jurnalistik.co.id – Dua pria mengubah pengakuan mereka dalam persidangan terkait serangan siber besar terhadap Transport for London (TfL), yang berdampak pada gangguan layanan selama berbulan-bulan dan menimbulkan biaya sekitar £39 juta. Pengakuan bersalah itu disampaikan pada hari pertama persidangan yang sedianya berlangsung selama enam pekan di Woolwich Crown Court, London.
Thalha Jubair, 20 tahun, yang berasal dari wilayah London timur, dan Owen Flowers, 18 tahun, dari Walsall di West Midlands, mengaku bersalah atas peran mereka dalam kasus tersebut. Langkah mereka dilakukan pada Senin, saat jadwal sidang awal diperkirakan menjadi pembuka rangkaian persidangan panjang.
Keduanya mengaku bersalah atas dakwaan berupa konspirasi untuk melakukan tindakan tanpa izin terhadap TfL, sebagaimana diatur dalam Computer Misuse Act. Dalam pengakuan mereka, keduanya menegaskan bahwa akses yang dilakukan dilakukan secara sembrono (recklessly), tanpa ada niat untuk melakukan tindakan tersebut.
TfL sebelumnya menyatakan bahwa serangan yang dimulai pada 31 Agustus 2024 menyebabkan gangguan terhadap layanan selama tiga bulan. Dalam keterangan yang disampaikan dalam persidangan, BBC diberi tahu bahwa pelanggaran tersebut berdampak pada 10 juta pelanggan.
Gangguan itu tidak hanya bersifat teknis di satu titik layanan. Layanan online TfL ikut terpengaruh, sehingga sejumlah pelanggan tidak dapat melihat beberapa papan informasi karena sistem yang digunakan untuk menampilkan informasi menjadi nonaktif selama serangan berlangsung.
Selain gangguan layanan, TfL juga menyampaikan pemberitahuan kepada ribuan pelanggan. Perusahaan operator transportasi itu menulis kepada ribuan pelanggan untuk memberi tahu bahwa ada akses tanpa izin terhadap sebagian data pribadi mereka.
Pada saat penangkapan Flowers dan Jubair, penyelidik dari National Crime Agency (NCA) menyatakan bahwa mereka meyakini “network intrusion” yang terjadi pada musim panas 2024 dilakukan oleh kelompok kriminal online yang dikenal sebagai Scattered Spider. Dalam proses peradilan, konteks tersebut menjadi bagian dari pemahaman mengenai asal dan pola akses jaringan yang berkaitan dengan kasus.
Flowers juga memiliki pengakuan tambahan di luar dakwaannya terkait TfL. Ia juga mengaku bersalah atas upaya peretasan sistem komputer milik Sutter Health, sebuah organisasi berbasis di California, serta sebuah perusahaan AS lain bernama SSM Healthcare Corporation.
Setelah pengakuan bersalah dicatat, hakim Mr Justice Turner memberikan tanggapan di ruang sidang. Ia berterima kasih kepada seluruh perwakilan hukum, sekaligus menyampaikan apresiasi atas kerja keras yang memungkinkan pengadilan menemukan jalan yang “memuaskan” untuk melanjutkan proses perkara.
Berikutnya, kedua pria tersebut akan menjalani proses penjatuhan hukuman pada 15 Juli. Keputusan mereka mengubah pengakuan menjadi bersalah menjadi penentu tahapan lanjutan persidangan, setelah sebelumnya mereka menghadapi rangkaian dakwaan terkait konspirasi tindakan tanpa izin terhadap TfL serta keterkaitan upaya peretasan sistem lain yang disebutkan dalam dakwaan Flowers.
Di persidangan tersebut, pengakuan bersalah menjadi titik balik dalam alur perkara yang semula dijadwalkan berlangsung panjang. Dengan memilih untuk mengakui dakwaan konspirasi melakukan akses tanpa izin, Jubair dan Flowers menempatkan fokus pada bagaimana akses jaringan itu dijalankan—yakni secara sembrono, tanpa niat untuk melakukan tindakan yang mereka pahami sebagai terlarang menurut ketentuan Computer Misuse Act.
Serangan yang bermula pada 31 Agustus 2024 membuat dampak yang berlapis: tidak hanya mengganggu operasional layanan transportasi, tetapi juga menghambat aspek informasi layanan yang tersaji bagi pengguna. Selain gangguan teknis, TfL juga memberikan pemberitahuan kepada ribuan pelanggan terkait adanya akses tanpa izin terhadap sebagian data pribadi, sementara dalam proses penyelidikan NCA menilai “network intrusion” pada musim panas 2024 berkaitan dengan kelompok kriminal online bernama Scattered Spider.
Dalam tahap berikutnya, perkara terhadap Flowers juga memuat pengakuan lain di luar konteks TfL, yakni keterlibatan dalam upaya peretasan sistem komputer milik Sutter Health serta SSM Healthcare Corporation. Setelah pengakuan dicatat, hakim Mr Justice Turner menyampaikan apresiasi kepada perwakilan hukum dan menyatakan bahwa langkah lanjutan yang diambil pengadilan dianggap “memuaskan”. Kedua terdakwa kemudian akan menjalani proses penjatuhan hukuman pada 15 Juli.









