibubur.
Pramono menilai kemudahan akses tersebut dapat menjadi modal penting untuk menarik pengunjung dari berbagai daerah tanpa harus membawa kendaraan pribadi. “Di tempat ini saya meyakini karena aksesnya lebih gampang,” ujarnya.
Pengembangan CFD Rasuna Said juga diproyeksikan sebagai alternatif setelah kawasan Sudirman–Thamrin semakin padat setiap akhir pekan. Pramono menyebut jumlah pengunjung CFD Sudirman–Thamrin mencapai sekitar 40.000 hingga 50.000 orang setiap Minggu.
“Saya yakin ini akan menjadi tempat baru selain Sudirman-Thamrin yang sekarang sudah sangat padat setiap minggunya,” kata Pramono.
Pandangan serupa disampaikan pengamat pariwisata Sapta Nirwandar. Ia menilai konsep sport tourism tidak selalu identik dengan ajang olahraga berskala besar, tetapi juga bisa tumbuh dari aktivitas olahraga rekreasi yang melibatkan masyarakat luas.
Sapta mengatakan, “Sport tourism itu sangat luas dan fleksibel. Dibukanya CFD di Jalan HR Rasuna Said ini akan mengembangkan komunitas untuk bisa berolahraga, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.” Ia menilai tren masyarakat yang semakin gemar berolahraga menjadi modal penting untuk pengembangan kawasan tersebut.
Menurut Sapta, aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, jogging, hingga bersepeda mampu menarik berbagai kelompok usia. Keberadaan hotel, pusat perbelanjaan, restoran, serta fasilitas usaha di sekitar kawasan Kuningan juga dinilai dapat memperoleh manfaat ekonomi dari meningkatnya jumlah pengunjung setiap akhir pekan.
Ia menegaskan, “Di sana juga banyak pertokoan, mal, hotel, dan berbagai fasilitas lainnya. Klien-klien hotel juga bisa ikut.” Dengan demikian, penguatan aktivitas rekreasi di area CFD dipandang dapat berdampak ke ekosistem ekonomi lokal di sekitar kawasan.
Meski melihat peluang besar, Sapta mengingatkan bahwa pengembangan CFD tetap harus dibarengi tata kelola yang baik. Ia menyebut tantangan utama terletak pada visitor management atau pengelolaan pengunjung.












