Nasional

Idul Adha Versi Muhammadiyah, NU dan Pemerintah: Dalam 17 Tahun Hanya Beda 5 Kali

0
×

Idul Adha Versi Muhammadiyah, NU dan Pemerintah: Dalam 17 Tahun Hanya Beda 5 Kali

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Idul Adha Versi Muhammadiyah, NU-Pemerintah: 17 Tahun Cuma Beda 5 Kali

jurnalistik.co.id – Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan pemerintah pada tahun ini kembali merayakan Idul Adha secara bersamaan. Kesamaan itu jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026, sehingga umat Islam di Indonesia kembali menjalani hari raya besar ini pada waktu yang sama.

Dalam catatan 17 tahun terakhir, perayaan Idul Adha versi Muhammadiyah, NU, dan pemerintah ternyata lebih sering beririsan daripada berbeda. Sepanjang periode itu, perbedaan hanya terjadi lima kali, sementara pada tahun-tahun lainnya tanggal perayaannya sama.

Data tersebut menunjukkan bahwa perbedaan waktu Idul Adha bukanlah sesuatu yang terjadi setiap tahun. Justru, dalam rentang yang cukup panjang, kesamaan hari raya jauh lebih dominan dan menjadi pola yang paling sering muncul.

Perbedaan yang sesekali muncul biasanya berkaitan dengan dasar perhitungan yang digunakan masing-masing pihak. Muhammadiyah memakai metode hisab untuk menentukan awal bulan qamariyah, sedangkan NU menggunakan metode rukyat.

Dua pendekatan itu menjadi salah satu kunci mengapa hasil penetapan bisa berbeda pada tahun-tahun tertentu. Meski begitu, dalam banyak kesempatan, hasil akhirnya tetap sama sehingga Idul Adha dirayakan serentak oleh masyarakat.

Di Indonesia, momen ketika Muhammadiyah, NU, dan pemerintah satu tanggal dalam merayakan Idul Adha memang kerap menjadi perhatian publik. Bukan hanya karena berkaitan dengan jadwal ibadah, tetapi juga karena menunjukkan bahwa perbedaan metode tidak selalu berujung pada perbedaan hari raya.

Selama 17 tahun terakhir, fakta bahwa perbedaan hanya tercatat lima kali memperlihatkan bahwa kesamaan penetapan tanggal lebih sering terjadi. Artinya, dalam rentang itu, umat Islam di Indonesia lebih banyak merayakan Idul Adha secara bersamaan dibandingkan terpisah.

Kondisi seperti ini juga menjadi pengingat bahwa perbedaan metode penentuan awal bulan qamariyah tetap berjalan berdampingan dengan hasil yang pada banyak tahun justru sejalan. Hisab dan rukyat sama-sama menjadi rujukan, namun hasilnya tidak selalu berseberangan.

Pada tahun ini, kesamaan jadwal Idul Adha kembali terasa penting karena menjadi titik temu di tengah keberagaman pendekatan yang digunakan. Muhammadiyah, NU, dan pemerintah sama-sama berada pada tanggal yang sama, yakni besok, Rabu, 27 Mei 2026.

Dalam konteks publik, momen ini juga menggarisbawahi bahwa perayaan hari besar keagamaan di Indonesia kerap menemukan titik temu. Walaupun perbedaan bisa muncul, pada banyak kesempatan hasil akhirnya tetap sama dan memberi ruang bagi umat untuk merayakan Idul Adha secara serempak.

Dengan catatan bahwa selama 17 tahun hanya lima kali berbeda, pola itu menunjukkan kecenderungan yang relatif konsisten. Kesamaan jadwal yang terjadi tahun ini pun menambah daftar panjang Idul Adha yang dirayakan bersama oleh Muhammadiyah, NU, dan pemerintah.

Karena itu, perayaan Idul Adha tahun ini bukan sekadar soal tanggal yang sama. Lebih dari itu, ia juga menjadi contoh bahwa perbedaan metode penetapan awal bulan qamariyah tidak selalu menghasilkan perbedaan dalam pelaksanaan hari raya.

Di tengah dinamika penentuan kalender hijriah, fakta bahwa kesamaan lebih sering terjadi dibanding perbedaan menjadi poin yang menonjol. Dari 17 tahun pengamatan itu, hanya lima kali perayaan Idul Adha tidak jatuh pada hari yang sama, sedangkan pada tahun-tahun lain hasilnya seragam.

Itulah sebabnya, Idul Adha versi Muhammadiyah, NU, dan pemerintah pada tahun ini kembali menjadi momen kebersamaan. Meski dasar perhitungannya berbeda, hasil akhirnya tetap bertemu pada hari yang sama.

Dengan pola seperti itu, tahun ini kembali tampak bahwa keserentakan pelaksanaan Idul Adha bukan hal yang kebetulan semata, melainkan bagian dari kecenderungan yang memang berulang. Karena itu, perayaan yang jatuh pada tanggal yang sama dapat dibaca sebagai kelanjutan dari pola lama yang lebih sering mempertemukan daripada memisahkan.

Di sisi lain, kondisi ini juga menegaskan bahwa perbedaan metode penetapan tidak otomatis memunculkan perbedaan hasil. Pada banyak tahun, jalur yang ditempuh Muhammadiyah, NU, dan pemerintah tetap berujung pada satu tanggal yang sama, sehingga umat Islam di Indonesia dapat merayakan Idul Adha secara bersama-sama.