jurnalistik.co.id – Andy Burnham akan segera memulai tugas sebagai Perdana Menteri Inggris setelah masa transisi kepemimpinan Partai Buruh rampung. Ia mengambil alih sebagai pemimpin Partai Buruh menyusul kemenangan di internal partai, menggantikan Sir Keir Starmer, dan proses serah-terima menuju kabinet pemerintahan baru berlangsung pada Senin.
Burnham memastikan tongkat estafet itu bukan terjadi pada hari yang sama. Ia sudah menjadi pemimpin Partai Buruh pada Jumat, tetapi gelar perdana menteri akan baru resmi diemban pada Senin, tiga hari setelahnya.
Langkah awal pada Senin dimulai ketika Sir Keir menemui Raja Charles untuk secara formal menyampaikan pengunduran diri sebagai perdana menteri. Setelah pengunduran diri itu diserahkan, Raja Charles kemudian bertemu dengan Burnham dan memintanya untuk membentuk pemerintahan.
Begitu Burnham menerima permintaan tersebut, ia akan diumumkan secara resmi sebagai perdana menteri Inggris. Pertemuan-pertemuan ini biasanya berlangsung di Istana Buckingham.
Usai rangkaian pertemuan di istana, Burnham akan menuju Downing Street. Ia juga diperkirakan akan menyampaikan pidato di luar No 10.
Dalam kesempatan saat ia mengukuhkan status barunya sebagai pemimpin Partai Buruh, Burnham berjanji untuk “bring back hope”. Kalimat itu menandai nada perubahan yang ingin ia tonjolkan dalam kepemimpinan berikutnya.
Peralihan cepat: dari pemimpin partai menuju PM
Dalam struktur politik Inggris, perdana menteri tidak dipilih langsung oleh rakyat. Perdana menteri pada dasarnya adalah pemimpin partai yang memiliki jumlah anggota parlemen terbanyak di House of Commons. Karena mekanisme ini, perubahan perdana menteri dapat terjadi tanpa pemilu langsung—sebuah pola yang, menurut laporan BBC, makin sering terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Burnham juga dapat memanggil pemilihan umum ketika ia resmi menjabat, namun ia tampaknya telah menyingkirkan opsi tersebut.
Dinamika yang membawa Burnham ke puncak
Keberhasilan Partai Buruh meraih kemenangan pemilu legislatif dua tahun lalu membawa Sir Keir Starmer ke kursi perdana menteri. Namun, dukungan publik mulai melemah dalam hitungan minggu setelah Starmer memasuki Downing Street, dipicu oleh serangkaian langkah kebijakan yang dinilai tidak tepat serta rangkaian “U-turn”.
Tekanan politik di dalam parlemen partai memuncak ketika pada bulan Mei, Reform UK menyapu bersih hasil pemilihan lokal. Banyak anggota parlemen Partai Buruh kemudian khawatir bahwa pemimpin Reform UK, Nigel Farage, bisa menjadi penentu pada pemilihan umum berikutnya.
Burnham memang sudah lama mengincar posisi pemimpin Partai Buruh, tetapi ia hanya bisa menantang dari statusnya sebagai anggota parlemen yang sedang menjabat. Satu bulan terakhir sebelum penentuan internal, ia kembali ke parlemen melalui sebuah pemilihan sela.
Kemenangan Burnham di pemilihan sela itu atas kandidat Reform diyakini meyakinkan banyak anggota parlemen Partai Buruh bahwa ia adalah sosok yang tepat untuk menggantikan Sir Keir. Akibatnya, dukungan terhadap Burnham datang dari figur-figur senior partai, termasuk mantan menteri kesehatan Wes Streeting yang meninggalkan rencana pencalonan pemimpin serta memilih bergabung dalam arus dukungan terhadap Burnham.
Dengan situasi tersebut, Burnham menjadi pemimpin Partai Buruh tanpa perlu melalui kontestasi penuh.
Kerangka kebijakan: yang dipertahankan dan yang mulai disusun
Burnham menyatakan ia akan tetap bertumpu pada kebijakan yang membuat Partai Buruh terpilih pada 2024. Salah satu poin utama yang disebut adalah tidak menaikkan tarif pajak utama: income tax, VAT, serta National Insurance.
Namun, ia juga mulai menguraikan rencana yang memiliki penekanan sendiri. Salah satu prioritasnya adalah memberikan lebih banyak kekuasaan kepada dewan dan otoritas di luar parlemen.
Ide tersebut akan diwujudkan melalui pemberian kontrol yang lebih besar pada bidang-bidang seperti perumahan dan transportasi. Dalam kaitan itu, Burnham menginginkan terbentuknya tim tambahan No 10 yang berkedudukan lebih dari 150 mil di utara London, berbasis di Manchester.
Di sisi lain, ia juga memberi petunjuk mengenai arah kebijakan terkait kesejahteraan, perawatan sosial, imigrasi, dan pertahanan. Ia bahkan menyiratkan kemungkinan penerapan wealth tax.
