Hukum & Kriminal

DVI Polda Papua Kirim 10 Sampel DNA ke Jakarta untuk Identifikasi Korban Ledakan Bom Biak Numfor

1
×

DVI Polda Papua Kirim 10 Sampel DNA ke Jakarta untuk Identifikasi Korban Ledakan Bom Biak Numfor

Sebarkan artikel ini
Identifikasi Korban Ledakan Biak, DVI Papua Kirim 10 Sampel DNA ke Jakarta
Ilustrasi: Identifikasi Korban Ledakan Biak, DVI Papua Kirim 10 Sampel DNA ke Jakarta

jurnalistik.co.id – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Papua mengirimkan total 10 sampel DNA ke Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri di Jakarta. Langkah ini dilakukan untuk memastikan identitas korban ledakan bom peninggalan Perang Dunia (PD) II di Biak Numfor, Papua.

Pengiriman sampel DNA tersebut menjadi bagian dari proses identifikasi korban yang dilakukan menyusul peristiwa ledakan di wilayah tersebut. Penanganan diarahkan pada verifikasi identitas korban melalui pemeriksaan lanjutan di Jakarta.

Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, menyampaikan bahwa sampel yang dikirim berasal dari dua sumber. Sampel dikumpulkan dari keluarga korban serta dari hasil pemeriksaan postmortem terhadap potongan tubuh yang ditemukan di lokasi kejadian.

Menurut Ari, tim lebih dulu berhasil mengambil empat sampel DNA postmortem. Setelah itu, akumulasi sampel terus berlangsung hingga jumlah total yang ditargetkan terpenuhi.

“Tim berhasil mengambil empat sampel DNA postmortem. Dengan demikian, selama dua hari terakhir telah terkumpul 10 sampel DNA yang selanjutnya akan dikirim ke Pusdokkes Polri di Jakarta untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” kata Ari, Senin (8/6/2026).

Dengan rincian tersebut, pengiriman 10 sampel DNA dilakukan setelah kebutuhan data untuk tahap pemeriksaan dinilai sudah terkumpul. Sampel yang terkumpul kemudian dibawa ke Pusdokkes Polri untuk proses pemeriksaan lanjutan.

Pengambilan sampel dari keluarga dan hasil postmortem

Pengambilan sampel dari keluarga korban menjadi salah satu tahapan yang melengkapi pemeriksaan identitas. Sementara itu, pemeriksaan postmortem dilakukan terhadap potongan tubuh yang ditemukan di lokasi kejadian.

Gabungan dua sumber ini digunakan agar proses identifikasi dapat dilakukan secara lebih menyeluruh. Dari pengumpulan tersebut, tim kemudian merangkum total 10 sampel DNA untuk dikirim ke Jakarta.

Rangkaian pengambilan sampel berlangsung dalam rentang dua hari terakhir sebelum pengiriman. Dalam periode itu, tim melaporkan bahwa jumlah sampel yang terkumpul mencapai total 10 sampel DNA.

Setelah tahap pengumpulan selesai, sampel tidak langsung diproses di lokasi. Sampel kemudian ditujukan ke Pusdokkes Polri di Jakarta agar dilakukan pemeriksaan lebih lanjut sesuai mekanisme yang berjalan.

Perkembangan pencarian pada hari ketujuh

Di sisi lain, proses pencarian korban juga terus berlanjut hingga hari ketujuh. Pada Sabtu (6/6), tim gabungan yang dipimpin Basarnas kembali menemukan dua potongan tubuh manusia.

Temuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian upaya pencarian di lokasi kejadian. Selain menemukan potongan tubuh, petugas juga mengamankan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan korban maupun peristiwa ledakan.

Pengamanan barang dilakukan untuk mendukung proses penanganan di lapangan. Barang-barnag yang disebutkan meliputi bukti-bukti yang ditemukan di area kejadian.

Di antara barang yang diamankan terdapat satu unit telepon genggam merek Evercoss warna hitam. Selain itu, petugas juga mengamankan tiga dompet.

Petugas turut mengamankan satu pisau, satu gunting medis, dan satu pinset medis. Selanjutnya, petugas juga mengamankan satu unit GPS merek Garmin.

Rincian barang yang diamankan itu menjadi catatan perkembangan penanganan di lokasi. Temuan-temuan tersebut memperlihatkan bahwa upaya pencarian dan pengamanan berjalan bersamaan.

Dari lokasi kejadian menuju pemeriksaan di Jakarta

Setelah potongan tubuh ditemukan, tim melakukan proses pemeriksaan postmortem yang menjadi dasar pengambilan sampel DNA. Sementara sampel dari keluarga korban melengkapi data yang diperlukan dalam tahap identifikasi.

Dalam laporannya, Ari menyebut bahwa selama dua hari terakhir total sampel DNA yang terkumpul mencapai 10. Dari jumlah tersebut, pengambilan empat sampel DNA postmortem menjadi poin yang dilaporkan secara spesifik.

Hasil pengumpulan 10 sampel DNA kemudian dijadwalkan untuk dikirim ke Pusdokkes Polri di Jakarta. Pemeriksaan selanjutnya ditujukan untuk memastikan identitas korban secara lebih terarah.

Dengan demikian, proses identifikasi korban pada kasus ini bergerak dari tahap pengumpulan sampel hingga pengiriman untuk pemeriksaan lanjutan. Tim DVI Polda Papua menempatkan pengiriman ke Pusdokkes Polri sebagai langkah penting dalam memastikan identitas korban ledakan bom peninggalan PD II di Biak Numfor.