Internasional

Iran Tuduh AS dan Israel Ingin Gulingkan Republik Islam

1
×

Iran Tuduh AS dan Israel Ingin Gulingkan Republik Islam

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Intelijen Iran Blak-blakan Ungkap Tujuan 'Busuk' AS dan Israel

jurnalistik.co.id – Teheran kembali menuding Amerika Serikat dan Israel masih menjalankan agenda untuk melemahkan Republik Islam Iran, kali ini bukan lewat perang terbuka, melainkan melalui tekanan ekonomi, operasi nonmiliter, dan dugaan penyelundupan berbagai perangkat yang dinilai berbahaya oleh pemerintah Iran.

Kementerian Intelijen Iran mengatakan kedua negara itu tetap memiliki tujuan untuk menggulingkan Republik Islam Iran dan memecah belah negara tersebut. Dalam pernyataan yang dikutip AFP, kementerian menyebut upaya itu kini bergeser ke cara-cara lain setelah menurut mereka gagal dicapai lewat serangan militer langsung.

“Musuh kini mengejar melalui cara lain tujuan menggulingkan dan memecah belah negara, yang secara terbuka mereka nyatakan di awal perang baru-baru ini namun gagal dicapai melalui serangan militer,” demikian isi pernyataan yang dirilis Rabu (27/5/2026).

Pernyataan tersebut menambah panjang daftar tuduhan Iran terhadap Washington dan Tel Aviv di tengah hubungan yang sudah lama memburuk. Bagi Teheran, tekanan tidak lagi hanya berbentuk ancaman militer, tetapi juga menyasar kondisi internal melalui jalur ekonomi dan logistik yang dianggap bisa mengganggu stabilitas negara.

Intelijen Iran mengaku menerima informasi bahwa Israel dan AS akan berupaya meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Dalam pandangan mereka, tekanan semacam itu merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk terus menekan republik Islam tersebut setelah pendekatan militer tidak menghasilkan tujuan yang diinginkan.

Selain soal tekanan ekonomi, Iran juga menuding adanya rencana penyelundupan besar-besaran senjata, amunisi, dan perangkat komunikasi ilegal. Di antara perangkat yang disebut adalah Starlink, layanan internet satelit yang dinilai Iran dapat dipakai untuk memberi akses internet melalui jalur yang tidak bisa dikendalikan otoritas domestik.

Isu Starlink menjadi salah satu sorotan utama dalam pernyataan itu. Bagi Iran, penggunaan perangkat komunikasi ilegal semacam itu bukan sekadar pelanggaran teknis, melainkan bagian dari upaya yang lebih besar untuk membuka jalur komunikasi di luar kontrol negara. Tuduhan ini juga menegaskan kekhawatiran Teheran terhadap perangkat yang dapat digunakan untuk mempertahankan konektivitas di tengah pembatasan yang ada.

Perang bayangan yang sudah berlangsung lama

Selama beberapa dekade, Iran dan Israel terlibat dalam perang bayangan yang melibatkan berbagai operasi sabotase. Bentuknya antara lain serangan terhadap fasilitas nuklir Iran dan pembunuhan ilmuwan, dua hal yang berulang kali menjadi sumber ketegangan di kawasan.

Menurut laporan itu, dinamika tersebut berlangsung jauh sebelum perang 12 hari tahun lalu. Konflik tersebut disebut sebagai konfrontasi berkelanjutan pertama antara dua musuh bebuyutan itu, setelah sebelumnya terjadi serangan balasan sporadis pada 2024 yang tidak berkembang menjadi perang terbuka.

Rangkaian peristiwa itu menunjukkan bahwa permusuhan antara Iran dan Israel tidak berdiri pada satu insiden saja, melainkan telah terakumulasi dalam bentuk aksi dan balasan yang berlangsung lama. Dalam konteks itu, tuduhan terbaru dari Kementerian Intelijen Iran memperlihatkan bahwa Teheran masih memandang AS dan Israel sebagai aktor yang berusaha melemahkan negaranya dari berbagai arah.

Iran sendiri tidak mengakui Israel dan tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara tersebut. Posisi itu membuat setiap ketegangan baru di antara keduanya selalu dibaca dalam bingkai permusuhan yang sudah mengakar, bukan sekadar perselisihan sementara.

Di sisi lain, pernyataan terbaru ini juga menegaskan bahwa Iran masih melihat ancaman utama bukan hanya pada medan tempur, tetapi pada cara-cara lain yang dinilai lebih senyap. Dari tekanan ekonomi hingga dugaan penyelundupan perangkat komunikasi, Teheran memosisikan isu keamanan nasional sebagai sesuatu yang terus berada dalam ancaman.

AFP melaporkan, tuduhan itu disampaikan saat Iran menilai lawan-lawannya tidak lagi mengandalkan pendekatan yang sama seperti sebelumnya. Dengan kata lain, ketika serangan militer dinilai tidak mencapai sasaran, jalur nonmiliter dianggap sebagai instrumen lanjutan untuk menekan Iran secara politik, ekonomi, dan sosial.

Pernyataan Kementerian Intelijen Iran pun menjadi sinyal bahwa hubungan dengan AS dan Israel masih jauh dari mereda. Alih-alih menurun, kecurigaan Teheran justru tampak menguat dengan munculnya tuduhan baru mengenai strategi, tekanan ekonomi, dan peredaran perangkat yang dianggap bisa dimanfaatkan untuk melemahkan kontrol negara.