Meski demikian, laporan yang sama menegaskan bahwa dalam banyak area, rincian kebijakan spesifik belum diumumkan secara utuh.
Susunan kabinet: fokus perebutan peran-peran kunci
Berita Terkait
Untuk menjalankan pemerintahan, Burnham perlu menetapkan sejumlah peran inti di kabinet, termasuk chancellor, home secretary, dan foreign secretary. Proses diskusi tampak sedang berlangsung, tetapi hingga saat ini belum ada nama anggota kabinet yang dikonfirmasi.
Keberagaman sayap di dalam Partai Buruh dan kebutuhan menjaga keseimbangan gender menjadi faktor yang selalu berperan saat pembagian jabatan kabinet dilakukan.
Menurut laporan tersebut, alih tugas di No 10 tidak sepenuhnya dimulai dari nol. Burnham telah menunjuk James Purnell—sahabat dekat dan sekutu—ke posisi penting chief of staff, sebuah peran “ruang belakang” yang strategis.
Selain itu, Louise Haigh, mantan menteri transportasi yang memimpin kampanye pemilihan sela Burnham, dipandang berpotensi mendapatkan peran sebagai menteri dalam operasi Downing Street.
Namun, perhatian paling intens tertuju pada siapa yang akan ditunjuk sebagai chancellor untuk menggantikan Rachel Reeves. Ed Miliband, yang menjabat sebagai Energy Secretary, sempat lama dianggap kandidat terkuat.
Seiring berjalannya waktu, Home Secretary Shabana Mahmood kemudian muncul sebagai figur terdepan dalam bursa jabatan tersebut.
Keluarga Burnham
Burnham menikah dengan Marie-France van Heel. Mereka bertemu saat menjadi mahasiswa di Fitzwilliam College, University of Cambridge, pada 1989.
Keduanya telah bersama selama lebih dari 30 tahun, dan menikah pada awal 2000-an. Van Heel bekerja di bidang marketing dan strategi selama bertahun-tahun, termasuk untuk Sky. Ia juga ikut terlibat dalam desain logo untuk BBC dan England Rugby.
Pasangan ini memiliki tiga anak: Jimmy, Rosie, dan Annie.
Jejak karier sebelum menjadi perdana menteri
Burnham lahir di Liverpool pada 1970 dan dibesarkan di Cheshire. Ia dikenal sebagai penggemar Everton dan memiliki ketertarikan kuat pada dunia olahraga.
Ia belajar English di University of Cambridge. Kariernya dimulai dari dunia jurnalisme sebelum memasuki politik pada usia awal dua puluhan.
Burnham pertama kali menjadi anggota parlemen pada tahun 2001. Ia kemudian menempati sejumlah peran dalam pemerintahan mantan perdana menteri Gordon Brown, sebelum akhirnya tidak lagi menjadi anggota parlemen pada 2017.
Selama periode itu, Burnham dua kali mencalonkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh dan gagal pada kedua kesempatan. Perjalanan politiknya kemudian berlanjut melalui peran sebagai mayor Greater Manchester sejak 2017 sampai bulan lalu.
Selama menjabat sebagai mayor, Burnham mendapat pujian atas kontribusinya dalam upaya mengubah sistem transportasi di wilayah tersebut, serta membangun reputasi kuat sebagai suara bagi kawasan Inggris bagian utara.
Dalam narasi politiknya, Burnham kerap digambarkan sebagai sosok yang “berangkat dari utara” untuk berujung ke No 10—namun kenaikan posisinya juga dipandang sebagai proses panjang yang telah dirintis selama puluhan tahun.
Sinyal dari pemimpin dunia
Reaksi dari pemimpin internasional terhadap naiknya Burnham disebut tidak terlalu ramai. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, belum banyak memberikan komentar, tetapi menyampaikan bahwa ia “extremely liberal”. Trump dan Burnham berada di sisi yang berseberangan dalam spektrum politik.
Dalam konteks hubungan internasional, Rusia menyatakan pihaknya tidak mengantisipasi perubahan atas hubungan yang selama ini buruk dengan Inggris ketika Burnham memegang kendali. Laporan yang sama mengaitkan dinamika terbaru kedua negara dengan dukungan Inggris terhadap Ukraina serta sikap Rusia yang dianggap bermusuhan terhadap Inggris.
Di Ukraina sendiri, muncul kekhawatiran tentang risiko instabilitas politik di Inggris. Sir Keir Starmer menyatakan dukungan Inggris “will not waver” ketika perdana menteri baru mengambil alih.
Sementara itu, dalam satu-satunya wawancara yang diberikan oleh pejabat Prancis terkait Burnham, Menteri Luar Negeri Jean-Noël Barrot menyampaikan harapan dan ucapan selamat, serta berharap Inggris bisa mendapatkan “as much stability as possible”.












