Internasional

Geoff Kitchen Meninggal Serangan Jantung setelah Pesawat Singapore Airlines Terkena Turbulensi, Sidang Inquest Ungkap

×

Geoff Kitchen Meninggal Serangan Jantung setelah Pesawat Singapore Airlines Terkena Turbulensi, Sidang Inquest Ungkap

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Singapore Airlines passenger died of cardiac arrest after turbulence, inquest told

jurnalistik.co.id – Geoff Kitchen, pria asal Thornbury, South Gloucestershire, dinyatakan meninggal setelah insiden turbulensi hebat di dalam pesawat Singapore Airlines rute London Heathrow menuju Singapura pada 21 Mei 2024. Dalam sidang inquest, tim medis dan pejabat koroner menyimpulkan bahwa kondisi medis Kitchen berperan, sementara turbulensi menjadi pemicu langsung yang mendahului serangan jantung fatal.

Kitchen, yang berusia 73 tahun, sedang berada di Boeing 777 ketika pesawat mengalami penurunan ketinggian secara tiba-tiba di area barat daya Myanmar. Setelah kejadian tersebut, penerbangan kemudian dialihkan ke Bangkok, Thailand, dan ia dinyatakan meninggal di sana.

Asisten koroner Avon, Dr Peter Harrowing, menyampaikan bahwa ia merasa yakin keterkaitan sebab-akibat terjadi melalui efek fisiologis dari turbulensi terhadap tubuh Kitchen. Ia mengatakan, “I am satisfied that it was the physiological effect of the aircraft turbulence which precipitated the cardiac arrest and ultimately Geoff’s demise.”

Pembahasan di persidangan juga menyebut adanya dampak fisik lain selama turbulensi. Dr Harrowing menyatakan Kitchen memiliki riwayat penyakit arteri koroner, dan saat insiden terjadi ia juga “thrown from his seat and landed on an adjacent passenger”.

Turbulensi, CPR, hingga kabar duka dua hari kemudian

Kitchen diketahui merupakan pensiunan profesional asuransi. Ia terbang dari Heathrow bersama istrinya, Linda, untuk liburan enam pekan yang rencananya mencakup Singapura, Indonesia, dan Australia.

Dalam pernyataan yang dibacakan dalam inquest, Linda menceritakan suaminya tengah mendengarkan sebuah podcast sebelum pesawat mengalami “huge drop or lunge”. Ia mengatakan ia mulai berteriak dan merasakan “incredible pain” ketika Kitchen menekannya ke sisi, yang kemudian menyebabkan cedera pada punggungnya.

Linda juga mengalami luka di kepala dan menyebut kondisinya “bleeding profusely”. Setelah kejadian, Kitchen dipindahkan ke bagian depan pesawat untuk dilakukan CPR, namun Linda menyampaikan bahwa ia baru mengetahui Kitchen telah meninggal dua hari kemudian.

Menurut keterangan Linda, ia mengalami fraktur pada tulang belakang. Ia menjalani perawatan di rumah sakit selama 10 hari, sebelum kemudian diangkut kembali ke Bristol, lalu kembali menjalani perawatan selama satu minggu berikutnya.

Dalam tahap awal, otopsi yang dilakukan di Thailand menyatakan Kitchen meninggal karena gagal jantung kongestif. Sidang juga mengingatkan bahwa Kitchen pernah menjalani operasi pemasangan stent untuk arteri koroner kanan pada April 2019.

Meski demikian, pemeriksaan lanjutan pada Oktober 2019 memperlihatkan bahwa Kitchen kembali ke kapasitas latihan normal. Hal ini didasarkan pada pernyataan dari dokter umum yang menyertai Kitchen, sebelum ia akhirnya wafat setelah turbulensi pada penerbangan SQ321.

Untuk pemeriksaan tambahan, Dr Edward Sheffield melakukan otopsi di Bristol. Ia menyampaikan bahwa penyebab kematian Kitchen adalah kegagalan jantung yang berkaitan dengan coronary artery atheroma serta efek fisiologis dari turbulensi.

Rangkaian waktu penerbangan dan dampak cedera penumpang

Laporan insiden yang dibacakan sebagian dalam persidangan menyebutkan bahwa turbulensi menimbulkan banyak korban. Disebutkan 56 orang mengalami cedera serius, 23 orang mengalami cedera ringan, dan satu orang—Kitchen—meninggal dunia.

Dalam laporan tersebut, pesawat disebut sedang jelajah pada ketinggian 37.000 kaki (11.277,6 meter) ketika mendekati pantai barat wilayah Myanmar bagian barat daya. Pada pukul 07:49 GMT, pesawat melewati sebuah waypoint ketika mengalami turbulensi hebat, lalu pada 07:53 keadaan kembali stabil.

Awak pesawat melaporkan turbulensi hebat dan melakukan panggilan Mayday pada pukul 08:01 dengan permintaan untuk mengalihkan rute ke Bangkok. Pesawat mendarat di Bangkok pada pukul 08:45 dan kemudian ditemui oleh petugas medis.

Linda juga mengungkap bahwa ia baru mendapatkan kabar duka dua hari setelah kejadian. Ia kemudian mengajukan langkah hukum dengan menggugat Singapore Airlines di High Court bulan lalu, dengan tuntutan kompensasi agar ia dapat mengakses dukungan spesialis untuk cedera punggungnya.

Dalam konteks yang sama, kepala Singapore Airlines, Goh Choon Phong, sebelumnya telah menyampaikan permohonan maaf atas “traumatic experience” bagi penumpang di dalam penerbangan SQ321. Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Kitchen.

Melalui kuasa hukumnya, Irwin Mitchell, Linda menyatakan kematian suaminya “absolutely devastating” bagi dirinya, dua anak mereka, serta empat cucu. Ia mengatakan, “Losing Geoff was a crushing blow to the whole family as we all thought he would be around to see his grandchildren grow up,”

Sidang tersebut turut mencatat bahwa Singapore Airlines telah dihubungi untuk memberikan tanggapan, namun rincian jawaban resmi tidak dijabarkan dalam materi yang dibacakan di persidangan.