jurnalistik.co.id – Kemi Badenoch, pemimpin Konservatif, menilai Andy Burnham sebagai “people pleaser” dan menganggap rencana pemerintahan Perdana Menteri baru itu masih “airy fairy” menjelang ia resmi menjabat pada Senin. Dalam wawancara program Sunday bersama Laura Kuenssberg, Badenoch menyampaikan kritiknya secara langsung.
Menurut Badenoch, Burnham belum menunjukkan pemahaman yang memadai mengenai arah prioritas yang dibutuhkan negara. Ia menegaskan Burnham tidak cukup menyadari “what the country’s priorities are” dan hal itu menjadi kekhawatannya menjelang transisi kekuasaan.
Badenoch juga menyinggung bahwa ia sebenarnya mengenal Burnham. Ia mengatakan Burnham adalah “nice guy” dan tetap menyebutnya sebagai sosok “people pleaser”, namun penilaiannya tidak berubah: persiapan dan penjelasan kebijakan Burnham dinilai belum konkret.
Ia menegaskan, pekerjaan pemerintahan bukan soal popularitas. Badenoch menyampaikan bahwa “The job is not a popularity contest. It is making the lives of all of the people outside this building better.” Dalam sudut pandangnya, Burnham tidak memaparkan langkah yang jelas sehingga ia menilai hal itu masih “airy-fairy stuff.”
Dalam bagian lain, Badenoch menggarisbawahi batas sikap politiknya sendiri. Ia menyatakan, “I will score as many points as possible if it means the right thing for the country,” tetapi menegaskan pula: “What I’m not going to do is give Andy Burnham a blank cheque.”
Ia menilai kebutuhan saat ini adalah kepemimpinan yang mampu mengambil keputusan sulit dan menghadapi penolakan dari internal Partai Buruh. Badenoch menambahkan, “What the country needs right now is someone who can take tough decisions, who can face down the Labour MPs that don’t want to do anything difficult. And that is what worries me.”
Pembahasan soal pidato Burnham sebagai pemimpin Buruh
Berita Terkait
Kritik Badenoch berangkat dari pidato Burnham setelah ia terpilih sebagai pemimpin Partai Buruh. Pada Jumat, Burnham menyampaikan komitmen “significant change” di kantor pusat Trade Union Congress di London. Dalam pidatonya, ia juga menjanjikan “the most significant change moment in our politics for 40 years.”
Badenoch menyebut bahwa Burnham merinci lima janji kepada publik. Ia menyinggung komitmen untuk bekerja sama dengan partai lain, dengan arah yang “distinctively Labour”, serta gagasan memindahkan sebagian kekuasaan dari Westminster ke otoritas lokal.
Namun, Badenoch tidak melihat itu sebagai jawaban yang cukup. Ia mengatakan Burnham tampak berbicara kepada Partai Buruh, bukan kepada negara. Ia mengutip penilaiannya bahwa Burnham adalah “a man who was talking to the Labour Party, not to the country.”
Lebih jauh, Badenoch menilai isi pidato Burnham sarat logika internal partai. Ia menyebut, “It was all Labour this, Labour that, their factions, their issues,” dan menyatakan ketidakyakinannya bahwa Burnham memahami “what the country’s priorities are.” Ia juga menyimpulkan bahwa bila Burnham menjadi perdana menteri tanpa pemahaman itu, ia akan menghadapi “a rude awakening, to use his own words.”
Di sisi lain, Burnham sendiri muncul sebagai kandidat tunggal pemimpin setelah didukung 379 anggota parlemen Partai Buruh serta seluruh 11 serikat pekerja yang terafiliasi dengan partai tersebut. Ia kembali ke parlemen sebulan lalu melalui sebuah pemilihan sela.
Burnham akan menggantikan Sir Keir Starmer sebagai perdana menteri pada Senin, setelah acara penerimaan dengan Raja Charles III. Menjelang pidato perdananya, Badenoch menyoroti bahwa Burnham masih “coy” mengenai siapa yang akan mengisi posisi-posisi utama di kabinet.
Bagi Badenoch, rangkaian janji dan retorika itu belum cukup menjawab kebutuhan masyarakat yang sedang menghadapi keputusan-keputusan sulit. Ia menekankan bahwa ia tidak bermaksud memberi “blank cheque,” dan menganggap negara membutuhkan arah yang tegas serta fokus yang nyata pada prioritas yang dihadapi rakyat.












