jurnalistik.co.id – Menjelang tahun ajaran baru 2026/2027, Pasar Jatinegara di Jakarta Timur mulai ramai didatangi orangtua yang memburu kebutuhan sekolah. Meski sejumlah perlengkapan dan seragam mengalami kenaikan harga, aktivitas belanja tetap berlangsung untuk memenuhi kebutuhan anak.
Dalam pantauan di lokasi, para pembeli terlihat menargetkan barang-barang kebutuhan dasar yang akan dipakai selama semester berjalan. Santi, salah satu pembeli, mengaku datang untuk mencari perlengkapan sekolah seperti tempat pensil dan krayon, sambil menilai harga di periode ini ikut bergerak naik.
“Iya, mau masuk sekolah nyari perlengkapan sekolah, tempat pensil, krayon, kayak begitu saja sih, tapi ini agak naik harga-harganya,” ucap Santi saat ditemui di Pasar Jatinegara, Senin (16/6/2026).
Santi mengatakan ia sempat membandingkan harga perlengkapan sekolah di sejumlah toko. Namun, karena kenaikan harga dinilai cukup tinggi, ia memilih berbelanja di Pasar Jatinegara sebagai opsi yang lebih sesuai dengan anggaran.
“Untuk harga, buat kalangan menengah ke bawah sih ya lumayan ya. Memilih belanja di sini karena harganya lebih miring dari pasar yang lain,” kata Santi.
Selain mempertimbangkan harga, Santi juga menyebut kelengkapan barang yang tersedia menjadi alasan lain ia tetap memilih lokasi tersebut. Di tengah perubahan harga, faktor ketersediaan produk membuat orangtua cenderung mencari semua kebutuhan di satu tempat.
Kenaikan seragam dan pembelian lebih awal
Hal serupa dirasakan Aminah, pembeli seragam sekolah di Pasar Jatinegara. Ia menyebut harga seragam sekolah ikut naik dan mengaitkannya dengan kondisi harga kebutuhan sehari-hari yang juga bergerak lebih mahal.
“Tahun ajaran baru, ya. Kebetulan anak saya mau masuk SMA. Naik ya mungkin menyesuaikan harga-harga bahan pokok juga ya. Karena keadaan yang sekarang kan ya pada naik semuanya. BBM naik jadi semuanya naik, termasuk seragam juga naik,” kata Aminah.
Aminah memilih membeli lebih awal karena ia khawatir waktu pembelian yang semakin mepet akan membuat kondisi pasar menjadi lebih padat. Ia juga menyesuaikan jadwalnya dengan waktu kerja, sehingga kesempatan berbelanja seragam lebih banyak tersedia saat hari libur.
“Karena kami kerja, jadi untuk kesempatan membeli seragam itu di hari libur. Kebetulan biasanya Toko Bulan itu kalau bulan Juni, Juli, kalau mepet takut ramai,” ungkapnya.
Pedagang melaporkan penurunan jumlah pembeli
Di sisi lain, pedagang buku, alat tulis, dan seragam sekolah di Pasar Jatinegara mengeluhkan adanya penurunan jumlah pembeli menjelang tahun ajaran baru 2026/2027. Mereka menilai perubahan harga turut memengaruhi daya beli masyarakat.
Salah satu pedagang buku, Arel Rahmanda, mengatakan bahwa pada periode yang sama tahun ini penjualannya turun sekitar 60 persen dibandingkan tahun lalu. Menurutnya, penurunan tersebut terkait kenaikan harga barang.
“Kalau secara penjualan lebih menurun sih, karena harga barang naik. Enggak kayak tahun lalu begitu. Tahun lalu kan harga masih standar lah, masih bisa lah. Kalau sekarang agak menurun,” kata Arel saat ditemui di Pasar Jatinegara, Selasa (16/6/2026).
Dengan demikian, suasana menjelang tahun ajaran baru di Pasar Jatinegara menunjukkan dua kondisi yang berjalan bersamaan: orangtua tetap berburu perlengkapan dan seragam, sementara sebagian pedagang menghadapi penurunan transaksi dibanding periode sebelumnya. Di tengah kenaikan harga, keputusan pembelian terlihat dipengaruhi oleh perbandingan harga, kelengkapan barang, serta pertimbangan waktu agar belanja tidak semakin ramai.
Dalam situasi harga yang bergerak naik, orangtua tampak lebih selektif saat menentukan tempat belanja. Sebelum memutuskan, mereka membandingkan harga di beberapa toko, lalu memilih berbelanja di Pasar Jatinegara karena dinilai lebih sesuai dengan batas anggaran yang dimiliki.
Bagi para pedagang, perubahan ini terlihat dari perbedaan alur transaksi dibanding periode sebelumnya. Arel Rahmanda menilai penurunan penjualan terjadi karena harga barang yang meningkat, sehingga minat belanja tidak sekuat tahun lalu. Kondisi tersebut membuat situasi pasar menjelang tahun ajaran baru terasa lebih kontras: pembeli tetap mencari perlengkapan dan seragam, sementara jumlah pembeli yang datang ke kios pedagang buku, alat tulis, dan seragam berkurang.










