jurnalistik.co.id – Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, tercatat mengalami erupsi sebanyak 40 kali pada Selasa (16/6/2026). Pencatatan itu datang dari Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru untuk rentang waktu pukul 00.00–18.00 WIB.
Meski aktivitas gunungapi meningkat, warga di lereng Semeru tetap menggelar tradisi 1 Suro. Di Desa Sumbermujur, Lumajang, upacara pendem sirah lembu juga berlangsung pada Selasa (16/6/2026), disertai momen warga berebut gunungan hasil bumi usai rangkaian acara.
Letusan tersebut terpantau secara visual. Petugas PPGA mencatat kolom abu yang muncul mencapai ketinggian sekitar 500–1.000 meter di atas Kawah Jonggring Saloko.
Dalam keterangan tertulis, petugas PPGA Semeru Mukdas Sofian menyebut adanya waktu letusan yang terpantau jelas. “Terjadi erupsi Gunung Semeru pada hari Selasa, 16 Juni 2026 pukul 10.59 WIB dengan tinggi kolom abu teramati 1.000 meter di atas puncak,” tulis Mukdas Sofian dalam keterangan tertulis, Selasa (16/6/2026).
Status aktivitas dan potensi dampak
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang Isnugroho mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan mengenai dampak erupsi. Ia juga menilai potensi dampak dapat dipengaruhi arah angin yang menghempaskan asap letusan Gunung Semeru.
Isnugroho menjelaskan, “Laporan dampak sementara nihil, belum ada laporan yang masuk, tapi kalau arah anginnya ke barat sepertinya hujan abu terjadi di sekitar Malang.” Pernyataan itu disampaikan dengan mempertimbangkan arah pergerakan asap saat kejadian.
Menurut Isnugroho, status aktivitas vulkanik Gunung Semeru saat ini berada di level III atau Siaga. Dengan kondisi tersebut, intensitas letusan yang dinilai cukup tinggi disebut berisiko memunculkan hujan abu di sekitar lereng Gunung Semeru.
Ia menambahkan bahwa kondisi cuaca juga perlu diwaspadai karena bisa memperbesar risiko lanjutan. “Secara jumlah letusan memang masih tinggi, ini bisa memicu banjir lahar dengan membawa material cukup banyak apabila terjadi hujan deras di sekitar gunung,” jelasnya.
Imbauan keselamatan bagi warga
Isnugroho mengimbau warga untuk tidak melakukan aktivitas di sektor tengara sepanjang Besuk Kobokan. Larangan berlaku sejauh 13 kilometer dari puncak, mengikuti potensi bahaya yang dapat muncul dari aktivitas gunungapi.
Selain itu, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Pembatasan ini diberikan karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 13 kilometer dari puncak.
Imbauan tersebut menjadi perhatian khusus mengingat letusan tercatat tinggi selama rentang pengamatan yang dilaporkan PPGA. Pada saat yang sama, warga tetap menjalankan tradisi 1 Suro di wilayah lereng, sehingga penguatan kewaspadaan dipandang penting agar kegiatan berlangsung tanpa mengabaikan keselamatan.
Meski tradisi dan aktivitas sosial tetap berjalan, indikator pengamatan menunjukkan adanya rangkaian letusan yang terdistribusi dalam hari yang sama. Informasi dari PPGA, termasuk tinggi kolom abu yang mencapai 1.000 meter di atas puncak saat pukul 10.59 WIB, menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk menekankan status Siaga dan antisipasi dampak lanjutan.
Dengan kondisi Gunung Semeru di level III, BPBD mengarahkan kewaspadaan terutama pada potensi hujan abu jika arah angin mendukung penyebaran, serta risiko banjir lahar bila terjadi hujan deras di sekitar gunung. Warga diharapkan tetap mengikuti imbauan pembatasan area berbahaya di sepanjang Besuk Kobokan, sesuai jarak yang telah ditetapkan.
BPBD menegaskan penilaian kesiapsiagaan bertumpu pada keterangan PPGA, termasuk data erupsi yang tercatat pada Selasa (16/6/2026) serta pengamatan ketinggian kolom abu pada rentang waktu pengamatan. Dari dasar itulah pemerintah daerah menganggap hujan abu dan dampak lanjutan tetap perlu diantisipasi.
Dalam pelaksanaan di lapangan, pembatasan area di Besuk Kobokan mencakup larangan aktivitas pada sektor tengara hingga radius 13 kilometer dari puncak, sekaligus pengaturan jarak 500 meter dari tepi sungai. Langkah ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko sebaran asap letusan maupun aliran yang berpotensi membawa material saat kondisi hujan.










