jurnalistik.co.id – Di tengah ruang publik yang makin sering dipenuhi polarisasi, saling serang, dan perdebatan yang kerap kehilangan substansi, adu argumen antara Dino Patti Djalal dan Teddy Indra Wijaya justru menghadirkan sesuatu yang berbeda. Perbedaan pandangan tidak disajikan sebagai ajang mencari satu pihak yang harus dikalahkan, melainkan sebagai ruang untuk memperlihatkan bagaimana sebuah kritik bisa dijawab dengan penjelasan yang terstruktur dan dapat diikuti publik.
Dino Patti Djalal menyampaikan kritik dan sarannya mengenai diplomasi Presiden Prabowo secara sistematis. Ia menyoroti soal efisiensi, perencanaan, transparansi, serta efektivitas kunjungan luar negeri kepala negara. Dalam pandangannya, sebagian komunikasi antarpemimpin dunia juga dapat dilakukan melalui teknologi digital, sementara kunjungan luar negeri semestinya dirancang dengan lebih terukur dan akuntabel.
Respons kemudian datang dari Teddy Indra Wijaya. Menariknya, jawaban yang diberikan tidak keluar dari pokok persoalan yang diperdebatkan. Kritik dijawab dengan penjelasan. Masukan dijawab dengan argumentasi. Pertanyaan dijawab dengan perspektif yang berbeda, tetapi tetap berada di jalur yang sama. Teddy menjelaskan logika diplomasi yang dijalankan pemerintah sekaligus menyampaikan berbagai capaian yang menurutnya lahir dari hubungan internasional yang aktif dan intensif.
Dalam konteks ruang publik yang sering terjebak pada adu sentimen dan serangan personal, cara seperti ini terasa menyegarkan. Pointer dijawab dengan pointer. Sistematika dijawab dengan sistematika. Argumen dijawab dengan argumen. Perbedaan pandangan tidak dilepaskan menjadi konflik yang bising, tetapi dihadirkan sebagai percakapan yang masih memberi tempat bagi penjelasan dan tanggapan yang setara.
Di tengah budaya komunikasi yang kerap berubah menjadi perlombaan mencari siapa yang paling keras bersuara, perdebatan semacam ini menunjukkan bahwa ruang publik masih bisa diisi dengan perdebatan yang lebih bernalar. Publik tidak hanya disuguhi perbedaan sikap, tetapi juga cara berpikir yang berbeda dalam membaca sebuah kebijakan. Itu membuat percakapan menjadi lebih berguna, karena yang tampil bukan sekadar kemarahan atau pembelaan, melainkan penjelasan atas alasan di balik posisi masing-masing.
Demokrasi Tidak Selalu Membutuhkan Pemenang
Salah satu kecenderungan dalam ruang publik adalah melihat setiap perdebatan sebagai pertandingan. Ketika dua tokoh berbeda pendapat, perhatian publik sering langsung tertuju pada pertanyaan siapa yang menang. Padahal, dalam isu kebijakan publik, pertanyaan yang lebih penting justru apa yang bisa dipelajari masyarakat dari perdebatan itu.
Dari Dino Patti Djalal, publik mendapatkan perspektif mengenai pentingnya tata kelola, efisiensi anggaran, dan akuntabilitas kebijakan luar negeri. Dari Teddy Indra Wijaya, publik memperoleh gambaran tentang bagaimana pemerintah memandang diplomasi sebagai investasi strategis yang manfaatnya tidak selalu bisa diukur hanya dari biaya perjalanan atau jumlah kunjungan.
Kedua sudut pandang itu tidak harus dipertentangkan secara mutlak. Justru dalam demokrasi yang sehat, keduanya bisa saling melengkapi. Kritik dibutuhkan agar kekuasaan tetap memiliki mekanisme koreksi. Penjelasan dibutuhkan agar masyarakat memahami alasan dan tujuan di balik suatu kebijakan. Demokrasi memerlukan keduanya secara bersamaan.
Karena itu, perdebatan Dino dan Teddy layak dibaca bukan sebagai duel untuk mencari pemenang, melainkan sebagai contoh bahwa ruang publik masih bisa bekerja dengan cara yang lebih sehat. Publik tidak dipaksa menerima satu narasi tunggal. Sebaliknya, publik diberi kesempatan melihat bagaimana sebuah persoalan dibahas dari dua arah yang berbeda, lalu menilai sendiri mana yang paling meyakinkan.
Dalam situasi seperti ini, yang paling penting bukanlah siapa yang lebih keras, melainkan siapa yang paling mampu menjaga kualitas percakapan. Dan di titik itulah perdebatan ini memberi nutrisi bagi ruang publik: bukan dengan memaksa kesimpulan tunggal, melainkan dengan membuka ruang bagi kritik, penjelasan, dan penilaian yang lebih dewasa.












