jurnalistik.co.id – PT Kereta Api Indonesia (KAI) akhirnya memberikan tanggapan atas dugaan pemblokiran akun Instagram media lokal Purworejonya.id yang disebut mengkritik sikap perusahaan terkait wafatnya masinis legendaris Slamet Suradio. KAI menegaskan tidak pernah memblokir akun pelanggan maupun pihak yang menyampaikan kritik, dan menyebut terbuka terhadap masukan dari masyarakat.
Dalam balasan pesan yang diterima Kompas.com, akun layanan pelanggan KAI menyampaikan penolakan atas tudingan tersebut secara langsung. “Selamat malam Kak, Mohon maaf Kak. Kami tidak pernah memblokir akun pelanggan PT KAI. Dikarenakan kami menerima dengan terbuka untuk kritik dan saran yang disampaikan oleh pelanggan. Tks,” tulis akun layanan pelanggan KAI dalam pesan balasannya.
Pernyataan itu muncul setelah akun Instagram @purworejonya.id mengunggah kritik mengenai tidak adanya ucapan belasungkawa maupun kehadiran perwakilan perusahaan pelat merah tersebut saat pemakaman Slamet Suradio. Dalam unggahan itu, media lokal tersebut menyoroti absennya respons resmi KAI ketika jenazah Slamet dimakamkan di kampung halamannya di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Slamet Suradio sendiri dikenal sebagai mantan masinis yang terlibat dalam Tragedi Bintaro pada 1987. Dalam unggahan berjudul “Hallo KAI! Jangankan Melayat, Ucapan Duka Pun Nggak Ada!”, Purworejonya.id menilai KAI tidak menunjukkan ucapan belasungkawa maupun kehadiran perwakilan resmi untuk memberikan penghormatan terakhir.
Tak lama setelah unggahan tersebut ramai diperbincangkan, admin Purworejonya.id, Ade Nugroho, mengaku tidak lagi dapat melihat unggahan akun Instagram @kai121_. Kondisi itu memunculkan dugaan bahwa akun media yang disebut memiliki lebih dari 100 ribu pengikut tersebut telah diblokir oleh KAI.
“Masak setelah aku posting soal Mbah Slamet Suradio Bintaro akun saya gak bisa lihat postingan KAI,” ujar Ade. Ia juga menyebut sudah mencoba membuka akun tersebut berulang kali, tetapi tetap tidak muncul di layar.
“Sudah tak coba sampai 4 kali tetap gak kelihatan postingannya,” kata Ade. Unggahan lanjutan itu kemudian bernada sindiran, yang menyinggung kemungkinan admin KAI merasa tersinggung atau “baper” atas kritik yang disampaikan media tersebut.
Dugaan pemblokiran itu dengan cepat memantik respons warganet. Sejumlah pengguna media sosial ikut menandai akun resmi KAI dan meminta perusahaan memberi klarifikasi terkait persoalan yang sedang ramai dibicarakan tersebut. Isu ini pun meluas karena dianggap menyangkut cara KAI merespons kritik publik setelah wafatnya sosok yang dikenal dalam sejarah Tragedi Bintaro.
Di tengah sorotan tersebut, KAI memilih memberi jawaban singkat namun tegas. Perusahaan menyatakan tidak melakukan pemblokiran terhadap akun pelanggan, dan kembali menegaskan bahwa pihaknya menerima kritik serta saran yang disampaikan masyarakat. Dengan demikian, KAI membantah tudingan yang sebelumnya berkembang di media sosial.
Sebelumnya, unggahan Purworejonya.id telah memicu percakapan di berbagai platform karena menyentuh isu empati institusi besar terhadap tokoh yang memiliki sejarah panjang bersama dunia perkeretaapian. Namun, berdasarkan pernyataan resmi yang diterima Kompas.com, KAI menolak asumsi bahwa akun media lokal itu sengaja diblokir sebagai bentuk respons atas kritik yang mereka sampaikan.
Dalam konteks percakapan di media sosial, polemik ini memperlihatkan bagaimana respons perusahaan terhadap kritik publik dapat dengan cepat menjadi perhatian luas. Perdebatan tidak lagi hanya berkutat pada dugaan pemblokiran akun, tetapi juga pada kesan yang ditangkap warganet soal sejauh mana sebuah institusi besar dianggap peka terhadap peristiwa yang menyangkut tokoh dengan riwayat panjang di dunia perkeretaapian. Karena itu, klarifikasi singkat dari KAI menjadi penting untuk meredam kesalahpahaman yang terlanjur menyebar.
Meski begitu, sorotan terhadap unggahan Purworejonya.id menunjukkan bahwa isu ini sudah lebih dulu membentuk opini di ruang digital. Respons publik yang ikut menandai akun resmi KAI memperkuat perhatian terhadap pernyataan media lokal tersebut, sementara bantahan dari KAI menjadi upaya untuk menegaskan posisi perusahaan di tengah ramainya tudingan. Hingga titik ini, yang tampak jelas adalah adanya benturan persepsi antara kritik yang disampaikan di media sosial dan penjelasan resmi yang diberikan perusahaan.










