Peristiwa

Karhutla Meluas di Banyuasin dan OKI, BPBD Sumsel Kerahkan 4 Helikopter Water Bombing untuk Memadamkan Api

×

Karhutla Meluas di Banyuasin dan OKI, BPBD Sumsel Kerahkan 4 Helikopter Water Bombing untuk Memadamkan Api

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Karhutla Meluas di Banyuasin dan OKI, 4 Helikopter Water Bombing Dikerahkan Padamkan Api

jurnalistik.co.id – BPBD Sumatera Selatan melanjutkan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin. Insiden yang dilaporkan sudah berlangsung beberapa hari terakhir itu kini dilaporkan semakin meluas hingga mencapai sekitar delapan hektare.

Demi mengendalikan titik api, BPBD Sumsel menurunkan empat helikopter pembom air atau water bombing. Langkah ini dilakukan karena fokus pemadaman masih belum sepenuhnya berakhir dan di lokasi kejadian masih teramati asap.

Operasi pemadaman di Banyuasin

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, menyampaikan bahwa proses pemadaman lanjutan terus dilakukan di wilayah Rantau Bayur, Banyuasin. Ia menyebutkan, “Pemadaman lanjutan di wilayah Rantau Bayur, Banyuasin, masih terus dilakukan. Per kemarin, lahan yang terbakar kian meluas hingga mencapai delapan hektare. Empat helikopter dikerahkan untuk pemadaman,” katanya di Palembang, Rabu (29/7/2026).

Dalam tahapan penanganan, empat helikopter yang dikerahkan menjalankan penerbangan secara intensif untuk menjatuhkan air ke titik-titik yang masih menyala. Sudirman juga menjelaskan capaian hingga Selasa (28/7/2026), yakni enam sorti penerbangan, dengan total 206 kali water bombing, serta area terdampak yang mencapai sekitar delapan hektare.

Sementara itu, meski penanganan telah dilakukan secara masif, kebakaran belum berhasil dipadamkan secara tuntas. Hingga akhir pemadaman pada sore hari Selasa, kondisi di lapangan masih menunjukkan adanya asap yang keluar dari lahan terbakar, sehingga upaya dilanjutkan pada hari berikutnya.

Dampak bagi warga sekitar

Menurut Sudirman, karhutla tidak hanya menimbulkan gangguan terhadap lingkungan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat di sekitar lokasi. Asap yang timbul dapat menyebabkan gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Sudirman juga menyatakan bahwa lahan yang terbakar merupakan perkebunan milik perorangan, bukan perusahaan. Ia mengatakan, “Informasinya lahan perkebunan yang terbakar milik perorangan, bukan perusahaan. Kita mengkhawatirkan asap dari karhutla itu dapat mengganggu kesehatan warga,” ujarnya.

Penanganan di OKI

Selain menangani kasus di Banyuasin, BPBD Sumsel juga menangani karhutla di wilayah lain, yakni Kecamatan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Di lokasi tersebut, satu helikopter water bombing dikerahkan untuk membantu proses pemadaman.

Pihak BPBD menyebut luas lahan yang terbakar di OKI diperkirakan mencapai sekitar 0,5 hektare. Sudirman menjelaskan bahwa helikopter yang dikerahkan telah melakukan 46 kali water bombing selama operasi berlangsung.

Upaya pemadaman berlangsung bertahap karena titik api yang masih menyala tidak sepenuhnya padam setelah beberapa hari penanganan. Karena itu, penerjangan pemadaman tidak berhenti pada satu tahap, melainkan dilanjutkan dengan fokus menekan area yang masih mengeluarkan asap agar penyebaran tidak bertambah luas.

Pada periode hingga Selasa (28/7/2026), BPBD Sumsel mencatat proses pemadaman dilakukan melalui penerbangan intensif dengan beberapa kali sorti. Dari catatan tersebut, terdapat enam sorti yang menghasilkan total 206 kali water bombing, sehingga penurunan air dapat menjangkau titik-titik yang masih berasap dan membutuhkan suplai air secara berulang.

Selain menggangu aktivitas di sekitar lokasi, asap yang muncul akibat karhutla juga dapat menimbulkan keluhan kesehatan, khususnya pada warga yang lebih rentan. Sudirman menyebut kelompok seperti anak-anak dan lansia berpotensi lebih terdampak, karena gangguan pernapasan dapat muncul seiring paparan asap di lingkungan sekitar.

BPBD juga menegaskan bahwa area yang terbakar di wilayah Rantau Bayur merupakan perkebunan milik perorangan, bukan perusahaan. Karena itu, pengendalian karhutla dipandang perlu dilakukan secara serius untuk meminimalkan risiko lanjutan terhadap warga sekitar, sambil tetap melanjutkan operasi di lokasi lain yang juga terdampak.

Dalam penanganan yang berjalan paralel, BPBD Sumsel turut menangani karhutla di Kecamatan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Di wilayah tersebut, satu helikopter water bombing dikerahkan dan operasi mencatat water bombing sebanyak 46 kali, dengan luas lahan yang diperkirakan mencapai sekitar 0,5 hektare.