Daerah

Hidden Homeless di Jakarta: Saat Pekerja Miskin Tak Sanggup Menyewa Hunian

×

Hidden Homeless di Jakarta: Saat Pekerja Miskin Tak Sanggup Menyewa Hunian

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Hidden Homeless di Jakarta, Fenomena Pekerja Miskin yang Tak Mampu Sewa Hunian

jurnalistik.co.id – Di Jakarta, tingginya biaya hidup tidak hanya menentukan siapa yang mampu tinggal menetap, tetapi juga menentukan siapa yang akhirnya harus menyiasati malam tanpa rumah. Sebagian pekerja miskin memilih cara hidup berpindah-pindah—dari halte, stasiun, hingga trotoar—karena penghasilannya tidak cukup untuk membayar sewa.

Fenomena ini kerap tidak terlihat dari luar, namun berlangsung hampir setiap hari bagi mereka yang menggantungkan hidup pada pekerjaan bergilir. Aktivitas mereka bisa muncul di siang hari, lalu berubah menjadi upaya bertahan saat malam tiba.

Salah satunya dialami Mukhlis (29), yang sudah hampir setahun menjalani pola hidup nomaden. Ia bekerja menurunkan karung-karung beras dari mobil bak, dengan baju yang basah oleh keringat karena aktivitas yang dimulai sejak pagi.

Menurut Mukhlis, sebelum kondisi seperti sekarang menjadi tetap, ia sempat mengontrak bersama beberapa teman. Namun, kontrakan itu bubar karena tidak ada penghasilan yang benar-benar stabil di antara mereka.

“Hampir setahun. Dulu sempat ngontrak bareng teman-teman. Tapi kontrakan bubar karena masing-masing enggak stabil penghasilannya,” kata Mukhlis saat ditemui Kompas.com, Senin (29/6/2026).

Ia bekerja sebagai buruh bongkar muat, sehingga pendapatan datang mengikuti ada tidaknya pesanan. Saat ada pekerjaan, ia bisa mendapatkan sekitar Rp 100.000 per hari, tetapi jumlah tersebut tidak mampu menutup kebutuhan hidup sekaligus biaya tempat tinggal.

“Kalau saya dapat Rp 100.000 sehari, makan saja bisa habis Rp 50.000 sampai Rp 60.000. Kalau masih bayar kontrakan, habis semua. Jadi saya pilih uangnya buat makan sama kirim sedikit ke anak di kampung,” ujar dia.

Dengan pilihan itu, kenyamanan dasar yang biasanya dianggap remeh menjadi barang yang sulit didapat. Mukhlis pun harus menerima bahwa tempat untuk tidur tidak pernah benar-benar menjadi miliknya sendiri.

Ia mengaku kini kerap tidur di sekitar Pasar Rumput atau dekat stasiun. Lokasinya tidak selalu sama, karena ia menyesuaikan ketersediaan tempat yang memungkinkan untuk beristirahat.

Kadang ia memilih sudut pasar yang sepi agar tidak menarik perhatian. Di saat lain, ia berupaya mendapatkan pelataran yang masih beratap.

Setelah tengah malam, ketika keramaian menurun, barulah ia berani beristirahat. Sebelum subuh, ia sudah bangun lagi untuk memulai rutinitas bekerja.

Mukhlis menyebut keluarganya di kampung tidak mengetahui kondisi sebenarnya. Istrinya baru tahu ia bekerja di Jakarta dan tinggal di kos, sedangkan realitas yang ia jalani lebih berat.

“Enggak sepenuhnya. Istri taunya saya kerja di Jakarta dan ngekos. Saya malu cerita sebenarnya. Masa laki-laki enggak bisa sediain tempat tinggal? Itu berat,” kata dia.

Di lapangan, ia juga tidak selalu bisa mengandalkan satu tempat. Meski sesekali ia diusir petugas, Mukhlis tidak melawan; ia hanya berpindah ke lokasi lain agar tetap bisa melanjutkan hidup.

“Makanya dibilang hidup nomaden , ya benar, pindah terus,” ucap dia.

Kisah serupa juga dialami Eko (29), pekerja serabutan yang sering terlihat di sekitar Stasiun Manggarai. Ia merantau dari Cirebon dua tahun lalu dengan harapan menemukan kehidupan yang lebih baik di Jakarta.

Eko pernah bekerja di sebuah kafe sebelum akhirnya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Setelah kehilangan pekerjaan, tabungannya habis dipakai untuk bertahan, sehingga ia harus kembali mencari kesempatan kerja yang tidak selalu mudah didapat.

“Saya dari Cirebon, merantau ke Jakarta dua tahun lalu. Awalnya kerja di kafe. Setelah kena PHK, tabungan habis buat bertahan. Cari kerja sekarang susah,” kata Eko.

Bagi Eko, pulang ke kampung bukan pilihan yang sederhana. Ia merasakan ada beban psikologis yang besar, terutama ketika kondisi ekonomi tidak kunjung membaik.

Setiap pagi, ia berusaha memulai hari dengan mencari tempat untuk mandi. Ia melakukannya di toilet stasiun atau di masjid, lalu melanjutkan hari dengan berburu pekerjaan.

Setelahnya, Eko mencari lowongan kerja atau mengambil pekerjaan serabutan. Jenis pekerjaan yang ia jalani dapat berubah-ubah, mulai dari mengangkut barang sampai menjadi pengemudi ojek online menggunakan akun temannya.

Dengan pola seperti itu, waktu menjadi semakin ketat antara mencari penghasilan dan mempersiapkan kebutuhan dasar. Saat pekerjaan tidak tersedia, hidup yang ia jalani lebih mudah goyah.

Di tengah situasi itu, hidup nomaden bagi keduanya bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan konsekuensi dari pendapatan yang tidak cukup. Saat sewa rumah tidak terjangkau, tempat untuk berteduh pada malam hari akhirnya bergeser menjadi ruang publik yang bisa ditemukan sementara.

Perpindahan tempat tinggal yang terus berulang menunjukkan persoalan yang lebih luas daripada sekadar kemiskinan individu. Ia memperlihatkan bagaimana kerentanan ekonomi bisa membuat pekerja miskin kehilangan pijakan paling dasar: hak untuk memiliki hunian yang stabil.