jurnalistik.co.id – Harga emas bergerak menguat pada awal pekan setelah muncul tanda-tanda bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin dekat mencapai sebuah kesepakatan yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz. Perkembangan itu membuat kekhawatiran inflasi mereda, setidaknya untuk sementara, dan memberi dorongan bagi harga logam mulia tersebut.
Dalam perdagangan terbaru, emas berada di sekitar US$4.564 per ons. Posisi itu muncul setelah pada Jumat harga emas sempat turun 0,7%. Arah pergerakan ini menunjukkan pasar kembali merespons kabar dari jalur diplomasi Washington dan Teheran, yang kini menjadi perhatian utama pelaku pasar komoditas.
Laporan Bloomberg News yang ditulis Wendy Wells menyebut negosiasi mengenai bahasa final dalam kesepakatan tersebut masih terus berlangsung. Artinya, pembahasan belum benar-benar selesai dan kedua pihak masih perlu menuntaskan rincian yang tersisa sebelum bisa memberikan persetujuan akhir. Menurut pejabat Amerika Serikat yang berbicara kepada wartawan pada Minggu, proses itu kemungkinan masih membutuhkan beberapa hari lagi.
Selat Hormuz kembali menjadi fokus karena jalur tersebut punya peran penting dalam arus perdagangan energi. Ketika muncul prospek bahwa kesepakatan dapat membuka kembali selat itu, pasar langsung membaca sinyal bahwa tekanan yang sebelumnya membayangi bisa berkurang. Dari situ, harga emas ikut bergerak naik karena sentimen yang berkaitan dengan inflasi menjadi lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
Meski demikian, proses menuju kesepakatan itu belum final. Negosiasi atas bahasa akhir masih berjalan, dan belum ada tanda bahwa semua detail sudah beres. Dalam kondisi seperti ini, pasar cenderung mencermati setiap pernyataan baru yang keluar dari Washington maupun Teheran, karena perubahan kecil dalam nada pembicaraan bisa memengaruhi arah harga aset lindung nilai seperti emas.
Presiden Donald Trump juga ikut memberi sinyal bahwa proses itu belum akan dipaksakan. Melalui media sosial, ia mengatakan dirinya tidak akan “terburu-buru” mencapai kesepakatan. Pernyataan itu menegaskan bahwa meski prospek damai antara Amerika Serikat dan Iran makin dekat, jalannya masih bergantung pada pembahasan lanjutan dan persetujuan akhir dari kedua pihak.
Pergerakan emas pada level sekitar US$4.564 per ons memperlihatkan bahwa pasar masih menimbang antara pelemahan sebelumnya dan kabar terbaru soal diplomasi AS-Iran. Di satu sisi, harga sempat terkoreksi 0,7% pada Jumat. Di sisi lain, kabar mengenai kemungkinan kesepakatan yang bisa membuka kembali Selat Hormuz membuat emas kembali menemukan pijakan. Selama negosiasi final masih berlangsung, pasar tampaknya akan tetap sensitif terhadap setiap perkembangan baru dari proses tersebut.
Di tengah kondisi seperti itu, emas tetap dibaca sebagai aset yang menarik saat pasar belum mendapat kepastian penuh. Selama hasil pembicaraan belum jelas, pelaku pasar cenderung menjaga sikap hati-hati dan menunggu arah berikutnya. Situasi ini membuat pergerakan harga emas mudah berubah mengikuti nada kabar diplomasi yang muncul dari waktu ke waktu.
Namun, penguatan emas kali ini juga menunjukkan bahwa pasar tidak hanya melihat hasil akhir, melainkan juga proses yang sedang berjalan. Ketika ada peluang tercapainya kesepakatan, ekspektasi terhadap risiko inflasi ikut menurun. Sebaliknya, bila pembahasan kembali tersendat, kekhawatiran bisa muncul lagi dan memberi ruang bagi emas untuk kembali mendapat dukungan.
Dengan latar seperti itu, arah harga emas dalam waktu dekat tampaknya masih akan sangat ditentukan oleh perkembangan negosiasi. Selama bahasa final kesepakatan belum rampung, setiap pernyataan baru dari pihak terkait berpotensi mengubah sentimen pasar. Karena itu, emas masih berada dalam fase yang sensitif, di mana optimisme dan kehati-hatian berjalan berdampingan.












